AYAHKU, BURUH TANI MURNI (Sebuah Memoar) Oleh: M. Rusli Nasir, S.Pd.I

banner post atas

Ayahku, lahir sebagai anak terakhir, dari tiga belas bersaudara, dengan ayah dan ibu yang sama. Ayahnya menjabat sebagai seorang buruh tani. Sebuah jabatan yang ia warisi hingga meninggalkan dunia ini. Bahkan, sosok Ayahku menjadi buruh tani murni.

Buruh tani murni?

Ya, buruh tani asli nan murni. Ia tak memiliki sawah pribadi. Ia tak ada uang untuk membeli sendiri. Penghasilannya hanya untuk menunjang hidup kami sehari-hari. Antara hasil dan pengeluaran bagai semboyan “gali lobang, tutup lobang”.

Iklan

Kalau kata orang, “Bagi hasil setelah panen saat musim balit, sudah habis kami makan terlebih dahulu, karena hutang yang melilit.” Sungguh ngeri.

Ayahku, dalam lembaran hidupnya pernah menjadi buruh tani di tanah milik H. Tohri. Seorang yang kaya dari Selanglet yang istrinya adalah misan ibu saya. Ada unsur keluarga. Dekat dan tak mengaku-ngaku.

Sosok H. Tohri yang kala itu memang dikenal “Tuan Tanah”. Ia memiliki hamparan sawah yang amat luas, lebih kurang 2,5 ha. Letaknya dekat Bilekere. Lebih dekat dari rumahku, ketimbang dari rumahnya. Sehingga Ayahku lebih dipercaya untuk menjaga dan mengelolanya.

Di tanah sawah seluas itu, Ayahku mengabdi tanpa jemu. Mentalnya gigih tanpa lesu. Pekerja ulet yang bersih, dan gengsi merintih. Meski sawah orang, tapi dipeliharanya kayak punya sendiri, karena semata ada rasa sayang dan tanggung jawab. Sayang, karena sawah itu milik misan istrinya. Bertanggung jawab, itu karakternya.

Apakah keberuntungan berpihak kepada Ayah saya?

Ternyata, meski hampir sepuluh tahun Ayahku menjadi buruh tani, menjadi pengelola sawah itu dengan hati murni, namun sepertinya takdir “kaya” itu belum juga berpihak hingga beliau meninggalkan bola dunia ini.

BACA JUGA  𝗣𝗲𝘀𝗮𝗻 𝗶𝗻𝗱𝗮𝗵 𝗧𝗚𝗞𝗛.𝗠.𝗬𝗨𝗦𝗨𝗙 𝗠𝗔'𝗠𝗨𝗡

Perjuangan dan taktik Ayah untuk merubah kondisi ekonomi, tak berhenti sampai di situ. Beliau pun mengadu nasib untuk memboyong kami sekeluarga ber-transmigrasi ke Kalimantan Tengah, tepatnya di J 1 Parenggean, tahun 1997.

Di tanah rantauan itu, segala kreasi dan inovasi Ayah dalam bertani beliau tumpahkan hingga menuai hasil yang bermutu. Di tanah pribadinya seluas 1 ha itu ia “sulap” bak sawah di Lombok dulu. Kelihaiannya bertani pun mendapatkan pengakuan sebagai juara 2 (dua) saat lomba pekarangan-sawah se-UPT J 1 Parenggean dengan kompetitor 500 KK.

Kami bangga Ayahku, petani handal.

Kemakmuran dan kesejahteraan yang luar biasa di lokasi transmigrasi kala itu, masih terekam dalam memori saya. Betapa takdir “kaya” itu sudah kian terasa dan mendekat, sedekat sajadah shalat Ayah dan tikar mengaji saya. Sampai Ayahku -saking PD- akan mengirim saya pulang ke Lombok untuk mondok ngaji di pesantren manapun saya mau, asalkan bisa menjadi guru.

Tapi, setahun telah berlalu, kondisi bangsa ini yang tak menentu, krisis moneter menggrogoti negeriku tercinta, Pak Soehatro (Presiden RI ke-2) tumbang dari singgasananya, imbasnya pun sangat terasa bagi kami yang dirantauan. Pristiwa 1998 membuat kami angkat kaki dari tanah rantauan yang makmur itu. Hasil yang dibawa pun sekedar sebagai sangu.

Sekembalinya dari rantauan, segala ikhtiar mendongkrak kondisi ekonomi keluarga pun tak henti dilakoni sang Ayah, tak terkecuali kembali menjadi buruh tani. Tapi kali ini, beliau hanya menerima tawaran menjadi buruh tani di sawah masjid Bilekere dan H. Syafii Tohpati.

Dengan menjadi buruh tani di dua tempat itulah, beliau mengais hasil untuk menyekolahkanku di Pondok Pesantren Selaparang Kediri. Masih teringat dalam memoriku, betapa saat-saat saya pulang mondong, saya tak menemukan beliau di rumah, setelah diberitau -ibu- Ayah masih di sawah, saya pun mencarinya.

BACA JUGA  Ketika Corona Kehilangan Wibawa Oleh Pakaian Baru Hari Raya Oleh: Zulbajang

“Ayah, bagus sekali padinya?” support saya satu waktu kala itu.

“Ya, nak! Mudah-mudahan hasilnya berkah. Besok, kalau sudah panen, saya gilingkan padinya, untuk saya antarkan kamu ke Pondok, supaya kamu lebih fokus dan makin rajin mengaji.” kata beliau penuh perhatian.

Itulah dialog terakhirku bersama sang Ayah, di tengah sawah milik H. Syafii yang berada di tepian sungai “Oloh Atas”. Dialog terakhir sebulan sebelum beliau meninggalkan kami sekeluarga untuk selamanya.

“Selamat jalan, Ayahku!”…

Ikhtiar perjuanganmu siap kami melanjutkan…!

Mataram, 05 Maret 2020 M.