Ummat Islam lebih utama dibanding kepentingan organisasi. Demikian apa yang bisa dipahami oleh Alexa. Hal itu ia dengar dari salah satu murid TG. Yusuf, amid Ma’had. Bahwa menurut pengalaman–saya bilang pengalaman–si murid, almagfurlah selalu mendahulukan kepentingan ummat Islam daripada tugas organisasi. Dari sini kita bisa pahami bahwa perjuangan Almagfurlah; salah satunya adalah soal seberapa banyak objek dari kebaikan yang kita punya. Selalu soal mana yang lebih besar maslahatnya untuk ummat. Sebenarnya ini sangat wajar jika melihat kembali dari implikasi keyakinan Islam yang Almagfurlah anut, ahlussunnah wal jama’ah.
Banyak peniliti pustaka sudah banyak menyebut, bahwa pemimpin yang zolim lebih baik dibanding terpecahnya ummat. Demikian implikasi logis aliran ini kata mereka. Aswaja dalam sejarahnya dikenal sebagai satu aliran yang mengambil jalan tengah; saat itu soal perbedaan pandangan dalam ilmu kalam. Kalau konteks saat itu adalah soal kehendak manusia; ada dua aliran yang sangat familiar. Disebut mu’tazilah sebagai aliran yang mengatakan kehendak manusia tak ada kaitannya dengan kehendak Tuhan. Sedang di tempat lain, disebut jabariah sebagai kelompok yang mengatakan ketidakadaannya kehendak manusia; yang ada kehendak Tuhan. Inilah sebab mereka disebut jabariah atau dalam bahasa indonesia “dipaksa”.
Aswaja seperti yang disebut banyak orang berada di tengah dua aliran itu. Aswaja mengiyakan adanya kehendak bebas yang dimiliki manusia dan kehendak tuhan pada manusia. Secara sederhana, ia mengambil tengah. Karena memang dua aliran yang sudah disebut sama menggunakan dalil naqli; dalilnya ada dalam Qur’an. Sehingga soal ini adalah soal bagaimana memadukan dalil-dalil naqli.
Ada metodologi yang berbeda yang digunakan oleh masing-masing aliran sehingga terjadinya hasil ijtihad yang berbeda antar ulama’. Untuk konteks negara; soal kepemimpinan serta hal-hal terkait semisal bentuk negara dan lain seterusnya, aswaja lebih mengutamakan stabilitas dibanding perpecahan ummat. Secara kasar bisa kita bilang gak papa pemimpin zolim, asal negara aman. Saya tidak bermaksud ingin dipimpin orang zolim.
Bagi saya, stabilitas memiliki mudarat lebih sedikit walau pemimpinnya zolim daripada pemimpinnya tidak zolim, namun ummat terpecah belah; jika mudaratnya lebih sedikit, jangan ragu dipilih. Demikian ulama’ menyebut qoidah itu untuk memilih yang lebih sedikit mudaratnya. Maka stabilitas adalah simbol dari kemaslahatan yang lebih besar, sehingga ia utama dalam aliran ini. Alexa pernah cerita soal TGB ketika menjelaskan resonansi kebermanfaatan yang lebih besar; karena ada hal-hal yang tidak bisa disentuh oleh gerakan kultural. Baik TGB dan Almagfurlah bergerak untuk kebermanfaatan untuk ummat; demikian dikatakan sangat tegas oleh sejarah.
Mereka berdua bentuk nyata dari firman tuhan, rahmat untuk sekalian alam; inilah sekaligus motif gerakan mereka berdua.
Alexa sebenarnya sudah sangat sering mendengar soal ini, terutama sejarah kebangkitan islam yang di dalamnya banyak bicara soal tafsiran Islam yang baru–bukan baru tepatnya, namun pengembangan. Banyak tokoh cendikiawan muslim kontemporer yang menyebut ayat-ayat sosial. Alexa bahkan menemukan judul kalam sosial dan tasawuf sosial. Kedua buku ini dasarnya mirip-mirip sama. Salah satu cendikiawan pernah bilang bahwa ukuran keberimanan seseorang adalah apa ia bermanfaat apa tidak terhadap manusia yang lain.
Pasca tafsiran ini muncul, ulama’ sekaligus penggerak Islam rata bergerak untuk ummat dan kemuliaan Islam. Semua soal kebermanfaatan. Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk manusia. Demikian hadits yang sangat akrab di kita.



