Kita Belum Mu’min, Masih Muslim Oleh : Zulkarnaen

banner post atas

Ada sebuah cerita dari syeikh Mutawalli Sya’rowi. Ia pernah ditanya oleh seorang orientalis soal ayat Al Quran yang menjelaskan Islam tak akan dikuasai oleh orang kafir. Orientalis tersebut mempertanyakan bagaimana menjelaskan ayat itu. Kurang lebih, orientalis itu mengatakan bagaimana menjelaskan ayat ini, sedang Islam tengah dikuasi oleh non muslim. Syeikh Mutawalli Sya’rowi menjawab pertanyaan itu kurang lebih, beliau mengatakan bahwa coba perhatikan kata yang digunakan. Ayat tersebut menggunakan kata mu’min bukan muslim. Syeikh Sya’rawi menjelaskan bahwa yang dikuasai saat ini adalah muslim.

Lalu beliau menjelaskan kata mu’min dan kata muslim setelah ditanya perbedaan mu’min dengan muslim. Dalam hal ini, ada orang yang mengaku Islam, namun ia belum mu’min. Hal ini koheren dengan apa yang diceritakan oleh Al Quran tentang adanya orang muslim namun belum mu’min.

Di dalam kajian ke-Islam-an, anda akan menemukan 3 istilah fundamental. Pertama adalah Islam. Kedua, Iman dan ketiga adalah Ihsan. Ketiga hal tersebut merupakan tingkatan-tingkatan. Dan Ihsan-lah yang paling tinggi. Seperti dijelaskan oleh Dr. Fahmi Zarkasyi bahwa dalam posisi Ihsan, seorang muslim bertindak dengan kesadaran tuhan. Di sinilah tuhan menjadi panca indra manusia. Oleh karena itu, Islam atau dalam hal ini menjadi muslim merupakan tingkatan paling bawah. Itu disebabkan karena seorang muslim beragama pada level ritual atau level syariat saja.

Iklan

Seorang muslim melakukan kewajiban ritualnya dan selesai di situ. Sedang seorang mu’min melaksanakan kewajiban ritualnya sebagai konsekuensi menjadi seorang muslim dan mengamalkan ajaran Islam. Sehingga seorang mu’min pasti orang baik-bermanfaat dan melakukan ibadah-ibadah ritualnya.

Syeikh Syaqib Arsalan, seorang ulama’ dari Turki dalam bukunya, “kenapa Islam mundur, yang lainnya maju?”, menyebut penyebab Islam mundur disebabkan karena ummat Islam tidak mu’min, tidak mengamalkan ajarannya sendiri. Bahkan ada yang lebih kasar daripada mengatakan tidak mengamalkan, yaitu ummat Islam meninggalkan ajarannya. Menjadi mu’min berarti menghidupkan ajaran Islam dalam kehidupan. Di sinilah ummat Islam tak akan dikuasai oleh orang kafir selama mereka mengamalkan ajaran Islam.

BACA JUGA  Reformasi Taman Pendidikan Qur’an. Oleh: Zulkarnaen

Meminjam istilah Dr. Fahmi Zarkasyi dalam bukunya, Minhaj, bahwa seorang mu’min adalah seorang muslim yang beragama pada level intelektual, ia paham betul bahwa ibadah ritual mengajarkan ajaran sosial. Ia paham bahwa sholat berjama’ah (sosial) lebih utama dibanding sholat sendiri. Pada level inilah seorang muslim melaksanakan ritual kewajibannya, mengilmui agamanya dan menghidupkan ajarannya Islam.

Menurut Dr. Fahmi juga bahwa ummat Islam terbagi menjadi tiga. Pertama, mereka yang melaksanakan ritual, namun tak melaksanakan ajaran Islam dan tak mengurus Islam. Kedua, mereka melaksanakan ritual, mengamalkan ajaran Islam dan ikut mengurus Islam. Ketiga, mereka tidak melakukan ritual, tak mengamalkan ajaran dan tak peduli ke Islam. Dan yang paling sedikit adalah nomor dua, mereka yang mu’min. Hal ini disampaikan beliau ketika membedah buku Minhaj pada 07 agustus 2020 lalu.

Sedang Ihsan atau muhsin dalam hal ini adalah level berikutnya setelah level mu’min. Seperti disebut di atas bahwa pada level ini seorang muslim menjalani kehidupannya dengan kesadaran tuhan. Istilah ini akan kita bahas dalam tulisan lain. Tentu tulisan ini terlalu singkat untuk menjelaskan istilah Islam dan Iman. Namun sebenarnya bukan ini fokusnya, tapi masih soal kemunduran Islam, masih terkait dengan tulisan penulis sebelumnya.