Oleh: Abah Rosela Naelal Wafa
“Washatiyah pada tataran sebagai sikap keberagamaan, maka normalnya umat Islam yang memegang suatu agama yang mengandung esensi washatiyah, mestinya kita moderat dengan sendirinya.” Demikian ulas TGB saat acara seminar nasional melalui media zoom dua hari yang lalu (23/9/2020).
Washatiyah pada tataran sebagai sikap keberagamaan kita akan selalu tercermin dari setiap perilaku, cara berpikir, dan cara bertindak.
Nah normalnya –menurut TGB tadi–, kalau kita menganut satu agama yang mengandung esensi washatiyah, maka secara otomatis pemeluk-pemeluknya akan bersikap washatiy alias moderat.
Pandangan tersebutlah yang dibahasakan dalam al-Qur’an dengan mengatakan:
وكذلك جعلنكم أمة وسطا.
(Demikian kami jadikan kalian umat yang pertengahan). (QS. al-Baqarah: 143).
“Ummatan washatan” dalam pandangan dan pengertian yang dijelaskan Prof. Dr. Quraish Shihab dalam tafsir Al-Mishbah vol. 1 halaman 415 sebagai berikut:
“Ummatan washatan” (pertengahan) moderat dan teladan sehingga dengan demikian keberadaan kamu dalam posisi pertengahan itu sesuai dengan posisi Ka’bah yang berada di pertengahan pula.
Atau ada juga yang memahami “ummatan wasathan” –tulis Quraish Shihab– dalam arti pertengahan dalam pandangan tentang Tuhan dan dunia. Tidak mengingkari wujud Tuhan, tetapi tidak juga menganut paham politisme (banyak Tuhan).
Washatiyyah atau pertengahan juga menjadi pandangan Islam dalam memandang dunia; ia tidak mengingkari dan menilainya maya, tetapi tidak juga berpandangan bahwa kehidupan dunia adalah segalanya.
Nah dengan demikian, –bagi TGB– sebenarnya hal ini mengalir begitu saja, atau –bisa dianggap– sebagai sebuah konsekwensi semata, bahwa di mana ajaran agama Islam yang seluruh aspeknya mengandung nilai-nilai washatiyah, maka pemeluknya secara otomatis menjadi المسلمون الوسطيون (muslim yang moderat).
Namun ternyata menariknya di sini. Ajaran agama Islam yang sudah jelas seluruh aspeknya mengandung ajaran washatiyah, tapi tidak semua pemeluknya bersikap washatiy?
“Di mana letak misslidingnya?”, tanya Tuan Guru Bajang.
“Kapan pola normal itu akan terjadi?”, tanya beliau lagi.
Menurut TGB, sebagai jawabnnya ialah ketika pada saat nalar keberagamaan kita sudah menggunakan nalar wasathiy.
Pandangan TGB tersebut adalah buah dari tangkapannya terhadap oesan Grand Syaikh Al-Azhar Ahmad Thayyid yang selalu berpesan agar senantiasa merevitalisasi paham-paham Asy’ariyah dalam kehidupan umat Islam.
Mengapa mervitalisasi Asy’ariyah ini menjadi kunci menurut Grand Syaikh Al-Azhar Ahmad at-Thayyib?
Menurut TGB ialah karena memang nalar keberagamaan yang dihadirkan asy-‘Ariyah itu adalah nalar washatiy. Khususnya dalam ruang lingkup Akidah. Di situlah nalar moderasi itu. Sehingga, ketika sumbernya washatiyah maka akan melahirkan paham-paham dan prilaku yabg washatiy.
Wa Allah A’lam!
Bilekere, 26 September 2020 M.



