Zulkarnaen :Gimana Rasanya Cinta?

Zulkarnaen :Gimana Rasanya Cinta?

Kemarin ketemu dengan salah satu temen satu jurusan. Pertemuan yang jarang sekali terjadi. Bisa dihitung dengan jari. Padahal satu jurusan selama mau 4 tahun. Mungkin karena pengaruh beda bacaan buku hehe. Dianya seneng buku Barat, rasional approach to everything. Saya kental dengan Islam Approach. Saya pikir memang ada benernya. Konsen bacaan akan menunjukkan bersama siapa kita akan sering ketemu. Jodoh juga hehe. Hukum alam kayaknya gitu. Mendekatkan orang yang memiliki kesamaan pikiran, pemahaman dan bacaan. Hukum Low Of Attraction kayaknya ini maksudnya.

Dianya langsung nanya gimana rasanya Cinta? Hehe. Katanya jak saya dianggap banyak tahu. Dia bilang hanya nanya ke orang tertentu. Dulu pernah dia nanya “bagaimana cara mencintai sesuatu yang gak kita lihat?”. Saya memeras pikiran saat menjawabnya. Dianya sedang membaca karya Karen Amstrong, penulis buku Masa Depan Tuhan dan Sejarah Tuhan. Hehe pantesan mukanya mengkerut. Mikirin tuhan selama ini.

Awalnya saya bingung apa dia gak pernah jatuh Cinta. Ya masak segede dia udah mau ujian skripsi belum ngerasain hehe. Katanya jak pernah, namun tak pernah lama, paling lama satu malam. Nah ini namanya Cinta Satu Malam. Lalu saya mulai mencoba menjawab dengan mengutip kesimpulan penulis Anatomi Sistem Sosial, Dr. Husni Mu’adz, kata Kahlil Gibran hehe dan Firsa Besari. Pertama, Muara Cinta adalah penyatuan (memiliki satu sama lain), gerakannya adalah saling mendekati. Kedua, Cinta sulit didefinisikan karena banyaknya realitas dua insan yang saling mencinta. Ada yang mati karena Cinta, ada Cinta yang tak harus memiliki, ada yang membangun Taj Mahal sebagai bukti Cinta, ada menurunkan tahtanya karena Cinta dan lain seterusnya.

Sehingga cukuplah Cinta dirasakan kata Kahlil Gibran. Ketiga, Cinta itu adalah anugrah, rindu adalah konsekuensi, bahagia adalah bonus. Kurang lebih seperti ini kata Firsa.
Jadi menurut Dr. Husni, Cinta adalah sebuah motif manusia untuk memiliki yang dicintai. Orang yang saling Cinta akan melakukan proses saling mendekati karena muaranya adalah penyatuan. Sehingga Cinta itu dideteksi ia apa tidaknya dari keinginan yang muncul dalam diri manusia. Jika ia ingin memiliki, maka itu cinta. Dr. Husni tak hanya menyebut Cinta dengan pemaknaannya dalam konteks manusia. Ia menyebut Cinta kepada benda sekalipun. Yang membedakannya hanya pola interaksinya saja. Jika itu benda, maka pola interaksinya adalah monolog.

Sedang manusia berpola dialog. Sehingga Cinta mengidealkan dialog antar manusia, hubungan terbalaskan satu sama lain.
Sedang menurut Gibran, ia kesulitan mendifinisikan Cinta. Ia mentok, lalu menyimpulkan cukuplah Cinta dirasakan. Baginya Cinta adalah sebuah akibat atau respon dalam sistem internal rasa manusia. Cinta akan muncul secara otomatis ketika seseorang yang dicintai hadir dalam kehidupan manusia. Untuk mengetahui apakah itu Cinta, jika kita setuju, kita pakai pandangan Dr. Husni di atas.

Firsa tidak jauh berbeda dengan kesimpulannya Gibran. Cinta bagi Firsa lebih dilihat sebagai pemberian transenden atau tuhan. Sehingga ia menyebutnya sebagai anugrah. Sehingga logis kemudian manusia tak mengalami jatuh Cinta kepada semua manusia. Ia hanya jatuh Cinta pada orang-orang tentu karena bersifat given by the god.
Ok nanti ta lanjutin.

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA