Pendidikan, Islam & Pekerjaan

banner post atas

oleh Zulkarnaen

Mungkin anda termasuk orang yang berpikir bahwa pendidikan atau tolabul ilm nantinya harus ikhlas dalam mengamalkan ilmunya–bahasa pendidikannya kompetensi. Saya termasuk orang tersebut. Kajian tolabul ilm atau pendidikan yang saya akses di lembaga pendidikan yang konsen kajiannya produk pengetahuan Islam klasik menguatkan apa yang disampaikan oleh tuan guru semasa waktu kecil saya, bahkan sampai sekarang kita bisa menemukan penjelasan semacam itu.

Sehingga dalam waktu yang cukup lama, untuk banyak orang, seperti saya tak pernah memikirkan pekerjaan semasa menjalani pendidikan–saya tak pernah berpikir bahwa pendidikan adalah investasi masa depan yang lebih baik–selama ini, hidup bagi saya adalah apa yang di depan saya yang harus dijalani sebaik mungkin dan hari ini lebih baik daripada hari kemarin. Banyak referensi kitab klasik yang mengatakan masa depan sebagai sesuatu yang gho’ib, begitupun dengan masa lalu.

Iklan

Bahkan berangan-anganpun bisa jadi tidak boleh sebagaimana disebut dalam kitab klasik. Lagi diperkuat dengan qoul-qoul para sahabat, misalnya adalah dunia adalah tempat beramal. Kesemuanya ini mengerucut pada keharusan untuk menyibukkan diri pada hal-hal asketis. Tidak aneh kemudian orang tua saya dan banyak orang melihat agama an-sich soal perkara akhirat–soal ibadah.

Respon pembaharu di Lombok semisal Hamzanwadi kemudian sangat wajar terlebih tahun-tahun beliau hidup–sampai hari ini saya masih bertemu dengan orang-orang yang berpikir semacam itu–agama hanya soal akhirat termasuk pendidikan dan kerja. Anda bisa cek, banyak orang berpikir bahwa ilmu dalam islam terbagi menjadi dua, ilmu dunia dan ilmu agama. Baru saya sadar, banyak dari orang sekitar saya berpikir semacam sekulerisme–memisahkan agama dengan bentuk kehidupan sosial. Agama hanya dilihat sebagai sesuatu yang privasi dan tidak ikut urusan kehidupan sosial termasuk pendidikan dan kerja.

BACA JUGA  Prof Agustitin: MEM'ANAI KEHIDUPAN

Pikiran seperti ini sebagaimana saya sebut di awal, saya akses di pikiran Islam klasik. Saya tak bermaksud menyebut pikiran ulama’ terdahulu tidak baik. Setiap pikiran bagi saya adalah respon terhadap sebuah setting-social. Karena yang berubah adalah setting-social. Anda bisa cek perubahan sosial yang disebabkan oleh revolusi industri 4.0. Ada banyak hal yang dahulunya tidak pernah dibahas oleh ulama’ karena ketidakadaannya, kemudian itu dibahas zaman ini oleh generasi ulama’ hari ini. Termasuk soal pendidikan dan pekerjaan.

Pendidikan sebagaimana umum diketahui bahwa ia terkena dampak dari usaha globalisasi–liberalisasi pendidikan menjadi bukti dari hal tersebut. Selain itu, pendidikan dalam abad terakhir memang dalam rangka menjawab kebutuhan pasar–pendidikan telah lama berorientasi pada pasar kerja. Namun ini bukanlah hal yang jauh dari maksud pendidikan sebelum masehi dahulu–orang Yunani menyebutnya memanusiakan manusia. Pekerjaan itu soal hidup, begitupun dengan memanusiakan manusia adalah soal hidup. Dua hal tersebut masih dalam koridor maksud pendidikan sejak ia muncul di galaxi ini.

Dalam Islam menjaga kehidupan termasuk dari maqosid syari’ah–tujuan adanya syariat di dunia ini. Bekerja dalam hal ini menjadi hal yang mendekati hukum wajib dalam Islam. Sehingga tidak ada sama sekali masalah ketika kita berpikir pendidikan untuk kerja. Semua ummat Islam diwajibkan untuk membangun nilai diri, kualitas diri, investasi masa depan dalam rangka hidup lebih baik dan tentunya beribadah dengan skala yang lebih besar.