Wirid dan Tasyakuran Pahlawan Nasional

banner post atas

Tadi malam, Senin 9/11/20 telah berlangsung acara wirid sekaligus tasyakuran pahlawan nasional TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid pendiri NWDI, NBDI dan Nahdlatul Wathan di pondok pesantren Nahdlatul Wathan Jakarta.

Acara ini diisi dengan pembacaan tarekat Hizib Nahdlatul Wathan yang dipimpin langsung oleh pimpinan Pesantren Jakarta – Bekasi TGKH Muhammad Suhaidi.

Pemilihan tarekat Hizib Nahdlatul Wathan sebagai pilihan wirid tadi malam adalah, karena merupakan salah satu karangan Maulana Syaikh dalam bentuk do’a dan buku wirid yang dijadikan sebagai amalan khusus di Nahdlatul Wathan.

Iklan

Acara berlangsung dengan baik dan lancar, dihadiri dan diikuti oleh ratusan jamaah yang berasal dari sekitar Jabodetabek, yang terdiri dari berbagai kalangan masyarakat, seperti tokoh agama, tokoh masyarakat, dan para jamaah yang berasal dari berbagai majelis taklim, serta jamaah kaum muslimin pada umumnya. Karena membludak nya jamaah yang hadir, akhirnya Masjid HAMZANWADI penuh, dan sebagian jamaah mengikuti acara dari gedung SMA disamping Masjid HAMZANWADI.

Acara difokuskan kepada pembacaan Tarekat Hizib Nahdlatul Wathan, setelah itu ditutup dengan sambutan oleh pimpinan Pesantren Nahdlatul Wathan Jakarta – Bekasi TGKH. Muhammad Suhaidi.

Dalam sambutannya beliau menyebutkan tentang alasan diadakannya acara syukuran pahlawan Maulana Syaikh. Diantaranya adalah sebagai bentuk manifestasi rasa syukur sebagai murid, karena pemerintah telah menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Maulana Syaikh.

TGKH.Muhammad Suhaidi lanjut menjelaskan tentang begitu sulitnya menjadi putra terbaik bangsa diangkat sebagai pahlawan Nasional, setelah melalui proses yang sàngat panjang dan sulit, sampai kepada pengecekan berkas ke Negara yang telah menjajah Indonesia seperti Belanda, untuk mencari jejak bukti perjuangan Maulana Syaikh, sehingga diresmikan sebagai Pahlawan Nasional.

Beliau melanjutkan penjelasannya dengan menyebutkan permulaan kifrah perjuangan Maulana Syaikh terhadap bangsa Indonesia, dimulai dari sejak awal kepulangannya dari Makkah Al-Mukarramah tempat belajar nya menuntut ilmu. Dan dalam berdakwah Maulana Syaikh selalu membangkitkan semangatnya dengan sologan Berjuang, Berjuang, Berjuang. Hidup beliau adalah untuk berjuang, bahkan sore mau meninggal, paginya sempat menitip uang untuk perjuangan.

Beliau juga menjelaskan salah satu resep Istiqomah Maulana Syaikh dalam berjuang adalah matahari, itulah jawabannya kepada masyarakat yang bertanya kepada nya tentang resep Istiqomah. Maulana Syaikh mengatakan bahwa gurunya adalah matahari, yang tidak pernah redup walaupun cuaca dalam keadaan mendung sekalipun.

Setelah selesai sambutan dari TGKH.Muhammad Suhaidi, acara langsung ditutup dengan ramah tamah makan bersama.

Harapannya dari acara ini adalah mudah-mudahan seluruh murid yang setia dan para pejuang dan muhibbin Nahdlatul Wathan diberikan kekuatan untuk bisa mengikuti jejak perjuangan Maulana Syaikh seorang pejuang dan pahlawan agama dan negara.

Fath

BACA JUGA  Mu'izzudin Siswa SMA NW Jakarta Mengikuti Gladi Bersih dalam Acara Puncak Ramadhan Ceria Dinas Pendidikan DKI Jakarta.