Puasa adalah menahan diri dari segala yang membatalkannya, baik itu makan, minum ataupun jimak, di mulai dari terbit fajar sampai dengan terbenam matahari disertai dengan niat tertentu.
Dalam puasa Ramadan terdapat aktivitas menahan diri dari hal-hal yang bisa menekan nafsu syahwat yang merupakan musuh terbesar dalam diri manusia. Nafsu syahwat memiliki tabiat pada umumnya cenderung kepada hal-hal keduniaan.
Dalam pelaksanaan puasa Ramadan, nafsu diarahkan dan ditata supaya kembali kepada nafsu yang baik, dengan cara ditekan atau dikurangi aktivitasnya melalui puasa (menahan diri).
Nafsu yang sudah tertata dan terlatih dengan baik, secara otomatis akan cenderung kepada hal-hal yang baik. Maka tidak heran jika puasa Ramadan salah satu tujuannya adalah untuk membentuk tameng (perisai) dalam diri orang yang berpuasa supaya tetap didalam rel kebaikan dan tidak terjerumus kedalam perbuatan maksiat.
Untuk membentuk tameng tersebut, dibutuhkan sebuah proses yang baik dalam pelaksanaan puasa Ramadan. Proses yang baik itu adalah menjauhkan segala hal yang membatalkan puasa dan segala hal yang menghabiskan pahala puasa.
Bila puasa Ramadan dilakukan dengan proses yang baik dan benar, maka di situlah akan terbentuk dengan sendirinya tameng (perisai) yang menjaga seseorang dari terjerumus kepada perbuatan yang dilarang agama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الصِّيَامُ جُنَّةٌ كَجُنَّةِ أَحَدِكُمْ مِنَ الْقِتَالِ
“Puasa adalah perisai seperti perisai salah seorang dari kalian dalam peperangan.”
Jika orang berperang di medan perang menangkis serangan musuh dengan tameng besi yang berada di tangannya, maka orang yang berpuasa menangkis perbuatan dosa di dunia dengan menggunakan tameng puasa. Kemudian, jika seseorang sudah di bentengi dari perbuatan maksiat, maka akan memiliki kesempatan besar untuk terhindar dari siksa api neraka. Kaitannya dengan ini, dijelaskan dalam sebuah hadis :
إِنَّمَا الصِّيَامُ جُنَّة يَسْتَجِنُّ بِهَا الْعَبْدُ مِنَ النَّارِ
“Puasa adalah perisai yang dapat melindungi seorang hamba dari siksa neraka” (H.R. Ahmad, shahih).
Dapat dikatakan, bahwa puasa yang benar akan memberikan dampak positif pada pelakunya, yaitu terbentuk dalam dirinya sebuah perisai yang bisa menangkisnya dari perbuatan dosa. Dan seperti yang kita ketahui bersama, bahwa perbuatan dosa merupakan penyebab orang dijurumuskan ke dalam api neraka.
Jadi, puasa akan menjadi tameng di dunia dan akhirat bagi orang yang menjalankannya dengan baik dan benar sesuai dengan tuntunannya, dengan cara menjauhi segala hal yang membatalkannya.
Muhammad Fathi.




