Jangan Ngaku Wanita Karier Kalau Belum Baca Ini

Jangan Ngaku Wanita Karier Kalau Belum Baca Ini

Oleh : Muhammad Sahri

Mahasiswa Al-Aqidah Al-Hasyimiyyah Jakarta

Wanita karir dari berbagai sumber yaitu seorang wanita yang menjadikan karir atau pekerjaanya secara serius perempuan yang memiliki karir atau yang menganggap kehidupan kerjanya secara serius (mengalahkan sisi kehidupan yang lain), ataupun bisa disebut dengan wanita yang mampu mengelola hidupnya secara menyenangkan atau memuaskan baik dalam kehidupan propesional (pekerjaan di kantor) maupun di dalam membina rumah tangganya.

Menurut Imam Asy-Syar’wi Rahimahullah ditanya tentang perempuan (seorang istri) yang keluar rumah untuk bekerja. Apakah Islam membolehkanya untuk meninggalkan rumah dan anak-anaknya bekerja di luar rumah ia menjawab dengan mengatakan bahwa perempuan ketika keluar rumah untuk bekerja, maka saat dia kembali ia berada dalam kondisi lelah sementara anak-anaknya terabaikan dari pengawasan orang tuanya, sehingga sang istripun merasakan berbagai tekanan yang menyusahkanya seperti perasaan asing, tidak sejalan dengan suami dan tidak memiliki waktu yang cukup untuk mendidik anak-anaknya dan menjukkan kasih sayang kepada mereka.

Namun demikian, ini tidak berarti bahwa Islam melarang perempuan untuk bekerja akan tetapi Islam meletakkan dasar-dasar yang di atasnya kehidupan masyarakat muslim dijalankan dengan penuh keharmonisan dan ketenangan. Apabila seorang perempuan terpaksa menjadi tulang punggung keluarganya atau karena sebab-sebab tertentu mengharuskan dirinya bekerja di samping suaminya yang bekerja, maka dia harus mengetahui bahwa hal itu meski pada awalnya banyak memberikan manfaat mengaruskan mereka untuk membayar harganya, yaitu dengan berkurangnya kenyamanan dan ketenangan keluarganya.

Pada  dasamya  Islam  tidak membedakan  antara  pekerjaan  atau  amal shalih  yang  dilakukan  oleh  laki-laki  dan wanita,  asalkan  dilandasi  oleh  iman  dan taqwa  kepada  Allah  SWT,  maka  keduanya akan  mendapatkan  balasan  dari  apa  yang mereka  kerjakan.  Bahkan  al-Qur’an mengisyaratkan  pada  mereka  yang  bekerja itu akan mendapatkan kehidupan yang baik dan berkualitas, hayafan thayyihah. Sebagaimana  firman  Allah  dalam  surat  An-Nahl/16 ayat 97:

مَنْ عَمِلَ صَٰلِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ

Arab-Latin: Man ‘amila ṣāliḥam min żakarin au unṡā wa huwa mu`minun fa lanuḥyiyannahụ ḥayātan ṭayyibah, wa lanajziyannahum ajrahum bi`aḥsani mā kānụ ya’malụn quran-surat-an-nahl-ayat-97.html

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.

  Kalau  dikaji  pada  permulaan  Islam berkaitan dengan  ketedibatan  wanita  dalam pekerjaan,  maka  tidaklah  berlebihan  jika dikatakan bahwa Islam membenarkah kaum wanita    beraktivitas  atau  bekerja  di  luar rumah  dalam berbagai  bidang,  baik  secara mandiri atau bersama orang lain

Muhammad Shahrur, Metodologi Fiqih Islam Kontemporer, ( Yogyakarta:eLSAQ  Press,2010 ), 453

Muhammad Mutawalli Asy-Sya’rawi, Suami Istri Berkarakter Surgawi, (Jakarta: Pustaka Al-kautsar,2013), 425-427

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA