Kalau selama ini kita menganggap Investasi hanyalah sebatas Uang, maka kita yang tidak memiliki Uang Banyak tidak akan bisa berinvestasi. Namun kalau melakukan hal yang Bermanfaat dapat dijadikan sebuah Investasi, kenapa tidak kita mulai berinvestasi sejak hari ini. Dan saya ingin mengajak kepada semua yang membaca tulisan ini untuk berinvestasi melalui sebuah Tulisan.
Tulisan bukan hanya tentang sebuah karya yang bisa dinikmati oleh banyak orang. Melainkan lebih dari itu yang akan kita dapatkan. Ada banyak nama yang tidak pernah Hilang dari sejarah Manusia karena tulisannya masih dibaca hingga hari ini, mari kita berpikir seandainya bukan karena Tulisan lalu dari mana kita akan mengetahui keberadaan mereka sejak berabad-abad lalu sebelum Ada teknologi, sebelum ada Kamera untuk menyimpan Gambar, sebelum ada Kamera untuk menyimpan Video, sebelum ada Perekam Suara untuk menyimpan suara, seandainya tidak ada tulisan, tidak mungkin hari ini Peradaban Manusia bisa maju seperti sekarang ini, tidak mungkin Manusia bisa menikmati manisnya pendidikan, manisnya Ilmu Pengetahuan.
Kita perlu merefleksi kembali dari sejarah Penulisan Al-Qur’an, Penulisan Al-Qur’an dimulai pada masa Rasulallah, ketika itu Rasulallah mempercayai beberapa sahabatnya sebagai Juru Tulis Al-Qur’an, Al-Qur’an yang turun secara berangsur-angsur tentulah penulisannya dilakukan pula secara berangsur-angsur, setiap ayat yang Turun kepada Rasulallah dibacakan kepada Sahabat kemudian Dituliskannya diatas Pelepah Kurma, tulang-belulang, ataupun segala yang bisa digunakan untuk menulis. Juru tulis Rasulallah terdiri dari Ke-empat Khulafau rasyidin, Zaid Bin Tsabit, Ubai bin Ka’ab, dan masih banyak lagi sahabat yang dipercayai oleh Rasulullah, pada masa itu masih belum banyak orang yang memiliki keahlian untuk menulis sehingga lebih banyak Menghafal Al-Qur’an daripada Menulisnya, bukan hanya Al-Qur’an namun Hadist pun seperti itu.
Setelah Wafatnya Rasulallah tak lantas membuat Permasalahan Penulisan Al-Qur’an itu tuntas, keadaan kala itu Al-Qur’an belum dibukukan (kodifikasikan) kemudian pada masa Khalifah Umar Bin Khatab terjadilah peperangan antara Umat Islam dengan Kaum Murtaddin, dalam peperangan itu telah banyak Membunuh para penghafal Al-Qur’an sehingga timbullah kekhawatiran dalam Diri Umar bahwa Al-Qur’an bisa musnah kalau tidak segera dibukukan, kemudian Umar mengutus Abu Bakar untuk untuk membukukan Al-Qur’an , Abu Bakar pun memanggil Zaid bin Tsabit untuk menulis Al-Qur’an karena Beliaulah yang banyak tahu tentang hafalan dan Penulisan Al-Qur’an kemudian setelah selesai ditulis, Abu Bakar mengumpulkan Mushaf-mushaf Al-Qur’an kemudian menyimpannya, setelah Abu Bakar wafat mushaf tersebut dipegang Oleh Umar.
Pada zaman Khalifah Ali bin abi Thalib ada kekhawatiran akan terjadinya Pembauran antara bahasa Al-qur’an dengan bahasa orang yang tidak mengerti bahasa Arab, dan di khawatirkan pula akan terjadi perpecahan antara umat Muslim tentang bacaan Al-Qur’an selama mereka tidak memiliki Al-qur’an yang menjadi standar Bacaan mereka, maka dari kekhawatiran itu Ali menyalin tulisan-tulisan di dalam Al-qur’an kemudian disebutlah sebagai Mushaf Imam.
Dari sejarah diatas kita bisa mengambil kesimpulan bahwa Lahirnya sebuah tulisan berasal dari Kekhawatiran Para Sahabat akan lenyapnya Ilmu pengetahuan dimasa yang akan datang, walaupun pada awalnya yang ditulis hanya Al-qur’an dan Hadist saja namun lambat laun setelah Khalifah memimpin Tulisan-tulisan mulai dikembangkan menjadi Sebuah Ilmu Pengetahuan, berlanjut sampai masa Imam-imam, dan seterusnya hingga sampai pada saat ini, kita bisa menikmati Tulisan-tulisan itu dalam bentuk sebuah Bacaan. Seandainya Tidak ada Inisiatif untuk menulis, tidak bisa dibayangkan Kehidupan hari ini akan seperti apa. Walaupun perintah yang pertama kali turun dalam Al-Quran adalah ‘Iqraa’ (bacalah) tapi dari perintah menulis itulah mulai munculnya Ilmu Pengetahuan, dan Inisiasi untuk menulis.
Menulis bukanlah hal yang mudah, karena walaupun semua Orang bisa menulis namun tidak semua Orang pandai Menulis, menulis membutuhkan penghayatan yang tinggi terlebih ketika tulisan itu menyangkut sebuah ilmu pengetahuan tidak akan mudah untuk menulis tanpa referensi, tanpa kegigihan, kemauan yang besar, karena ketika kita menulis harus benar-benar memperhatikan topik, judul, susunan kalimat, kata-kata yang sesuai dan tepat, agar tidak menimbulkan kesalahpahaman bagi pembaca, menghindari tulisan-tulisan yang dapat menyinggung orang banyak terlebih harus jauh dari topik-topik yang kontroversial. Ketika ingin menulis juga harus memiliki Kepekaan yang tinggi supaya memudahkan untuk mencari tema tulisan, harus pandai melihat dan membaca situasi, harus gesit dalam menggali informasi dan yang harus kita korbankan ketika menulis adalah Waktu. Menulis membutuhkan waktu yang panjang jadi seorang penulis harus merelakan Waktunya untuk hal yang lain demi menyelesaikan sebuah Tulisan.
Menulis adalah Bekerja untuk keabadian. Seperti yang dikatakan Oleh Pramodya Ananta Toer “Orang Boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam Masyarakat dan sejarah Manusia, Menulis adalah Bekerja untuk Keabadian”. Menulis membuat seseorang hidup selamanya di dalam Sejarah Kehidupan Manusia sekalipun Mati telah memisahkannya dengan dunia ini namun karyanya yang akan menghidupkannya untuk selamanya, untuk itu tulislah sesuatu yang bermanfaat bagi banyak orang. Terutama di zaman yang serba canggih ini platform untuk menulis dan mengembangkan bakat untuk menulis sangat banyak dan sangat mudah untuk di akses oleh siapa pun. Namun Menulis juga perlu Kreativitas untuk menarik pembaca, misalkan dengan memberikan judul yang unik namun berbobot, dan harus menyesuaikan pula dengan situasi saat ini karena ada banyak tulisan yang bermanfaat namun karena tidak sesuai dengan kondisi zaman saat ini akhirnya menjadi tulisan yang sepi pembaca.
Ada dua hal yang paling penting ketika ingin memulai untuk menulis yaitu Kemauan yang Besar dan Keberanian, karena banyak sekali saya dengar teman-teman saya ingin menulis namun bingung harus memulai dari mana, saya menjawab “mulailah menulis dari hal apa yang paling kamu sukai” namun tampaknya nasihat seperti apa pun yang kita sampaikan namun karena dasarnya tidak memiliki kemauan yang kuat maka tidak akan pernah tergerak untuk menulis. Rumus menulis adalah Kemauan + Praktik = Tulisan Kalautidak ada salah satu diantara rumus tersebut maka tidak akan pernah mendapatkan hasil. Sama seperti halnya kita memiliki keinginan yang kuat untuk membeli mobil tapi kita tidak bekerja untuk mendapatkan uang maka kita tidak akan pernah bisa membeli mobil. Begitu pula menulis ketika kita hanya memiliki keinginan untuk menulis namun tidak mau praktik secara langsung maka sampai kapan pun tidak akan pernah tercipta sebuah tulisan.
Yang kedua adalah Keberanian, seperti yang saya dengar dari salah seorang senior saya beliau mengatakan “Menulis adalah sebuah Keberanian” karena ketika kita menulis ada banyak pertimbangan dan akan muncul perasaan ragu dan takut untuk menulis, jadi ketika telah lahir sebuah tulisan maka seseorang telah berhasil melawan ketakutannya. Menulis bukan hanya tentang sebuah tulisan yang diciptakan lalu dipublikasikan melainkan tulisan juga menyangkut tanggung jawab terhadap Tuhan di Akhirat kelak, setiap huruf yang kita tulis akan dihisab, untuk itu menulis sangat perlu keberanian baik Keberanian berhadapan dengan manusia maupun berhadapan dengan tuhan kelak.
Menulis adalah bank Ilmu dan Ingatan. Kalau Bank yang biasa kita temui adalah sebagai tempat penyimpanan uang, maka menulis adalah Bank penyimpanan Ilmu dan ingatan. Menulis dapat mencegah kita dari lupa. Seperti yang diajarkan dalam Ta’limul Muta’allim bahwasanya “Ilmu adalah buruan dan tulisan adalah ikatannya, maka ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat” sedangkan manusia adalah makhluk yang tidak pernah luput dari Lupa, dan daya ingat manusia sangat lah lemah, kalau bukan dengan tulisan dengan apalagi kita akan mengikat ilmu-ilmu yang telah kita dapatkan.
Maka menulislah sejak hari ini, selagi Allah SWT masih memberikan kita kesempatan untuk hidup sebelum pada akhirnya nanti kita menyesal karena tidak pernah menulis, tidak pernah berkarya.
Menulislah supaya ketika anak cucu kita tahu bahwa kita pernah hidup di dunia ini dan menciptakan sebuah Karya.
Menulislah walaupun dengan tulisan tidak akan membuat kita kaya, tidak akan membuat kita kenyang, tidak akan menjamin kita memiliki banyak uang, namun setiap karya tulis yang terlahir memberikan rasa Puas dan Kebahagiaan tersendiri. Rasa puas adalah hal yang tidak bisa dibeli dengan uang walaupun banyak orang kaya di Dunia ini namun tidak memiliki rasa puas, dan rasa bahagia. Sementara ketika kita menulis kita bisa merasa puas dan bahagia dengan cara semudah dan sesederhana itu.
Menulislah selagi masih muda sebagai investasi di masa Tua nanti, supaya ketika kita sudah tidak mampu lagi menulis namun kita masih bisa membaca karya-karya yang telah kita lahirkan di masa muda dulu. Menulislah. Tulisanmu adalah Investasi Abadimu.




