Dari Ilusi Menuju Kebijakan; Sebuah Catatan Kecil Ketika di Desa Oleh Zulkarnaen, Kader HIMMAH NW

0
110
banner post atas

Tulisan ini menggunakan pendekatan induktif berdasarkan apa yang penulis saksikan di desa sendiri, Sukarara. Penulis akan membicarakan seputar kebijakan pemerintah yang terkesan berdasarkan apa yang ada di media sosial. Awalnya penulis bingung ketika pemerintah memberlakukan kebijakan lockdown, social distancing, physcal distancing karna di Sukarara lebih banyak masyarakat yang hidup hanya berkutat di rumah dan sawah. Jarang sekali masyarakat keluar dari desa berintraksi dengan orang luar. Kemudian mereka diminta untuk lockdown oleh pemerintah.

Bisa saja dibilang untuk waspada, namun itu berarti kebijakan social lockdown tidak berdasarkan lokalitas suatu tempat, tetapi terkesan generalisasi keadaan suatu tempat dengan tempat-tempat yang lain. Untuk konteks Sukarara, kebijakan itu tidak relevan diberlakukan.
Namun pemerintah telah berhasil mengatur mindset masyarakat akan memang adanyan covid-19 di desa. Kampanye soal lockdown yang masif di sosial media kemudian diperkuat oleh pengumuman dari pemerintah yang paling dekat dengan masyarakat, pemerinta desa. Hal tersebut mungkin memiliki pengaruh kuat dalam proses mengatur mindset masyarakat dalam waktu terakhir.

Mengutip apa yang dikatakan Gobbles, seorang menteri penerangan dan proaganda Nazi “kebohongan yang dikampanyekan secara terus menerus dan tersistematis akan berubah menjadi (seolah-olah) kenyataan!”. Kutipan tersebut tidak ditujukan untuk mengatakan pemerintah melakukan kampanye kebohongan, namun menjelaskan keterkaitan wacana dan pegulangannya baik melalui media dan manusia. Bahwa sesuatu bisa diyakini oleh masyarakat jika ia terus diulang, apalagi secara tersistematis.
Media tidak bisa dipungkiri memiliki pengaruh kuat kepada masyarakat. Bahkan mampu meyakinkan yang terdidik sekalipun. Daya kritis orang terdidik pun bisa tunduk oleh pengulangan yang tersistematis. Inilah yang disebut sebagai propaganda, karna memang Gobbles adalah seorang propaganda lalu mengatakan kalimat di atas.

Iklan

Contoh yang lain soal pengaruh media adalah soal pemusatan wacana. Media mainstream yang menayangkan RUU HIP secara terus menerus, biasanya memang sampai dibahas tuntas. Secara tidak langsung membuat tren obrolan sampai masyarakat bawah dan mulai ikut komentar di media sosial mereka sendiri. Kita bisa tebak bagaimana yang akan terjadi ketika masyarakat bawah yang awam sudah saling komentar di media sosial, biasanya tidak bisa berbeda lalu ditanggapi dengan pendekatan tidak rasional-ilmiah lagi, tapi terkesan fanatisme pendapat sendiri.

Tren obrolan tersebut membuat masyarakat kehilangan daya kritis akan lokalitasnya, kurang memperhatikan apa yang terjadi di sekitar mereka karna pemusatan wacana tersebut. Pada akhirnya memang media memiliki pengaruh besar kepada masyarakat.
Pasca kurang masifnya narasi media soal covid-19 atau sejak narasi new normal dinarasikan, banyak masyarakat yang bahkan lupa kalau negara ini masih menghadapi pandemi covid-19. Hal tersebut disebabkan karna tidak masifnya kampanye covid-19 di media, terutama media sosial masyarakat. Sedikit, bahkan jarang sekali masyarakat post soal covid-19 kini. Media kembali memberi pengaruh signifikan kepada masyarakat.

Menurut penulis, berangkat dari kebijakan yang terkesan tidak relevan dan tentu bagi penulis mebubazirkan dana negara yang tidak proporsional, pemerintah penting tidak melakukan generalisasi suatu keadaan masyarakat atau menseragamkan keadaaan masyarakat dengan keadaan masyarakat yang lain. Secara tidak langsung, pemerintah menafikan aspek lokalitas ruang suatu tempat dan memberikan kebijakan berdasarkan tempat yang berbeda. Pemerintah penting memberikan kebijakan berdasarkan lokalitas masyarakat sendiri supaya relevan tentunya dan bermakna bagi masyarakat karna berdasarkan apa yang mereka hadapi secara langsung, karna selama ini masyarakat terkesan diberikan kebijakan pasca dibangun ilusi di otak-otak mereka atau diatur mindsetnya dulu kemudian baru dibuat kebijakannya.