Apa yang muncul dalam benak anda ketika tahu tanggal 31 agustus kemarin adalah hari jadi ke-125 Lombok Timur ? Banyak dari kita yang perlu memeras pikiran untuk bisa menemukan sesuatu dari momentum itu. Persoalannya adalah tidak ada sesuatu yang muncul dalam benak kita; entah memang karena kita tidak memperhatikan Lombok Timur dan lain seterusnya. Beda halnya dengan mereka yang konsentrasi Lombok Timur, Ketua DPRD Lombok Timur misalnya, Murnan, S.Pd., beliau mengatakan dalam momentum kemarin “Lotim yang sejahtera dan berkeadilan, cukup tua umurnya. Ukurannya : ada peningkatan pendapatan masyarakat, IPM yg lebih baik, pertumbuhan ekonomi yg terus tumbuh, angka kesenjangan antara miskin dan kaya kecil, pemerataan pembangunan, tingkat pengangguran kecil”–akun resmi dari pemda tertulis “Tangguh Maju Bersama”. Dalam kesempatan kemarin, Bupati Lombok Timur mengajak hadirin yang hadir dalam tasyakkuran Lotim ke-125 untuk bersama menyelesaikan masalah Lombok Timur setelah menandatangani beberapa MOU.
Apa yang dikatakan baik oleh ketua DPRD maupun Pemda adalah ekspresi atas kondisi Lombok Timur yang belum terealisasi dan perlu diperbaiki, karena kondisi bicara apa adanya dengan diam, manusia yang menjadi jubirnya.
Berbeda dengan kita yang memang tidak konsentrasi Lombok Timur–nalar pemerintah dan rakyat tentu berbeda–pemerintah konsen membantu rakyat meskipun kadang oknum pemerintah membantu dirinya lebih banyak daripada rakyat. Sedang rakyat konsen bagaimana supaya akses kemudahan serta ketenangan lahir dan batin.
Sehingga harapanlah yang pasti dalam nalar rakyat dalam momentum hari jadi Lombok Timur. Harapan tersebut tetap menyala dalam sanubari rakyat karena memang struktur negara di semua level baik pusat maupun daerah berimplikasi pasti memunculkan harapan. Sistem demokrasi lahir karena itu–dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat. Kondisi ini menuntut kesadaran ruang serta kesadaran ontologi demokrasi–memang terkesan terlalu ideal; realitas demokrasi kita jauh dari kata ideal, praktik demokrasi menunjukkan ketidaksiapan, sehingga demokrasi memang masih menjadi konsep yang belum bisa diaplikasikan secara total, bisa dibilang masih dominan demokrasi formalitas. Tidak aneh kemudian filusuf besar Yunani, Plato tak menyukai demokrasi dalam ruang yang tidak tepat.
Hanya akan menimbulkan masalah lain dan menjauhkan idealisasi demokrasi.
Namun demokrasi sudah diputuskan, segala resiko harus dihadapi. Baik pemerintah dan rakyat sudah merasakan betul bagaimana ketidak idealan praktik demokrasi; banyak oknum pemerintah kemudian fokus mengembalikan uang mereka ketika menjabat–bahkan menyiapkan pencalonan berikutnya. Kondisinya menuntut money politic–membeli suara rakyat–begitulah kondisi rakyat; permasalahan ekonomi, pengetahuan, akses kerja, sumber daya yang belum baik dan lain seterusnya sehingga praktik itu terjadi.
Siapa yang akan memperbaiki kondisi ini ? Rakyat bukanlah opsi baik dalam hal ini. Meminta rakyat untuk idealis bukanlah permintaan baik jika melihat kondisi rakyat kebanyakan. Harus ada pengorbanan besar dari pemerintah yang menjabat; mengutamakan perbaikan kondisi rakyat demi alam demokrasi yang lebih baik di masa depan dan mengorbankan uang yang digunakan dalam mencapai jabatan. Jabatan benar-benar menjadi medium perubahan sosial yang lebih baik sebagaimana Islam dan Filsafat menyebutnya.
Apa yang dikatakan dan diharapkan oleh ketua DPRD maupun Pemda adalah bagian dari harapan itu; berharap pemerintah memaksimalkan fungsi menghadirkan banyak kebaikan dalam kehidupan masyarakat, tereksplorasinya sumber daya yang kita miliki untuk menghadirkan kebermanfaatan yang lebih besar, terjadinya perbaikan sumber daya manusia yang lebih baik, tercapainya kehidupan masyarakat yang sejahtera, mendapatkan akses kemudahan, terciptanya atmosfir Lombok Timur yang nyaman ditinggali dengan segala kelebihannya dan lain seterusnya.
Harapan-harapan ini universal ada di setiap rakyat Lombok Timur. Momentum hari jadi kemudian harus menjadi momentum kesyukuran atas ikhtiar yang sudah dilakukan, melihat segala pencapaian dalam setahun serta memastikan kita optimis menjadi kabupaten yang lebih baik dengan segala pencapaian yang ada dan merupakan infrastruktur untuk menjemput hal lain di masa depan





