GURU SEBAGAI FASILITATOR Oleh : Marolah Abu Akrom (Guru BK SMP Lab. Jakarta dan Pengasuh Ponpes NW Jakarta)

banner post atas

Selama ini guru terlalu mendominasi dalam proses belajar mengajar di sekolah, sehingga terlihat monoton, terkesan tidak menarik dan cendrung membosankan bagi peserta didik. Karena metode pembelajaran hanya bersifat ceramah, dimana yang aktif hanya guru sedangkan murid pasif diam seperti patung. Maka setelah melakukan study banding ke negara-negara maju dalam pendidikan seperti Finlandia, Korea Selatan, Jepang, Hongkong, Singapura, Kanada dan lain-lain dan disertai kajian secara mendalam, maka para praktisi di bidang pendidikan menemukan suatu metode yang bernama guru sebagai fasilitator.

Guru sebagai fasilitator artinya guru senantiasa memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada para peserta didik untuk mencari ilmu sebanyak-banyaknya sehingga pemahaman mereka terhadap sesuatu akan menjadi jelas, utuh dan diingat selalu sampai kapanpun.

Iklan

Hal ini sesuai dengan perkembangan zaman, dimana teknologi semakin canggih, pemikiran manusia semakin maju. Sehingga para peserta didik akan mampu mencari sendiri berbagai ilmu yang dibutuhkan. Tentu walau demikian, guru tetap memberi bimbingan, arahan dan motivasi agar peserta didik semakin hari semakin terbangun semangat mereka dalam belajar, sehingga menemukan berbagai macam ilmu yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan.

Bila kita kembali kepada konsep Al Quran, maka sebagai fasilitator tentu menyampaikan apapun instruksi berupa penugasan-penugasan dengan qaulan layyina (ucapan yang penuh kelembutan, Thaha 20:44), qaulan karima (ucapan yang penuh kemuliaan, Al Isra 17:23), qaulan sadida (ucapan penuh kebenaran, Al Ahzab 33:70), qaulan ma’rufa (ucapan penuh kebaikan, Al Baqarah 2:263) qaulan baligha (ucapan menarik yang membekas kedalam jiwa, An Nisa 4:63), ucapan yang mudah dipahami, Al Isra 17:28) dan qaulan tsaqila (ucapan penuh kualitas, Al Muzzammil 73:5)

Inilah ucapam-ucapan terdahsyat yang akan menyentuh hati terdalam para peserta didik. Ternyata kunci mendidik anak itu adalah ada pada hatinya. Ketika hati para peserta didik itu mendapat sentuhan, maka akan timbul rasa senang dan gembira mempelajari ilmu apapun.

BACA JUGA  BELAJAR BAHASA ARAB (10) MAKANAN (الطَّعَامِ)

Inilah yang dimaksud dari sabda Nabi, “Ketauhilah dalam jasad manusia ada segumpal daging, jika segumpal daging itu baik, maka baiklah seluruh tubuh. Dan jika segumpal daging itu rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketauhilah segumpal daging itu adalah hati”. (HR. Bukhari).

Dengan demikian menjadi jelas bahwa ketika konsep Al Quran dan Hadits Nabi dijadikan sebagai landasan dalam mendidik manusia, maka akan lahirlah generasi terbaik yang berkualitas, cerdas, mulia, unggul dan berprestasi dalam segala bidang.

Semoga hikmah hari ini, menjadi masukan yang sangat manfaat bagi semua pendidik yang ingin sukses dalam mendidik. Aamiin.

Bekasi, 25 Shafar 1441 H/24 Oktober 2019)