Fikih Nikah #2 Oleh : Zulkarnaen

banner post atas

Hukum nikah kemudian tergantung keadaan dari muslim muslimah. Ia bisa haram dalam suatu keadaan, ia juga bisa sunnah. Namun, banyak riwayat hadits yang menjelaskan kesunnahan nikah, hingga nikah disebut sebagai ukuran apakah seorang muslim muslimah adalah ummat Nabi Muhammad saw. Riwayat hadits-nya mengatakan النكاح سنتي فمن لم يعمل بسنتي فليس مني. Demikian riwayat hadits yang menegaskan kesunnahan nikah.

Kesunnahan nikah bukanlah sesuatu yang jarang diketahui. Bulan syawal betul-betul bukti akan kepopuleran hukumnya. Bulan syawal kemarin mungkin adalah pernikahan yang terbanyak sepanjang syawal yang kita saksikan selama hidup. Covid-19 adalah yang paling besar pengaruhnya atas melonjaknya pernikahan di bulan syawal kemarin.
Kesunnahan nikah dalam Islam tentu rasional dan realistis. Nikah tidak disunnahkan dengan serta merta meminta muslim muslimah nikah hanya karena cinta atau hanya karena keinginan berhubungan badan. Islam dalam hal hal ini sama sekali tidak menginginkan ini. Islam mengharamkan pernikahan yang hanya untuk berhubungan badan saja.

Snikah, jika seorang muslim muslimah sudah mampu secara ekonomi; mampu secara ekonomi disini tidak bermakna harus kaya, tapi mampu membiayai istrinya hari itu saja–inilah yang dikatakan ulama’ – namun memiliki pekerjaan tetap lebih baik.
Berikut ini adalah hukum-hukum nikah. Pertama, sunnah. Sunnah nikah jika seorang muslim mampu secara ekonomi dalam satu hari. Kedua, wajib. Wajib nikah jika seorang muslim mampu secara ekonomi dan memiliki keinginan yang kuat untuk berhubungan badan. Kewajiban nikah disini disebabkan karena merupakan hal yang lebih baik dan menyelamatkan seorang muslim itu dari perbuatan zina dan yang merendahkan dirinya. Ketiga, haram. Haram nikah jika seorang muslim tidak mampu secara ekonomi dan tak memiliki keinginan berhubungan badan. Islam tak menginginkan seorang muslimah ditelantarkan. Islam menganjurkan puasa untuk mengurangi keinginan kuat berhubungan badan. Keempat, makruh. Makruh atau dibenci nikah itu jika seorang muslim mampu secara ekonomi namun tak memiliki keinginan untuk berhubungan badan.

Iklan
BACA JUGA  Melanjutkan Amanat Pendiri Nahdlatul Wathan Oleh : H Irzani

Kesemua hukum tersebut mempertimbangkan aspek-aspek kemanusiaan manusia–kesemua pertimbangan tersebut universal diinginkan oleh setiap insan yang ingin menikah. Pernikahan dalam Islam benar-benar direlkan untuk mendapatkan kebahagiaan lahir dan batin – hingga Islam mengatur hak dan kewajiban suami terhadap istri dan sebaliknya, istri terhadap suami.