Khutbah Jumat Edisi, 4 September 2026 : Rezeki Halal Membawa Berkah, Rezeki Haram Membawa Musibah

Khutbah Jumat Edisi, 4 September 2026 : Rezeki Halal Membawa Berkah, Rezeki Haram Membawa Musibah

Khutbah Jumat Edisi, 4 September 2026 : Rezeki Halal Membawa Berkah, Rezeki Haram Membawa Musibah

Khotbah Pertama

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُونَ رَحِمَكُمُ اللَّهُ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,

Alhamdulillah, puji dan syukur senantiasa kita panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pada hari yang penuh barokah ini, kita kembali dipertemukan di rumah-rumah Allah untuk menunaikan kewajiban agung, salat Jumat secara berjemaah.

Salawat serta salam semoga tercurah limpahkan kepada junjungan kita, Nabi Besar Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, beserta keluarga, sahabat, dan umatnya hingga akhir zaman. Semoga kelak kita mendapatkan syafaat beliau di Yaumil Akhir. Amin ya rabbal ‘alamin.

Sidang Jumat yang berbahagia,

Melalui mimbar yang mulia ini, khatib senantiasa berwasiat kepada diri khatib pribadi dan kepada jemaah sekalian, marilah kita terus meningkatkan kualitas ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jalankan segala perintah-Nya dengan ikhlas, dan jauhi segala larangan-Nya dengan penuh rasa takut dan cinta kepada-Nya.

Adapun tema khotbah kita pada siang hari ini adalah: “Rezeki yang Halal Membawa Keberkahan.”

Kaum muslimin yang dirahmati Allah,

Kita semua tahu bahwa setiap manusia membutuhkan rezeki untuk menyambung hidup dan memenuhi kebutuhan duniawi. Namun di dalam Islam, cara pandang kita terhadap rezeki tidak boleh disamakan dengan pandangan materi semata. Rezeki bukanlah sekadar seberapa banyak yang kita kumpulkan, melainkan bagaimana cara kita mendapatkannya dan bagaimana cara kita membelanjakannya.

Tidak boleh seorang hamba mencari rezeki dengan cara yang haram, lalu mengharapkan keberkahan dari sedekahnya. Begitu pula sebaliknya, mencari rezeki dengan cara yang halal, tetapi justru dihamburkan untuk maksiat dan hal-hal yang diharamkan Allah. Semua itu kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Islam tidak pernah melarang umatnya untuk menjadi kaya raya. Silakan kita memiliki kekayaan yang melimpah, menjadi orang terkaya di muka bumi ini. Akan tetapi, jadikanlah harta itu sebagai jembatan untuk menyempurnakan ibadah kepada Allah, membantu sesama, menegakkan agama Allah, dan menyebarkan kebaikan hingga Islam terus jaya sampai hari kiamat tiba.

Hadirin jemaah salat Jumat yang dirahmati Allah,

Banyak di antara kita yang melihat orang-orang mencari harta dengan cara yang batil dan haram. Awalnya, mereka terlihat hebat, terhormat, dan bergelimang kemewahan. Namun lihatlah akhir hayat atau ujung perjalanan mereka! Harta yang dibanggakan itu ternyata tidak menyisakan ketenangan, melainkan kehancuran.

Banyak yang terserang penyakit parah—seperti stroke, gagal ginjal, jantung koroner—sehingga harta yang melimpah itu tidak bisa dinikmati sedikit pun. Tidak sedikit pula yang berujung di balik jeruji besi karena terbukti melakukan korupsi atau kecurangan. Harta yang awalnya disangka membawa kebahagiaan, justru menjelma menjadi malapetaka dan penderitaan sepanjang hidup.

Lebih mengerikan lagi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan kita melalui sabdanya:

«يَا كَعْبُ بْنَ عُجْرَةَ، إِنَّهُ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ لَحْمٌ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ، النَّارُ أَوْلَى بِهِ»

“Wahai Ka’ab bin Ujrah, sesungguhnya tidak akan masuk surga daging yang tumbuh dari sesuatu yang haram, neraka lebih utama baginya.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Ibnu Hibban)

Bayangkan, hadirin sekalian! Harta haram yang dimakan akan berubah menjadi darah, daging, dan energi di dalam tubuh kita. Ketika tubuh ini digerakkan oleh sesuatu yang haram, maka ia akan mengundang murka Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan tempat yang paling pantas bagi tubuh yang dikenyangkan oleh harta haram adalah neraka.

Jamaah kaum muslimin rahimakumullah,

Oleh karena itu, jadilah pribadi yang selektif. Jangan biarkan ambisi dan keserakahan membutakan mata hati kita. Ingatlah kisah Qarun. Harta bendanya begitu melimpah, sampai-sampai kunci-kunci gudang hartanya harus dipikul oleh sekelompok orang yang kuat. Namun, karena keserakahannya, enggan berbagi, dan sombong di hadapan Nabi Musa alaihissalam, Allah benamkan Qarun bersama seluruh istana dan harta bendanya ke dalam perut bumi. Saking hinanya, tidak ada satu pun makhluk di dunia ini yang ingin menamai anaknya dengan nama Qarun.

Kemuliaan kita di sisi Allah bukanlah dinilai dari seberapa banyak harta kita, bukan pula dari jabatan tinggi kita, melainkan dari ketakwaan di dalam dada kita. Hanya orang-orang bertakwa yang mampu menjaga hartanya, mencarinya dengan cara yang halal, dan membelanjakannya di jalan yang dirida-Nya.

Janganlah kita tergesa-gesa ingin kaya tapi menghalalkan segala cara. Ingatlah watak dasar manusia: jika diberi satu ladang emas, ia akan meminta ladang emas yang kedua. Jika diberi dua, ia akan meminta yang ketiga. Begitulah ketamakan manusia, hingga akhirnya kematian menghentikan segalanya. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Surat At-Takasur ayat 1–2:

أَلْهَكُمُ التَّكَاثُرُ ۝ حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.” (QS. At-Takasur: 1–2)

Mari kita renungkan. Harta yang kita kumpulkan akan ditinggalkan, dan kita akan masuk ke dalam kubur yang sempit seorang diri.

Carilah rezeki yang halal walau sedikit. Rezeki yang halal, meskipun jumlahnya sedikit, akan mendatangkan keberkahan. Ia enak dimakan, menenangkan hati, menjadi energi untuk beribadah, dan melahirkan keturunan yang saleh. Itulah sebaik-baiknya keadaan di dunia dan akhirat.

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

Khotbah Kedua

الْخُطْبَةُ الثَّانِيَةُ

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُونَ رَحِمَكُمُ اللَّهُ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَاعْلَمُوا أَنَّ طَلَبَ الرِّزْقِ الْحَلَالِ فَرِيضَةٌ بَعْدَ الْفَرَائِضِ.

عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ الشَّرْعَ الْحَكِيمَ حَثَّنَا عَلَى تَحَرِّي الْحَلَالِ فِي الْمَطْعَمِ وَالْمَشْرَبِ وَالْمَكْسَبِ. فَاحْذَرُوا -رَحِمَكُمُ اللَّهُ- الْكَسْبَ الْحَرَامَ وَالشُّبُهَاتِ، فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا. وَاعْلَمُوا أَنَّ الرِّزْقَ الْحَلَالَ -وَإِنْ قَلَّ- يُبَارِكُ اللَّهُ فِيهِ، وَيَجْعَلُهُ سَبَبًا لِلطُّمَأْنِينَةِ وَالسَّعَادَةِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلَّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ أَغْنِنَا بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَبِطَاعَتِكَ عَنْ مَعْصِيَتِكَ، وَبِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ. وَأَقِمِ الصَّلَاةَ.

Jakarta, 21 Rabiul Awal 1448 H/3 September 2026 M

DATA PENULIS

  • Nama: Marolah Abu Akrom, S.Ag, MM (Ust. Amrullah)

  • Profesi: Jurnalis Sinar5News.com & Guru BK (SMP NW/Lab Jakarta)

  • Dakwah: Khatib Jum’at DKI Jakarta & Bekasi, Penulis Naskah Khutbah Nasional.

  • Spesialisasi: Penggagas Metode Al Akrom (5 Jam Bisa Baca Al-Qur’an) & Pengajar Tahsin/Tafsir.

  • Karya: Penulis 25 buku & Pencipta 12 album lagu religi.

  • Media: YouTube: Abu Akrom Channel & SinarLIMA TV

  • Kontak: 0878-8727-0732

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA