Puasa adalah waktu terbaik untuk melatih kesabaran, termasuk ketika menerima masukan dari orang lain, walaupun cara penyampaiannya kurang baik dan berpotensi menyakiti hati. Masukan tetaplah sesuatu yang bernilai, asalkan kita mampu menerimanya dengan hati yang lapang dan pikiran yang tenang.
Misalnya, ada seseorang memberikan uang recehan yang lusuh kepada temannya. Teman yang menerima uang itu berkata dengan nada yang kurang mengenakkan, seperti, “Kok uangnya bau dan lusuh? Masa recehan saja? Tidak ada uang kertas, ya?” Kata-kata ini mungkin terdengar kasar, tetapi jika kita melihat esensinya, masukan tersebut bertujuan untuk mengingatkan agar memberikan sesuatu yang lebih baik.
Dalam situasi ini, orang yang memberikan uang hendaknya bersabar. Ia tidak perlu tersinggung, tetapi cukup mendengarkan masukan itu dengan tenang. Setelah itu, ia bisa menjelaskan kembali bahwa uang yang diberikan tetap bernilai meskipun dalam bentuk receh atau lusuh. Sikap sabar ini menunjukkan kematangan diri dan menahan diri dari rasa tersinggung, apalagi di bulan Ramadan yang menuntut kita untuk menjaga emosi.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali Imran: 134)
Contoh lain adalah ketika seorang teman biasa memberikan masukan kepada seorang ustaz, seperti, “Kalau salah bicara, baca istighfar, dong!” Cara penyampaiannya mungkin terkesan kurang sopan dan bisa saja membuat seorang ustaz merasa direndahkan. Namun, jika dilihat dari inti pesan, masukan itu mengingatkan agar memperbanyak istighfar, yang merupakan amalan baik.
Dalam hal ini, seorang ustaz sebaiknya bersabar. Ia tidak perlu merasa direndahkan, melainkan fokus pada niat baik dari masukan tersebut. Ia bisa menahan diri dari emosi atau rasa gengsi, lalu dengan sabar mendengarkan dan merespons dengan bijak. Misalnya, ia bisa mengatakan, “Terima kasih atas masukannya, mari kita sama-sama memperbanyak istighfar.” Sikap ini tidak hanya menjaga hubungan baik, tetapi juga menjadi teladan bagi orang lain.
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرْعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
“Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang yang kuat adalah yang mampu mengendalikan dirinya saat marah. (HR. Bukhari dan Muslim)
Dari kedua contoh di atas, kita belajar bahwa sabar adalah kunci utama dalam menerima masukan, meskipun cara penyampaiannya kurang baik. Berikut adalah beberapa pelajaran penting:
1. Menahan Emosi
Sabar membantu kita menahan emosi saat menerima masukan yang disampaikan dengan nada atau kata-kata yang tidak enak.
2. Melihat Niat Baik
Fokuslah pada niat baik dari pemberi masukan, bukan pada caranya. Dengan begitu, kita bisa mengambil hikmah tanpa merasa tersinggung.
3. Respon Bijak
Setelah mendengarkan masukan, berikan tanggapan yang santun. Ini menunjukkan bahwa kita menghargai usaha orang lain untuk memberi nasihat.
Allah berfirman:
إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153)
Sikap sabar dalam menerima masukan, terutama di bulan Ramadan, adalah bentuk ibadah yang mendekatkan kita kepada Allah. Dengan bersabar, kita tidak hanya menjaga hubungan baik dengan orang lain, tetapi juga memperbaiki diri dan mendapatkan pahala yang berlipat ganda.
Mudahan kita bisa menjadikan Ramadan sebagai momentum untuk melatih sabar dalam menghadapi berbagai situasi, termasuk saat menerima masukan dengan cara yang kurang menyenangkan.




