
TGB dalam kesempatan ini juga mengingatkan pentingnya kehadiran sahabat dalam perjuangan. Menurut TGB, kehadiran sahabat itu sangat penting dalam menemani setiap gerak langkah perjuangan kebaikan yang kita lakukan.
“Hadirnya sahabat yang setia mendukung saat kita berjuang, itu menjadi kenikmatan yang luar biasa bagi kita,” jelas Gubernur NTB dua periode ini.
Kepada para santri dan santriwati, TGB berpesan untuk senantiasa menjaga adab dan akhlak seorang santri serta tidak ikut-ikutan mengikuti paham keislaman dari seseorang yang karena memiliki banyak followers di media sosial.

“lucu sekali kalau ada santri yang lama mengaji kemudian ikut kepada seseorang yang baru belajar Islam kemudian menjadi ustaz di media sosial,” Doktor Tafsir al Qur’an dari Universitas al Azhar Mesir ini.
Selain itu, TGB juga berpesan untuk menjadi santri/santriwati yang bisa ikut serta menyebarkan faham-faham baik yang telah diajarkan oleh para tuan guru di pondok pesantren. Salah satu caranya adalah dengan menulis ilmu-ilmu yang telah didapatkan kemudian disebarluaskan melalui berbagai media yang ada.
“Ada banyak imam-imam hebat selain dari imam mazhar yang kita kenal namun ajarannya tidak bertahan lama sampai dengan saat ini karena tidak ada murid-muridnya yang menulis lalu kemudian menyebarkannya,” jelas TGB yang juga ketua OIAA Indonesia ini.
Pengajian kemudian ditutup dengan pembacaan doa pusaka yang dipimpin oleh TGH. Mustofa Alawi.
Demikian sedikit catatan yang bisa saya simak dari pengajian 1 Muharram 1441 H di Kota Santri Pancor Lombok Timur. Jika dirasa bermanfaat, silahkan bisa disebarkan!.
Pancor, 1 Muharram 1441 H/ 1 September 2019. Dikirim oleh Akbar Jamaah NW.Pancor Lombok Timur



