Menguji Kesempurnaan Manusia

banner post atas

oleh Zulkarnaen

Saya pikir banyak orang berpendapat dan setuju soal kemajuan teknologi ke depan akan semakin maju–kita bisa cek sendiri bagaimana negara maju–sekarang!–sedang melakukan banyak percobaan soal kemajuan yang lain. Ummat manusia secara otomatis akan semakin dimanjakan; pasca dimulai sejak revolusi industri terutama–kehidupan sejak saat itu lebih ringan daripada sebelumnya; dengan adanya berbagai teknologi. Detik ini, kita bisa menyaksikan bahwa banyak pekerjaan manusia dilakukan oleh mesin dan manusia tak perlu membuang energi yang banyak seperti dahulu; meskipun untuk desa saya, masih menggunakan cara lama dalam banyak hal.

Kemajuan teknologi sebagaimana ditenggarai Harary dalam bukunya 21 Pelajaran di Abad 21 menyebut bahwa manusia lebih mudah menemukan hal baru daripada mengurangi dampak negatif penemuannya. Hal ini dikatakan Harary ketika membahas prediksi pencapaian manusia seratus tahun kedepan; akan banyak temuan dan akan banyak dampak negatif yang manusia sendiri kewalahan menghadapinya. Tulisan ini tidak akan membahas soal dampak negatif teknologi, tapi soal kebebasan manusia sebagai satu mahluk dan dinamika internal terhadap diri manusia sendiri dalam merespon segala bentuk kemajuan teknologi.

Iklan

Manusia seperti yang disebut Harun Yahya adalah mahluk yang sangat kompleks, indah dan sangat luar biasa dengan segala yang menyusunnya. Ia adalah satu mahluk yang lebih baik dibanding mahluk lainnya. Salah satu hal yang membuatnya sangat berbeda adalah kesadaran hidup dan kebebasan yang dimilikinya.

Selain itu, ia juga memiliki hal-hal serupa dengan mahluk lain sebagai konsekuensi memiliki tubuh dan tentunya kebutuhannya–disebut oleh Imam Alghozali bahwa menyukai hal-hal menyenangkan adalah konsekuensi tubuh itu. Dengan kata lain bahwa manusia tak hanya memiliki kebebasan dan kesadaran itu, namun juga dilengkapi dengan keinginan semacam itu–Islam menyebutnya sebagai bagian dari nafsu. Inilah kemudian nanti disebut oleh beberapa tokoh Barat sebagai bagian penentu dominan dari tindakan manusia. satu dari mereka, Sigmund Freud dalam hal ini mengatakan bahwa bukan rasionalitas yang menentukan tindakan manusia, bahkan kadang bukan keimanannya.

BACA JUGA  Petugas Himbau Warga Agar Patuhi Pokes di Saat Patroli PPKM Mikro

Bahwa tahu tidak akan menentukan tindakan manusia. Kesimpulan tokoh lain juga menguatkan kesimpulan semacam Freud bahwa manusia lebih banyak bertindak berdasarkan emosi.
Kesimpulan mereka berdua bagi saya adalah sebuah konfirmasi atas terjadinya banyak dampak negatif dari teknologi. Saya pikir kita sepakat bahwa teknologi lebih mudah dipergunakan untuk hal yang negatif, meskipun banyak orang memang menyebut teknologi adalah sesuatu yang netral, namun mereka juga menyebutnya sebagai sebuah tantangan! untuk menggunakannya dalam hal positif.

Hal ini bisa dikonfirmasi dari seberapa banyak pengguna media sosial yang menggunakan media sosial untuk yang semestinya atau untuk membuang waktu dengan segala akses yang kini ada di media sosial. Untuk orang-orang tertentu sangat khawatir terhadap hal semacam ini, bahkan mereka sampai melakukan sosialisasi, gerakan untuk mengurangi dampaknya–saya pikir anda bisa menebak hal itu. Tak hanya itu, ternyata gerakan yang berasal dari kekhawatiran tersebut sampai pada level struktural pemerintah dalam rangka tujuan yang sama, mengurangi.

Di siniah kemudian, kita bisa mengatakan bahwa kebebasan dan kesadaran yang dimiliki manusia diuji oleh hal yang dimiliki manusia sendiri–nafsu yang kita sebut di awal atau kecenderungan untuk bersenang-senang. Bahwa terjadi dinamika secara terus menerus dalam diri manusia. Kadang ia disadari, kadang tidak, saking sudah terbiasa terhadap sebuah tindakan atau aktivitas. Hal semacam ini sejak awal manusia muncul di alam semesta adalah hal yang tak pernah alpa di kehidupan manusia–dinamika internal itu terus terjadi–bahkan sampai bumi ini tidak ada. 

Apapun kemudian bentuk kemajuan yang dicapai oleh kecerdasan manusia, akan sama saja kembali kepada manusia itu sendiri; soal kemampuan memanfaatkan potensi kebebasan dan kesadaran. Kemajuan tetaplah hal yang netral sebagaimana disebut di awal, beberapa menyebutnya man behind the gun; pistol itu tergantung yang memegangnya. Konteks inilah yang menegaskan arti penting manusia sebagai pemilik dirinya sendiri, bukan dikontrol oleh kecenderungan itu. Kalau tidak salah memang Nabi pernah memberi peringatan soal ini dengan menganalogikan budak dan raja dalam tubuh manusia. Peringatan ini setidaknya memberikan pemahaman bahwa banyak manusia mengikuti budak dalam tubuhnya.

BACA JUGA  Wakil Bupati Lotim Dan PT.Tamada Pumas Abadi,Serahkan bantuan Covid-19.