Prof Dr Harapandi: Tipuan Dunia

Prof Dr Harapandi: Tipuan Dunia

Hadits Nabi kita Muhammad Sallallahu ‘Alaihi Wasallam yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, beliau bersabda;
 
“Apabila engkau melihat Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan kepada seorang hamba kenikmatan dunia dan segala isinya yang dicintainya, maka ketahuilah itu hanyalah istidraj”.
 
Kemudian Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wasallam membacakan al-Qur’an Surat al-An’am/6:44:
 
“Maka ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, kamipun membukakan semua pintu (kesenangan) untuk mereka. Sehingga ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan oleh mereka, kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam dan putus asa.
 
Dalam hadits tersebut, kita diingatkan oleh Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wasallam agar jangan cepat kagum dengan manusia-manusia yang bergelimang harta benda dan kekayaan, hidup keduniaannya begitu makmur, seolah-olah apa yang diinginkannya pasti bisa terwujud saat ini juga. Sedangkan mereka kafir, munafiq ataupun fasiq. Terkadang ada manusia yang suka protes kepada Allah, “Ya Allah mengapa si pulan begitu mudah memperoleh harta benda, segala kehidupannya begitu mudah, padahal mereka adalah orang-orang yang tidak mempedulikan perintah-Mu, bahkan kerap kali suka melakukan maksiyat. Sedangkan kami, yang beriman kepada-Mu dan senantiasa menjalankan perintah-Mu dan menjauhi larangan-Mu, tetap dalam keadaan susah. Dimana letak keadilan-Mu ya Allah?!
 
Padahal realitas sesungguhnya adalah dengan bertambahnya kekayaan bertambah pula problematikanya dan tanggungjawabnya di akhirat.
 
Dalam hadits ini juga, kita diajarkan sebuah sikap agar selalu berhati-hati karena keberlimpahan harat dan kekayaan kadang istidraj. Tertipu oleh bergelimang harta benda, tetapi melupakan agama, dia lupa dari mana dia berasal dan akan kemana dia setelah kematian menjemputnya.
 
Keadaan seperti ini terus diulur oleh Allah bagi mereka dengan segala kenikmatan dunia sampai kematian datang kepada mereka secara tiba-tiba sehingga mereka tidak bisa mengelak lagi. Pada saat itulah yang ada hanya penyesalan, sebagaimana yang digambarkan oleh Al-Qur’an:
 
“Dan mereka berteriak di dalam neraka itu,’ya Tuhan kami keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal saleh berlainan dengan apa yang telah kami kerjakan’. Dan apakah kami tidak memanjangkan umur kamu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan apakah (tidak) datang kepadamu pemberi peringatan? maka rasakanlah (azab kami) dan tidak ada bagi orang yang zalim seorang penolong pun (QS. Al Fatir:37)
 
Ketahuilah bahwa kita berada dalam ruang dan waktu. Waktu terus bergulir, bergerak maju, tak pernah berhenti apalagi mundur. Hidup itu juga bagaikan garis lurus yang tak pernah kembali ke masa yang lalu, dan bergerak terus sampai ke titik terakhir. Sedangkan di sisi lain amal saleh kita tidak berjalan sebagaimana berjalannya waktu.
 
Karena itu dalam hadits yang lain, Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wasallam. juga mengingatkan kita agar bersegera melakukan amal saleh sebelum terlambat, beliau bersabda:
 
“Bersegeralah kalian untuk melakukan amal saleh sebelum datangnya fitnah sebagaimana gelapnya malam gulita. Pagi-pagi seseorang beriman, sore harinya kafir. sore harinya beriman, paginya dia kafir.”
 
Karena itu marilah kita sebagai sebagai hamba Allah: pertama, harus benar-benar memperhatikan perjalanan hidup kita yang selama ini telah kita nikmati. Apakah amal saleh kita sudah lebih banyak dari pada jumlah usia kita, atau barangkali sama, atau barangkali jauh lebih kurang amal saleh kita daripada umur kita.
Kedua, marilah kita berkomitmen untuk senantiasa fokus ke akhirat dan amal saleh, dalam arti segala aktifitas kita -baik hablumminallah atau pun hablumminannas- selalu kita arahkan untuk meraih ridho Allah daripada hanya mengejar kesenangan duniawi belaka yang tiada ujung dan tiada akan pernah puas.
 
Ketiga, Beribadahlah kepada Allah dengan penuh ikhlas dan merendahkan diri, marilah kita lakukan dengan sungguh-sungguh kehidupan dunia dalam rangka mencari karunia-Nya apapun profesi kita, semata-mata dalam rangka meningkatkan kehambaan kita kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Semoga Allah senantiasa membimbing kita ke jalan-Nya.
 
“Janganlah kalian ditipu oleh kebebasan orang-orang kafir di negerinya. Mereka memperoleh kenikmatan sedikit saja kemudian ditempatkan di neraka jahannam sebagai seburuk-buruknya tempat.” (QS. Ali Imron: 196-197)
 
Wallahu A’lamu bi al-Shawab

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA