IKPP NWDI Lombok Timur Gelar Pembinaan Teknik Menghafal Al-Qur’an dan Tata Kelola Lembaga Tahfiz. ‎

IKPP NWDI Lombok Timur Gelar Pembinaan Teknik Menghafal Al-Qur’an dan Tata Kelola Lembaga Tahfiz. ‎

‎Sinar5news.com – Lombok Timur – Ikatan Kerjasama Pondok Pesantren (IKPP) NWDI Kabupaten Lombok Timur terus mendorong penguatan pendidikan Al-Qur’an di lingkungan pondok pesantren. Salah satu ikhtiar tersebut diwujudkan melalui kegiatan Pembinaan Teknik Menghafal Al-Qur’an dan Hadits yang dilaksanakan selama empat hari, mulai 30 Juli hingga 2 Agustus 2026 di empat pondok pesantren berbeda.

‎Kegiatan tersebut diikuti oleh para santri dan pembina pondok tahfiz dari berbagai pondok pesantren NWDI di Kabupaten Lombok Timur. Dalam pembinaan ini, IKPP NWDI Lombok Timur menghadirkan Tim Pengembangan Tahfiz Al-Qur’an IKPP NWDI Lombok Timur, yakni Dr. TGH. Abdul Rasyid Ridho, MA. dan TGH. Muhayyan, MH., sebagai narasumber.

‎Hari pertama kegiatan berlangsung pada Kamis, 30 Juli 2026, bertempat di Pondok Pesantren Birrul Walidain NWDI Rensing. Puluhan santri dan pembina dari sejumlah pondok pesantren tahfiz NWDI di wilayah selatan Lombok Timur mengikuti kegiatan dengan penuh antusias.

‎Sejak awal pembinaan, para peserta tampak serius menyimak berbagai materi dan pengalaman yang disampaikan narasumber. Tidak hanya membahas bagaimana cara menghafal Al-Qur’an dan Hadits dengan lebih efektif, pembinaan juga memberikan pemahaman tentang pentingnya menjaga hafalan, memperbanyak murojaah, menjaga akhlak serta membangun kesungguhan dan kecintaan terhadap Al-Qur’an.

‎Kegiatan tersebut menjadi momentum penting bagi para santri untuk mendapatkan pengalaman dan motivasi secara langsung dari para pembina yang memiliki pengalaman dalam dunia tahfiz dan musabaqah Al-Qur’an.

‎Ketua Tim Pengembangan Tahfiz Al-Qur’an IKPP NWDI Lombok Timur, TGH. Muhayyan, MH. yang juga menjadi salah satu narasumber, mengatakan bahwa pembinaan tersebut penting dilakukan untuk memberikan motivasi sekaligus membekali para santri dan pembina dengan berbagai teknik dalam menghafal Al-Qur’an dan Hadits.

‎Menurutnya, menghafal Al-Qur’an bukan hanya persoalan kemampuan seseorang dalam mengingat ayat demi ayat, tetapi juga membutuhkan metode yang tepat, kedisiplinan, kesabaran, keistiqamahan serta dukungan lingkungan yang kondusif.

‎“Kegiatan ini penting dilakukan dalam rangka memberikan motivasi, trik-trik menghafal serta cara mengelola lembaga tahfiz bagi pembina maupun santri yang mengikuti kegiatan tahfiz di pondok pesantren naungan IKPP NWDI Lombok Timur,” ujar TGH. Muhayyan.

‎Pengasuh Tahfiz Al-Qur’an Pondok Pesantren Unwanul Falah NWDI Paoklombok tersebut menambahkan bahwa pembinaan ini juga diharapkan mampu meningkatkan kualitas pengelolaan lembaga tahfiz di masing-masing pondok pesantren NWDI.

‎Para pembina tidak hanya dituntut mampu mendampingi santri dalam menambah hafalan, tetapi juga harus memiliki kemampuan dalam mengatur program tahfiz secara terarah, termasuk membangun kebiasaan murojaah dan menciptakan suasana belajar yang mendukung santri untuk mencintai Al-Qur’an.

‎Lebih jauh, TGH. Muhayyan berharap pembinaan tersebut dapat mendorong pondok-pondok pesantren NWDI untuk lebih aktif berpartisipasi dalam berbagai kegiatan musabaqah atau lomba tahfiz Al-Qur’an dan Hadits.

‎Menurutnya, kegiatan musabaqah tidak semata-mata bertujuan mencari juara. Lebih dari itu, musabaqah dapat menjadi media bagi santri untuk menguji kemampuan hafalan, melatih keberanian, menambah pengalaman dan semakin memperkuat murojaah.

