Usaha Nelayan Tangkap Benur, Bangkitan Ekonomi Masyarakat Lotim Di Tengah Pandemi Covid-19.

Usaha Nelayan Tangkap Benur, Bangkitan Ekonomi Masyarakat Lotim Di Tengah Pandemi Covid-19.

Sinar5news.com – Selong – Dengan dibukanya peluang Ekspor bibit udang Lobster(Benur) oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia  Edhy Prabowo telah memberikan angin segar kepada sekitar 3.000 nelayan tangkap Benur dipesisir pantai Lombok Timur dengan omset Rp.1,5 milyar.

Hal itu disampaikan Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat(NTB) Drs.Hariadi Suranggana kepada wartawan diruang kerjanya. Senin (10/08/2020).

 

Menurut Hariadi Suranggan ada 13 perusahaan dari 46 perusahaan di Indonesia yang melakukan investasi atau pembelian Benur di Kabupaten Lombok Timur. dan pihaknya berkewajiban untuk memberikan Surat Keterangan Benih(SKB) terhadap bibit lobster yang dibeli oleh perusahaan tersebut.

“Jadi untuk izin operasi bagi perusahaan yang membeli Benur itu dikeluarkan oleh Dirjen perikanan pusat, di Kabupaten hanya mengeluarkan SKB aja, dengan maksud agar dapat diketahui asal usul dari benih Lobster atau benur tersebut,” Ungkapnya.

Ia berkeyakinan dengan dibukanya Exspor benur itu geliat perekonomian masyarakat pesisir di Kabupaten Lombok Timur akan bangkit ditengah Pandemi Covid-19 karena daerah pesisir selatan Pulau Lombok ini termasuk daerah pesisir yang menghasilkan Benur dengan kwalitas bagus.

“Untuk hari ini kisaran harga benur jenis pasir sekitar Rp.12.500 per ekor sedangkan untuk jenis mutiara biasanya harganya dua kali lipat dari bibit udang lobster jenis pasir, dan biasanya nelayan penangkap benur ini bisa dia dapat 200 sampai 300 ekor,” Terangnya.

Hariadi Suranggana juga menambahkan sesuai dengan data dari SKB(Surat Keterangan Benih) jumlah benih Benur yang sudah keluar dari Kabupaten Lombok Timur mencapai 150.000 ekor benur.

“Pada Surat Keterangan Benih itu akan tercantum jumlah benur yang keluar dari Lombok Timur ini, jadi kalau secara hitungan bisnis 150.000 ekor benur  dikalikan Rp.10.000 saja, maka akan beredar uang dimasyarakat nelayan tangkap itu Rp.1,5 milyar,” Papar Hariadi Suranggana.

Prospek pengembangan Lobster dan Benur di Lombok Timur tergolong cukup baik. Hal itu dibuktikan dengan telah dilakukannya perifikasi olek Dirjen Perikanan Kelautan bahwa di Lombok Timur akan mendapatkan program 2.400 lubang KJA untuk budidaya udang Lobster (Kramba).

“Pemerintah Pusat sudah melakukan perifikasi untuk pengembangan Lobster dengan rencana 2.400 lubang Keramba Jaring Apung(KJA), itu diusulkan KJA dengan model HDPE yang untuk 4 lubang biayanya sampai 170 juta. Tapi kita minta supaya KJA nya itu pakai bambu dengan maksud agar masyarakat lotim yang punya bambu bisa menjual bambunya,karena ini akan butuh bambu 40.000 batang. Sehingga perekonomian masyarakat kita bergerak naik,” Pungkasnya.(Bul)     

 

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA