Implikasi-Logis Kebangkitan Islam
Abad 18 menjadi awal dari kebangkitan Islam. Pada abad itu, cendikiawan-cendikiawan muslim menyuarakan ketertinggalan ummat Islam dari Barat. Narasi dibukanya pintu ijtihad pun sangat kuat. Menurut para cendikiawan, salah satu penyebab ketertinggalan ummat Islam adalah karena ditutupnya pintu ijtihad, akal tak diberikan ruang yang besar untuk menggali ilmu pengetahuan.
Peristiwa mihnah yang terjadi saat mu’tazilah menjadi ideologi resmi negara meninggalkan bekas yang dalam untuk ummat Islam-mazhab hadits. Hal ini berimplikasi kepada sikap politik pemimpin berikut dalam meniadakan sama sekali segala yang terkait mu’tazilah. Ummat Islam kemudian saat itu mulai jauh dengan ilmu-paradigma rasional. Penggunaan akal berkurang dan ajaran taklid kepada ulama’ kemudian hidup dalam masyarakat.
Ilmu-paradigma rasional semakin terpukul oleh pendapat para ulama’ yang sangat berpengaruh pada ummat Islam saat itu, semisal Imam Alghozali. Dalam pandangan imam Alghozali kemudian ilmu terbagi menjadi dua, ilmu syariah & ilmu goirusyariah. Ilmu yang pertama secara tidak langsung diistimewakan oleh Imam Alghozali karena hukum menuntutnya adalah fardhu ain, sedang yang kedua adalah fardhu kifayah.
Hal tersebut berimplikasi kepada sikap ummat Islam kepada bagaimana memandang ilmu, bahkan sampai dipandang dikotomi, bertentangan satu ilmu dengan ilmu lainnya. Ilmu-ilmu dunia menjadi ilmu inferior di bawah ilmu-ilmu akhirat. Dalam hal ini, cendikiawan muslim tak percaya soal dikotomi ilmu pengetahuan di dalam Islam. Mereka kemudian menggali-mengkaji ilmu dalam Islam.
Dalam pelacakannya kemudian ditemukan bahwa Islam dalam sejarahnya tak megenal dikotomi, yang ada adalah pengklasifikasian saja. Masa keemasan Islam pada masa dinasti Abbasyah menjadi salah satu bukti akan terintegrasinya ilmu bukan dikotomi, tak ada yang superior maupun inferior. Banyak tokoh muslim kemudian tak hanya ahli dalam hal ilmu yang dalam tanda kutip ilmu agama, namun juga ahli dalam bidang ilmu umum.
Sepertinya kemudian wajar melihat gerakan-gerakan pendidikan yang dilakukan oleh ulama’ postmodern di Indonesia ini semisal Kyai Ahmad Dahlan, Hamzanwadi, Hasym Asy’ari yang tak hanya transenden-oriented, namun humanis-oriented. Hamzamwadi misalnya menyebut ilmu-ilmu humanis dalam lagu-lagunya seperti kimia, geografi, aljabar dan lainnya yang menunjukkan ilmu yang dibutuhkan ummat Islam hari ini.
Berangkat atas dasar prinsip integrasinya ilmu pengetahuan kemudian berimplikasi pada paradigma pendidikan Islam yang humanisme-teosentris. Dalam konteks pendidikan anak-anak, dalam hal ini Taman Pendidikan Qur’an dilihat perlunya akan adanya reformasi kurikulumnya yang masih hanya berisikan ilmu-ilmu dalam tanda kutip agama semisal akhlak, fikih, tajwid dan tidak ada ilmu-ilmu umumnya. Seharusnya kemudian pendidikan benar-benar membantu manusia dari sejak kecilnya.
Implikasi-logis bentuk pendidikannya minimal paduan orientasi Islam dan Barat, dalam konteks paradigma rasional-sainsnya. Dalam kurikulumnya kemudian harus masuk ilmu-ilmu umum, tentunya dalam pendekatan belajarnya berdasarkan cara yang paling efektif yang ditahu dan berdasarkan hasil penelitian. Sehingga anak-anak muslim sudah sejak dini sekali akrab dengan ilmu yang menuntun arah hidup serta ilmu yang membantu kemakmuran hidup.
Kemuliaan Islam di masa depan serta para penganutnya harus terealisasi dengan menjadi komunitas yang berkebudayaan tinggi dan tentunya menjadi peradaban luar biasa. Mengutip apa yang disebut dalam buku Runtuhnya Sosiologi Barat bahwa Ernest Gellner menyatakan Islam di masa depan akan benar-benar menjadi pesaing serius kapitalisme pasca komunisme kalah, Islam sepertinya akan benar-benar menjadi solusi atas masalah-masalah kemanusiaan yang terjadi akibat kebudayaan barat.