‎“Dengan adanya pembinaan ini, pondok-pondok pesantren NWDI bisa terlibat aktif dan berpartisipasi dalam setiap event musabaqah atau lomba tahfiz Al-Qur’an. Dengan cara ini, syiar Al-Qur’an semakin melambung dan pengalaman serta kuatnya murojaah bisa didapatkan oleh para santri,” jelasnya.

‎Keikutsertaan dalam berbagai event Al-Qur’an juga diharapkan dapat membangun semangat kompetitif yang sehat di kalangan santri. Mereka tidak hanya belajar menghafal untuk kepentingan pribadi, tetapi juga memiliki kesempatan untuk menunjukkan kemampuan sekaligus membawa nama baik pondok pesantren.

‎Dari berbagai pengalaman tersebut, santri akan semakin memahami bahwa perjalanan menjadi penghafal Al-Qur’an membutuhkan proses panjang. Ada target yang harus dicapai, hafalan yang harus dijaga dan mental yang harus terus dilatih.

‎Sementara itu, Dr. TGH. Abdul Rasyid Ridho, MA., memberikan motivasi kepada para santri berdasarkan pengalaman panjangnya dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an.

‎Ia menceritakan pengalamannya sejak duduk di bangku sekolah dasar hingga jenjang magister yang secara rutin mengikuti berbagai lomba atau musabaqah Al-Qur’an. Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan dirinya membangun kedekatan dengan Al-Qur’an.

‎Menurutnya, resep menghapal alqur’an itu adalah Yakin, Ikhlas dan Istiqomah sebagaimana prinsip perjuangan yang digagas oleh almaghfurulahu maulanasyeikh TGKG.M. Zainuddin Abdul Madjid. Yakin alqur’an ini bisa dihapal dengan mutqin, ikhlas dalam proses menghapalnya dan istiqomah dalam menghapal serta murojaah adalah kunci menjaga alqur’an. Selain itu juga kunci penting agar seseorang mudah menghafal Al-Qur’an adalah dengan mencintai Al-Qur’an sepenuh hati.

‎Ketika seseorang telah mencintai Al-Qur’an, membaca dan mengulang ayat-ayatnya tidak lagi dipandang sebagai beban. Al-Qur’an justru menjadi sesuatu yang dirindukan dan selalu ingin didekati.

‎“Mencintai Al-Qur’an adalah jalan untuk cepat menghafal, cepat masuk dan kuat hafalannya,” ungkap TGH. Abdul Rasyid.

‎Dosen UIN Mataram tersebut juga mengingatkan para santri agar tidak terlalu banyak menghabiskan waktu dengan kegiatan yang tidak memberikan manfaat.

‎Menurutnya, santri yang telah bertekad menghafal Al-Qur’an maupun Hadits harus berani mengatur waktu dan menentukan prioritas. Waktu yang dimiliki hendaknya lebih banyak digunakan untuk membaca, menghafal dan mengulang hafalan.

‎“Sebaiknya para santri yang sudah bertekad menghafal Al-Qur’an maupun Hadits agar fokus pada apa yang ditekuni sekarang, yakni menghafal.”

‎Pesan tersebut menjadi pengingat bagi para santri bahwa keberhasilan dalam menghafal tidak datang secara instan. Hafalan membutuhkan latihan berulang-ulang dan kebiasaan yang dilakukan secara konsisten.

‎Dalam kesempatan tersebut, TGH. Abdul Rasyid juga memberikan perhatian terhadap pola kehidupan para santri. Ia mengingatkan agar santri tidak terlalu banyak melakukan aktivitas yang dapat mengganggu konsentrasi dan mengurangi kesungguhan dalam menghafal Al-Qur’an.

‎Terlalu banyak tidur, terlalu banyak makan, terlalu banyak berbicara tanpa manfaat, mengganggu teman dan menghabiskan waktu dengan berbagai kegiatan yang tidak memiliki nilai positif, menurutnya, harus dikurangi.

‎Seorang santri tahfiz harus belajar mengendalikan diri. Sebab, menghafal Al-Qur’an bukan hanya latihan untuk menguatkan ingatan, tetapi juga latihan membentuk kepribadian.

‎Semakin serius seseorang menghafal Al-Qur’an, maka semakin besar pula tuntutan baginya untuk menjaga waktu, menjaga ucapan dan menjaga perilaku.

‎Hal lain yang sangat ditekankan TGH. Abdul Rasyid adalah persoalan akhlak. Menurutnya, kualitas hafalan seorang santri tidak dapat dipisahkan dari perilakunya. Santri harus menjaga akhlak kepada guru, orang tua dan teman.

‎Akhlak kepada guru menjadi bagian penting karena guru merupakan orang yang membimbing dan mengarahkan perjalanan belajar. Demikian pula penghormatan kepada orang tua yang telah memberikan dukungan dan doa.

‎Hubungan yang baik dengan teman juga harus dijaga. Jangan sampai proses menghafal membuat seseorang merasa lebih tinggi daripada orang lain hanya karena memiliki hafalan lebih banyak.

‎Sebaliknya, hafalan Al-Qur’an harus melahirkan sikap rendah hati, santun dan semakin dekat dengan kebaikan.

‎“Jaga akhlak ya. Jangan lakukan hal-hal yang tak terkait dengan Al-Qur’an jika mau menghafal Al-Qur’an. Terus pegang, baca dan ulangi terus-menerus serta jangan tinggalkan Al-Qur’an jika sudah hafal.” ungkap TGH. Abdul Rasyid.

‎Pesan tersebut menunjukkan bahwa menjadi penghafal Al-Qur’an bukan sekadar mampu menyimpan ayat dalam ingatan. Seorang hafiz dan hafizah diharapkan mampu menjadikan Al-Qur’an sebagai nilai yang hidup dalam dirinya.

‎Hafalan harus tercermin dalam sikap. Bacaan harus melahirkan akhlak. Dan kedekatan dengan Al-Qur’an harus menjadikan seseorang semakin baik dalam berhubungan dengan Allah maupun dengan sesama manusia.

‎Dalam perjalanan menjadi penghafal Al-Qur’an, tantangan tidak berhenti ketika satu ayat atau satu surah telah berhasil dihafalkan. Justru setelah hafal, seorang santri memiliki tanggung jawab untuk menjaga hafalan tersebut.

‎Karena itu, murojaah menjadi bagian yang sangat penting dalam kehidupan seorang penghafal Al-Qur’an. Ayat yang sudah dihafal harus terus dibaca, diulang dan diperdengarkan kembali agar tetap kuat dalam ingatan.

‎Kebiasaan murojaah juga melatih kedisiplinan. Santri belajar untuk tidak cepat puas dengan pencapaian yang telah diraih. Hafalan yang bertambah harus diimbangi dengan hafalan lama yang tetap terjaga.

‎Dengan demikian, program tahfiz tidak hanya berorientasi pada seberapa banyak hafalan yang dapat diperoleh santri, tetapi juga bagaimana hafalan tersebut dapat dipelihara dalam jangka panjang.

‎“Mempertahankan hapalan itu berat maka murojaahnya sampai mati” Ungkap TGH. Rosyid

‎Di hadapan para santri, TGH. Abdul Rasyid juga memberikan motivasi bahwa kedekatan dengan Al-Qur’an merupakan jalan menuju kebaikan dan kebahagiaan dalam kehidupan. Ia mengajak para santri untuk tidak merasa rugi ketika harus mengurangi waktu bermain demi membaca dan menghafal Al-Qur’an.

‎Sebaliknya, waktu yang dihabiskan bersama Al-Qur’an merupakan investasi kehidupan yang sangat berharga.

‎Menurutnya, ketika seseorang memilih untuk dekat dengan Al-Qur’an, maka ia sedang memilih jalan yang penuh keberkahan.

‎“Jika sudah dengan Al-Qur’an atau menghafal Al-Qur’an, maka Allah akan menyediakan kebahagiaan dan kemudahan dalam hidup,” tuturnya.

‎Pesan tersebut menjadi penyemangat bagi para santri agar tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan dalam menghafal. Ada kalanya hafalan terasa sulit masuk. Ada pula saat seseorang merasa bosan karena harus mengulang ayat yang sama berkali-kali. Namun, justru dalam keadaan seperti itulah kesabaran dan keistiqamahan seorang penghafal Al-Qur’an diuji.

‎Pembinaan teknik menghafal Al-Qur’an dan Hadits yang dilaksanakan IKPP NWDI Lombok Timur menjadi salah satu bentuk keseriusan IKPP NWDI Lombok Timur dalam membangun ekosistem pendidikan Al-Qur’an di lingkungan pondok pesantren. Dengan pembinaan yang dilakukan secara berkelanjutan, diharapkan semakin banyak lahir santri NWDI yang tidak hanya kuat hafalannya, tetapi juga baik akhlaknya, disiplin, berprestasi dan mampu menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam kehidupan.(red)

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA