Fatwa MUI: Tegas pada Sholat Jum’at lunak pada Sholat Hari Raya Oleh: Abdurrahman, S.Pd.I

Fatwa MUI: Tegas pada Sholat Jum’at lunak pada Sholat Hari Raya Oleh: Abdurrahman, S.Pd.I

Hampir empat bulan lebih berjalan wabah virus corona menemani hari-hari kita rakyat Indonesia bahkan dunia. Berbagai problem telah terjadi efek dari wabah global asal wuhan cina tersebut. Mulai dari korban yang berjatuhan hingga jeritan rakyat yang kelaparan akibat terlalu lama berdiam diri dirumah tampa ada penghasilan seperti biasanya. Tidak sedikit perusahaan yang menjatuhkan tindakan PHK kepada karyawannya hingga angka pengangguran terus bertambah.

Kondisi ekonomi indonesia pasca munculnya wabah virus corona semakin memburuk hingga pemerintah berputar otak berupaya memperbaiki keadaan. Namun usaha itu justru memperoleh gelombang kritikan dari berbagai pihak terhadap sikap pemerintah yang dinilai lamban dalam bertindak dan terkesan tidak sungguh-sungguh dalam mengatasi persoalan covid-19 di tanah air.

Beda halnya dengan persoalan ekonomi, yang tidak kalah gaduhnya adalah persoalan peribadatan umat beragama di indonesia. Sejak ditetapkannya indonesia sebagai wilayah status darurat covid-19, MUI sebagai lembaga yang mewakili ummat beragama di indonesia, tidak lama kemudian mengeluarkan Fatwa guna mengatur peribadatan ummat beragama di indonesia.
Langkah ini diambil menyusul adanya maklumat dan himbauan pemerintan terhadap masyarakat untuk tidak melakukan aktifitas dan berkumpul ditempat keramaian guna memutus mata rantai penyebaran covid-19.

Diantara fatwa yang dikeluarkan oleh MUI tersebut adalah tentang pelarangan melaksanakan ibadah sholat jumat bagi ummat islam untuk sementara waktu hingga situasi kembali normal seperti semula. Fatwa ini kemudian secara berantai turun ke daerah-daerah yang dinilai masuk wilayah zona merah terhadap bahaya virus covid-19. Sehingga MUI ditingkat daerah pun mengeluarkan fatwa yang sama yakni melarang jamaah untuk melakukan sholat berjamaah dan sholat jumat di masjid untuk sementara waktu hingga situasi kembali normal. Meskipun fatwa sudah dikeluarkan namun masih banyak ditemukan masjid-masjid yang masih tetap melaksanakan sholat jumat seperti biasanya.

BACA JUGA  Pengamat: Dengan Pembatasan Sosial Berkala Besar, Virus Covid-19 Akan Berakhir

Fenomena ini pun menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat. Bagi yang mengabaikan fatwa MUI, mereka beralasan bahwa masyarakat yang melaksanakan sholat jumat merupakan warga setempat bukan warga luar atau pendatang. Disisi lain mereka juga menganggap jika masyarakat dilarang berkumpul di masjid untuk melaksanakan sholat jumat, lantas mengapa pasar dan pusat perbelanjaan lainnya tetap dibuka dan beroperasi seperti biasa. Bukankah hal itu juga rentan terjadinya penularan virus covid-19.

Sebaliknya dari pihak yang patuh terhadap fatwa MUI, mereka menjalankan fatwa dengan penuh kesadaran tampa memperdebatkan isi dari fatwa yang telah dikeluarkan oleh MUI tersebut. Mereka menganggap bahwa fatwa MUI merupakan perkara yang wajib dijalankan karena itu merupakan bagian dari perintah agama.
Seiring berjalannya waktu hingga memasuki bulan suci ramadhan, fatwa MUI tidak berubah dan pemberlakuannya yang sama pula terhadap sholat taraweh berjamaah di masjid. Sehingga selama bulan ramadhan masjid-masjid tampak sepi dari aktifitas sholat taraweh secara berjamaah. Meskipun dilain pihak masih terdapat masjid yang tetap menjalankan ibadah sholat taraweh berjamaah di masjid.

BACA JUGA  SIFAT KETIKA MENJADI PEMIMPIN

Setengah dari bulan suci ramadhan telah berlalu dan kurang lebih satu pekan lagi ummat islam akan merayakan hari raya Idul Fitri. Dengan hadirnya hari raya Idul Fitri maka MUI pun memperbaharui fatwanya, yang selama ini melarang ummat islam untuk melaksanakan sholat berjamaah dan jumat dimasjid. Namun hari ini MUI memberi kelonggaran dengan memperbolehkan sholat hari raya Idul Fitri secara berjamaah dimasjid maupun ditempat terbuka seperti lapangan bagi wilayah yang masuk kategori zona hijau.

Namun sayang fatwa ini begitu saja keluar tampa dibarengi dengan informasi secara utuh kepada masyarakat terkait wilayah-wilayah yang dapat dikategorikan zona merah dan zona hijau. Mengingat hari ini masih banyak masyarakat yang tidak paham terhadap lingkungan atau desanya apakah masuk kategori zona merah atau zona hijau. Bagi penulis perkara ini adalah perkara yang paling utama agar masyarakat tau tentang status daerahnya. Jika ini tidak dilakukan maka patut kita khawatir masyarakat menjadi lalai dan bebas melakukan kontak fisik di hari raya idul fitri secara berlebihan hingga menimbulkan kasus positif corona yang lebih besar dari hari sebelumnya. Karena karakteristik antara sholat jumat dengan sholat hari raya idul fitri sangat berbeda.

BACA JUGA  Operasi Yustisi 1.015 Orang Terjaring Razia Prokes Covid-19.

Jika sholat jum’at sebatas dilakukan oleh jamaah laki-laki maka berbeda hal dengan sholat Idul Fitri yang melibatkan seluruh jamaah baik laki-laki maupun perempuan, yang sesungguhnya kita tidak tau apakah diantara mereka seluruhnya negatif atau bisa jadi ada yang positif. Sehingga hal ini rentan terjadinya kasus positif corona lebih besar dari sebelumnya. Tentu kita tidak berharap hal itu terjadi, namun langkah antisipasi seharusnya lebih diutamakan sehingga tidak menimbulkan persoalan yang lebih besar lagi ke depan.
Semoga ibadah ramadhan kita mendapatkan keberkahan dan menjauhkan kita dari wabah virus corona yang sedang melanda negeri ini dan menyambut hari raya Idul Fitri dengan penuh keimanan dan kegembiraan.

Mataram, 15 Mei 2020

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA