Belajar Menjadi Islam Oleh : Zulkarnaen

Belajar Menjadi Islam Oleh : Zulkarnaen

Banyak cendikiawan muslim telah melontarkan keritikan kepada cara beragama kita. Ritual keagamaan, salah satu dari hal-hal itu. Kita mungkin adalah bagian dari orang-orang yang melakukan ritual agama yang masih pada level formalitas. Hari raya Idul Adha dan segala pernak perniknya masih terkesan masih sebagai euforia.

Idul Adha sebagaimana biasanya kita lewati dari tahun ke tahun. Anda yang sudah berumur 25 tahun tentu akrab sekali dengan cerita Nabi Ibrahim dan soal kepedulian terhadap sesama. Namum saya pikir mungkin kita sepakat soal spirit dari hari raya ini tak bertahan lama. Bahkan tak melewati hari tasrik sekalipun. Momentum hari raya ini beralih mejadi momentum mendokumentasikan kepedulian kepada orang lain. Saya tak punya masalah dengan fonomena ini. Namun saya pikir ini penting untuk dipikirkan karena spirit hari raya masih jauh dari ini.

Idul Adha seharusnya adalah momentum penegasan akan sistem sosial kehidupan masyarakat Islam kepada sistem kepercayaan yang lain. Secara di dunia banyak sekali sistem kepercayaan yang dianut oleh penduduk bumi ini. Dalam konteks ini, idul Adha juga merupakan bagian dari syiar dakwah akan citra Islam yang humanis.
Namun kita benar-benar tak pernah move on dari ritual formalitas. Saya dan anda mungkin sama telah menyaksikan tak ada yang terlalu bisa kita ceritakan kepada generasi berikutnya tentang nilai idul Adha yang hidup selesai perayaan hari raya.

Situasinya sama saja dari 5-10 tahun lalu. Hari raya masih biasa saja dan kita bereuforia.
Penting sekali bertanya apa yang harus kita lakukan pasca hari raya. Secara kita masih dalam situasi memperbaiki citra Islam dan memperjuangkan ummat Islam yang masih dalam masalah-masalahnya. Ekspresi beragama kita yang cenderung masih an sich dalam hal-hal ritual dan nir manusia. Inilah mungkin yang menyebabkan citra Islam pernah diklaim hanya mengurus akhirat saja.
Saya pikir kita paham soal makna Idul Adha. Hal yang penting kita lakukan kedepan adalah belajar mengamalkan nilai-nilai idul Adha. Secara tidak langsung, kita juga ikut dalam membumikan ajaran Islam yang selama ini diklaim melangit tak menyentuh manusia.

Belajar menjadi sebuah keharusan bagi kita disebabkan mungkin kita sudah terbiasa dengan zona nyaman kita. Apalagi dengan adanya tesis Freud soal jarak pengetahuan dan tindakan manusia yang jauh sekali. Belajar menghidupkan nilai idul Adha adalah konsekuensi yang harus kita lakukan.
Penting kemudian juga kita bertanya atas apa yang mempengaruhi kebiasaan kita selama ini. Bahwa karena faktor kebiasaan, kita agak sulit pindah dari zona nyaman. Namun bagi mazhab behavioristik kebiasaan itu bisa kita buat dalam 20 hari.

Kita hanya perlu membantu sistem tubuh untuk mengatur kebiasaan baru dalam tubuh kita.
Dalam konteks kita seorang muslim saya pikir perlu kita tetap ingat akan harusnya kita belajar untuk menghidupkan nilai-nilai keislaman kita. Tentu dalam kehidupan yang kita jalani. Kita harus move on dari ibadah formalitas menuju ibadah yang nilainya hidup dalam kehidupan kita- sampai nilai tersebut memunculkan rahmat bagi seluruh alam.
Kita harus mulai dari sekarang. Mulainya kita adalah bagian dari mesin besar dari yang namanya Islam. Abduh pernah mengatakan Islam tertutupi oleh penganutnya. Sehingga kita adalah bagian dari citra Islam. Islam sudah cukup menjadi bagian belakang dari peradaban dunia hanya karena disebabkan kita tak belajar menghidupkan nilai-nilai Islam.

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA