Wawancara dengan Ust. Marolah Abu Akrom, S.Ag., MM. (Guru BK SMP Laboratorium Jakarta)
A. Peran Guru BK di Sekolah Inklusi
1. Assalamualaikum Pak Ust. Marolah, sehat ya Ust. Bagaimana peran Guru BK di SMP Laboratorium Jakarta, khususnya di kelas inklusi? Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah sehat. Sebagai guru BK, peran kami sangat penting, terutama sebagai pendamping dan fasilitator bagi seluruh peserta didik di SMP Laboratorium Jakarta. Khusus untuk anak-anak inklusi, kami harus lebih ekstra dalam memperhatikan perkembangan mereka. Tujuannya agar mereka mengalami peningkatan, baik dari sisi akademik maupun perilaku. Walaupun prosesnya tidak mudah, pendampingan ini bisa dilaksanakan secara bertahap dan sedikit demi sedikit.
2. Bagaimana tantangan terbesar Ust. dalam membina siswa tipikal, ADHD, dan Gifted dalam satu kelas? Tantangan terbesarnya adalah kami terkadang kesulitan dalam melakukan pendekatan awal karena tidak semua dari kami memiliki latar belakang pendidikan khusus (Pendidikan Luar Biasa) untuk menangani anak-anak ini secara medis atau psikologis spesifik. Namun, berkat pendekatan “dari hati ke hati” yang kami lakukan, ditambah kerja sama yang erat dengan sesama guru dan wali kelas, Alhamdulillah semua kendala tersebut bisa diatasi dengan baik.
3. Strategi apa yang Ust. gunakan untuk menanamkan karakter disiplin kepada siswa inklusi? Untuk di SMP Laboratorium Jakarta, strategi utama kami adalah melalui pendekatan spiritual dan pemberian contoh keteladanan langsung. Kita yang harus mencontohkan disiplin itu terlebih dahulu. Selain itu, kuncinya adalah guru tidak boleh merasa bosan, apalagi menyerah dalam mendidik mereka. Semuanya butuh proses dan pengulangan yang konsisten.
B. Karakter Disiplin & Joyful Learning
(Catatan: Karakter disiplin yang ditanamkan berfokus pada tiga nilai utama yaitu jujur, disiplin, dan tanggung jawab. Semua dilaksanakan dengan cara yang menyenangkan, tidak memaksa, tidak menekan, dan tidak mengancam anak).
4. Dari pengamatan Ust., apakah metode Joyful Learning seperti games, kuis, yel-yel, dan PHBI efektif untuk membentuk disiplin anak? Ya, sangat efektif. Metode tersebut sangat variatif dan menyenangkan. Ada permainannya, ada nyanyiannya, dan ada gerakannya. Hal ini membuat suasana kelas menjadi lebih cair, anak-anak tidak merasa kaku, dan mereka menjadi lebih semangat belajar. Ketika anak senang, pesan tentang kedisiplinan jauh lebih mudah masuk dan diterima.
5. Bagaimana Ust. menangani siswa ADHD yang kesulitan fokus atau siswa Gifted yang merasa bosan di kelas? Biasanya mereka akan saya panggil secara personal. Kami berikan sentuhan personal, diajak ngobrol, dan diberikan motivasi langsung agar sang anak merasa diperhatikan. Untuk anak yang bosan, kita arahkan energinya; sedangkan untuk yang sulit fokus, kita bantu ingatkan pelan-pelan agar mereka kembali siap mengikuti pelajaran yang diberikan oleh Bapak dan Ibu guru di kelas.
6. Indikator apa yang Ust. pakai untuk melihat apakah karakter disiplin siswa sudah terbentuk atau belum? Indikatornya sangat praktis, yaitu terlihat dari perubahan sikap keseharian mereka. Misalnya, ada perubahan pada cara mereka bersikap kepada guru, cara mereka berbicara dengan teman, atau ketepatan waktu. Walaupun perubahannya hanya sedikit, itu sudah menjadi indikator keberhasilan. Peningkatan sekecil apa pun dari sisi karakter positif harus kita hargai.
C. Hubungan Sosial & Dukungan
(Catatan: Pembentukan karakter didukung dengan interaksi sosial yang sehat. Siswa diajak berkomunikasi aktif dan diarahkan sehingga mereka mendapat sugesti, motivasi, serta semangat belajar, baik di dalam maupun di luar kelas).
7. Bagaimana hubungan sosial antara siswa tipikal dengan siswa ABK di sekolah? Apakah ada konflik yang sering terjadi? Alhamdulillah, selama ini hubungan mereka baik dan semangat kebersamaannya terbangun. Tidak ada konflik-konflik besar. Kalaupun ada gesekan kecil antarsiswa, itu wajar di usia mereka. Semuanya bisa diatasi dengan cepat melalui pendekatan personal. Biasanya mereka kami panggil ke ruang guru atau ruang BK untuk diberikan pencerahan. Kami berikan pengertian agar mereka bisa menjaga sikap, saling menghargai, dan hidup rukun dengan teman di sekitarnya.
8. Bagaimana kerja sama Ust. dengan Guru PAI dan wali murid dalam membentuk karakter siswa? Kerja samanya berjalan dalam bentuk diskusi yang intens. Kami senantiasa bertukar informasi tentang bagaimana perkembangan anak-anak. Jika terlihat ada kecenderungan penurunan karakter atau motivasi, kami segera berkomunikasi. Dengan begitu, kita bisa langsung mengambil langkah penanganan yang tepat agar anak-anak kembali mematuhi tata tertib di SMP Laboratorium Jakarta.
9. Sebagai seorang penulis, menurut Ust. apa pentingnya pendidikan karakter di era sekarang, khususnya di sekolah inklusi? Sangat penting dan menjadi prioritas paling utama. Di era sekarang yang serba digital, arus informasi masuk tanpa batas. Kalau anak tidak punya benteng karakter yang kuat, mereka mudah terbawa pengaruh buruk. Di sekolah inklusi, pendidikan karakter mengajarkan empati, saling menghargai perbedaan, dan kemandirian. Pintar secara akademik itu bagus, tapi memiliki adab dan karakter yang baik adalah yang paling menyelamatkan masa depan mereka.
D. Evaluasi & Harapan
10. Program BK apa yang paling berhasil di SMP Lab untuk membentuk karakter disiplin siswa? Salah satu yang paling terasa dampaknya adalah program pembiasaan pagi dan pendampingan personal. Menyambut anak di gerbang sekolah, pembiasaan ibadah bersama, serta bimbingan kelompok kecil sangat efektif. Anak-anak merasa diawasi dengan kasih sayang, bukan diawasi untuk dihukum, sehingga tumbuh kesadaran disiplin dari dalam diri mereka sendiri.
11. Apa faktor pendukung dan penghambat utama dalam tugas Ust. sebagai Guru BK di sini?
-
Faktor Pendukung: Adanya dukungan penuh dari pimpinan sekolah, kekompakan rekan-rekan guru dalam menerapkan aturan, serta orang tua yang proaktif berkomunikasi dengan pihak sekolah.
-
Faktor Penghambat: Kadang hambatannya berasal dari kurangnya sinkronisasi antara pola asuh di rumah dan di sekolah. Terkadang ada orang tua yang terlalu sibuk atau belum sepenuhnya menerima kondisi anaknya, sehingga program yang kita jalankan di sekolah tidak berlanjut saat anak berada di rumah.
12. Harapan Ust. untuk pengembangan layanan BK di sekolah inklusi ke depan seperti apa? Harapan saya ke depannya komunikasinya semakin lugas dan praktis agar semua pihak mudah paham. Selain itu, saya berharap ada lebih banyak pelatihan khusus bagi para guru reguler terkait penanganan anak berkebutuhan khusus. Semoga fasilitas pendukung untuk anak inklusi semakin lengkap, serta kerja sama antara sekolah, orang tua, dan tenaga ahli profesional (seperti psikolog) bisa terjalin lebih kuat lagi demi kebaikan masa depan peserta didik kita.





