Masalah salaman, do’a dan lafadz niat dalam zakat fitrah ||edisi ke-27 1443 H

Masalah salaman, do’a dan lafadz niat dalam zakat fitrah ||edisi ke-27 1443 H

Serah terima Zakat di berbagai tempat memiliki perbedaan yang sangat mencolok, sehingga perbedaan tersebut membuat orang awam yang tidak begitu faham terhadap hukum zakat kebingungan dan menimbulkan sebuah pertanyaan “model zakat seperti apa yang benar”. Satu tempat ada yang dengan bersalaman ketika menyerahkan zakat fitrahnya, dan di tempat yang lain ada yang tidak memakai salaman.

Sebenarnya bukan sekedar salaman, ada juga setelah menerima zakat fitrah, yang menerima zakat tersebut mendoakan orang yang berzakat. Sedangkan di sebagian tempat tidak didoakan. Apakah yang tidak didoakan zakat fitrahnya tetap sah ?.

Satu lagi model penyerahan zakat fitrah yang berbeda disekitar kita yaitu ; ada yang tidak mengucapkan (melafazkan) niat ketika serah terima zakat fitrah dan ada juga yang menggunakan lafadz niat dengan menggunakan bahasa Arab. Apakah perbedaan ini berpengaruh terhadap sah tidaknya zakat fitrah?.

Marilah kita mencoba mengurai permasalahan di atas satu demi satu, supaya lebih mudah difahami.

Pertama, masalah bersalaman ketika serah-terima zakat fitrah. Bersalaman ketika serah-terima zakat fitrah bukan bagian dari rukun zakat fitrah. Bersalaman lebih kepada simbol serah terima yang sudah membudaya di masyarakat Indonesia. Artinya, tidak bersalaman ketika serah-terima zakat fitrah, itu tidak menyebabkan zakat fitrah menjadi batal.

Serah-terima zakat fitrah dengan salaman juga menggambarkan simbol tanda penyerahan kepemilikan. Dengan adanya salaman, berarti sudah terjadi pemindahan kepemilikan kepada yang menerimanya. Gambarannya adalah seperti jabat tangan yang ada pada akad nikah atau akad jual beli yang biasanya disepakati dengan simbol jabat tangan.

Kedua, masalah mendoakan orang yang memberikan zakat fitrah. Berdoa adalah hal baik yang sangat dianjurkan, baik itu mendoakan diri sendiri ataupun mendoakan sesama muslim. Lebih lagi mendoakan orang yang telah berbuat baik kepada kita, tentu akan lebih bagus untuk dilakukan.

Adapun diantara do’a yang sering digunakan bagi yang menerima zakat fitrah adalah sebagai berikut :

ﺁﺟَﺮَﻙ ﺍﻟﻠﻪُ ﻓِﻴْﻤَﺎ ﺍَﻋْﻄَﻴْﺖَ، ﻭَﺑَﺎﺭَﻙَ ﻓِﻴْﻤَﺎ ﺍَﺑْﻘَﻴْﺖَ ﻭَﺟَﻌَﻠَﻪُ ﻟَﻚَ ﻃَﻬُﻮْﺭًﺍ

Latin :
Âjarakallâhu fî mâ a’thaita wa bâraka fî mâ abqaita wa ja’alahu laka thahûran

Artinya, “Semoga Allah memberikan pahala atas apa yang engkau berikan, dan semoga Allah memberikan berkah atas hartamu yang masih ada, dan semoga Allah menjadikannya sebagai pembersih bagimu.”

Ketiga, masalah mengucapkan (melafazkan) niat. Niat adalah bagian terpenting dalam zakat fitrah. Apabila niatnya salah maka secara otomatis zakat fitrahnya tidak sah. Misalnya si Fulan mengeluarkan hartanya pada malam hari raya I’dul Fitri, dalam mengeluarkan hartanya dia berniat menyantuni si Anu. Maka harta yang diberikan kepada si Anu tidak terhitung sebagai zakat fitrah, melainkan sebagai sedekah biasa.

Begitu pentingnya niat dalam zakat fitrah, sehingga dalam pelaksanaannya dia harus benar-benar diperhatikan, supaya fitrahnya menjadi sah.

Lalu apakah dalam berniat itu harus dilafalkan niatnya ?. Niat itu letaknya didalam hati. Ketika terbersit di dalam hati seseorang ada keinginan mengeluarkan zakat fitrah, maka itu sudah mencukupi. Adapun melafazdkan niat tujuannya adalah untuk menguatkan niat yang ada didalam hati. Penguatan atau penegasan niat didalam hati itu penting, apalagi bila mengingat bahwa manusia itu bersifat lupa. Bisa saja awalnya berniat zakat fitrah, tetapi karena berbagai hal membuat niatnya berbelok kepada niat yang lain. Misalnya si Fulan di rumahnya sudah berniat akan mengeluarkan zakat fitrah, ditengah perjalanannya menuju ke tempat zakat fitrah dia melihat orang yang sedang sakit dan butuh bantuan, sehingga muncul rasa kasihan dalam hatinya dan ingin memberikan sesuatu kepada orang tersebut. Ketika selesai memberikan sesuatu kepada orang tersebut diapun melanjutkan perjalanannya. Ditengah perjalanan dia baru ingat lagi tujuannya untuk mengeluarkan zakat fitrah, diapun berkata “kenapa tidak kepada orang tadi saja saya berzakat fitrah”.

Pada kasus diatas, sudah jelas sekali, bahwa bantuan yang diberikan tadi terhitung sedekah biasa bukan zakat fitrah, karena niat zakatnya telah terlupakan dan digantikan oleh niat kasihan ingin menolong. Itulah sebabnya diperlukan lafadz niat ketika serah terima zakat fitrah, untuk menguatkan niat yang ada di dalam hati. Lafadz niat zakat fitrah tidak mesti dengan bahasa Arab. Dengan bahasa apapun boleh yang penting bisa difahami.

Adapun diantara contoh lafadz niat adalah sebagai berikut :

Lafadz Niat Zakat Fitrah untuk Diri Sendiri

ﻧَﻮَﻳْﺖُ أَﻥْ أُﺧْﺮِﺝَ ﺯَﻛَﺎﺓَ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِ ﻋَﻦْ ﻧَﻔْسيْ ﻓَﺮْﺿًﺎ ِﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ

Latin :
Nawaitu an ukhrija zakâtal fithri ‘an nafsî fardhan lillâhi ta’âlâ

Artinya, “Aku niat mengeluarkan zakat fitrah untuk diriku sendiri, fardu karena Allah Ta‘âlâ.”

Lafadz Niat Zakat Fitrah untuk Istri

ﻧَﻮَﻳْﺖُ ﺃَﻥْ ﺃُﺧْﺮِﺝَ ﺯَﻛَﺎﺓَ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِﻋَﻦْ ﺯَﻭْﺟَﺘِﻲْ ﻓَﺮْﺿًﺎ ِﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ

Latin :
Nawaitu an ukhrija zakâtal fithri ‘an zaujatî fardhan lillâhi ta’âlâ

Artinya, “Aku niat mengeluarkan zakat fitrah untuk istriku, fardu karena Allah Ta‘âlâ.”

Lafdz Niat Zakat Fitrah untuk Anak Laki-laki

ﻧَﻮَﻳْﺖُ ﺃَﻥْ ﺃُﺧْﺮِﺝَ ﺯَﻛَﺎﺓَ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِ ﻋَﻦْ ﻭَﻟَﺪِﻱْ … ﻓَﺮْﺿًﺎ ِﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ

Latin :
Nawaitu an ukhrija zakâtal fithri ‘an waladî (sebutkan namanya) fardhan lillâhi ta’âlâ

Artinya, “Aku niat mengeluarkan zakat fitrah untuk anak laki-lakiku… (sebutkan namanya), fardu karena Allah Ta‘âlâ.”

Lafadz Niat Zakat Fitrah untuk Anak Perempuan

ﻧَﻮَﻳْﺖُ ﺃَﻥْ ﺃُﺧْﺮِﺝَ ﺯَﻛَﺎﺓَ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِﻋَﻦْ ﺑِﻨْﺘِﻲْ … ﻓَﺮْﺿًﺎ ِﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ

Latin :
Nawaitu an ukhrija zakâtal fithri ‘an bintî (sebutkan namanya) fardhan lillâhi ta’âlâ

Artinya, “Aku niat mengeluarkan zakat fitrah untuk anak perempuanku… (sebutkan namanya), fardu karena Allah Ta‘âlâ.”

Lafadz Niat Zakat Fitrah untuk Diri Sendiri dan Keluarga

ﻧَﻮَﻳْﺖُ ﺃَﻥْ ﺃُﺧْﺮِﺝَ ﺯَﻛَﺎﺓَ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِﻋَنِّيْ ﻭَﻋَﻦْ ﺟَﻤِﻴْﻊِ ﻣَﺎ تَلْزَﻣُنِيْ ﻧَﻔَﻘَﺎﺗُﻬُﻢْ ﺷَﺮْﻋًﺎ ﻓَﺮْﺿًﺎ ِﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ

Latin :
Nawaitu an ukhrija zakâtal fithri ‘annî wa ‘an jamî’i mâ talzamunî nafaqâtuhum fardhan lillâhi ta’âlâ

Artinya, “Aku niat mengeluarkan zakat fitrah untuk diriku dan seluruh orang yang nafkahnya menjadi tanggunganku, fardu karena Allah Ta‘âlâ.”

Lafadz Niat Zakat Fitrah untuk Orang yang Diwakilkan

ﻧَﻮَﻳْﺖُ ﺃَﻥْ ﺃُﺧْﺮِﺝَ ﺯَﻛَﺎﺓَ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِ ﻋَﻦْ (..…) ﻓَﺮْﺿًﺎ ِﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ

Latin :
Nawaitu an ukhrija zakâtal fithri ‘an (sebut nama) fardhan lillâhi ta’âlâ

Artinya, “Aku niat mengeluarkan zakat fitrah untuk….(sebut namanya), fardu karena Allah Ta‘âlâ.”

Demikianlah penjelasan sederhana terhadap tiga perbedaan yang sering ada di tengah masyarakat dalam hal serah terima zakat fitrah.

Wallahu A’lam

Fath

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA