TGH. Yusuf Makmun: Salah satu Modal Dasar Perjuangan NW adalah Kemandirian

banner post atas

Oleh: Abdurrahman (Wakil Ketua V PW Pemuda NW NTB)

Salah satu nilai perjuangan yang diajarkan oleh pendiri Nahdlatul Wathan, Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid adalah Kemandirian dalam berjuang. Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Umum Dewan Mustasyar PBNW TGH. Yusuf Makmun dihadapan rombongan Silaturrahim Ketua PD Pemuda NW se-pulau Sumbawa, Kamis 31 Desember 2020.

“Berjuang itu harus mandiri, tidak boleh bergantung pada pemerintah. Kalaupun di bantu ya Alhamdulillah namun itu bukanlah tujuan”, ungkap Tuan Guru Yusuf.

Iklan

Maulana Syaikh lanjut beliau, senantiasa mengajarkan kepada murid-muridnya tentang kemandirian dalam berjuang. Semasa hidupnya Maualana Syaikh selalu menjadi orang pertama membantu setiap ada pembangunan madrasah-madrasah dan pondok pesantren di daerah tempat muridnya bermukim. Seluruh harta dan jiwa raga beliau senantiasa dihibahkan untuk perjuangan Nahdlatul Wathan dalam menegakkan Islam dan membangun Tanah Air. Sehingga kini banyak kita jumpai madarasah-madrasah dan pondok pesantren NW yang berdiri dari ujung Sape pulau Sumbawa hingga ujung Ampenan pulau Lombok. Bahkan kini madrasah dan pondok pesantren NW telah berkembang dan tersebar di berbagai provinsi di Indonesia.

Ketika di tanyak tentang sosok kepribadian Maulana Syaikh, pria yang saat ini menjabat sebagai Amid Ma’had Darul Qur’an wal Hadis (MDQH) NW Pancor ini juga menjelaskan bahwa Maualana Syaikh merupakan sosok ulama yang senantiasa mengutamakan perkara akherat dari pada perkara-perkara duniawi.

“Maulana Syaikh selalu mengutamakan perkara akhirat dari pada perkara-perkara duniawi dalam kehidupannya. Jika kita banyak makan, beliau sedikit makannya dan beliau senantiasa mengutamakan jamaah dari pada dirinya sendiri hingga sering kali beliau mengabaikan ksehatannya sendiri demi untuk keliling berdakwah”, bebernya.

Dulu lanjut Tuan Guru Yusuf, semasa hidup Maulana Syaikh pernah ada seorang dokter yang bertugas di Lombok Timur. Ia adalah satu-satunya dokter kala itu yang bertugas di Lombok Timur. Pernah suatu ketika dokter tersebut memeriksa kondisi Maulana Syaikh di kala beliau sakit. Sang dokter memfonis Maulana Syaikh sakit keras dan sulit untuk disembuhkan. Lantaran di anggap penyakitnya sangat parah sehingga dokter tersebut menyarankan kepada Maulana Syaikh untuk menghentikan aktifitas dakwahnya. Bahkan sang dokter memberi ultimatum kepada Maulana Syaikh, jika beliau masih keras tetap menjalankan aktifitas dakwahnya maka diperkirakan umur beliau hanya sampai dua tahun lagi,” Ungkap Tuan Guru Yusuf dalam ceritanya.

BACA JUGA  Doa Hari Ini Jumat 4 September 2020

Mendengar pernyataan sang dokter, Maulana Syaikh pun bertanya “anda kan dokter, apa tidak ada obatnya penyakit ini.?”. Sang dokter tetap dalam pendiriannya bahwa satu-satunya obat adalah dengan berhenti dari aktifitas berdakwah. Jika tidak, maka umur beliau hanya sampai dua tahun lagi. Namun permintaan sang dokter di tolak oleh Maulana Syaikh dan beliau tetap menjalankan aktifitas dakwahnya meskipun dalam kondisi sakit. Hingga sang dokter tersebut pindah tugas keluar pulau Lombok.

Singkat cerita, dua tahun setelah itu Maulana Syaikh menerima kabar berita duka bahwa dokter tersebut telah meninggal dunia. Innalillahi wa innailahirajiun. Mendengar kabar duka tersebut, banyak dari kalangan murid Maulana Syaikh kaget. Sang dokter yang dulu telah memfonis Maulana Syaikh bahwa sisa umur beliau hanya bertahan selama dua tahun, justru setelah berjalan dua tahun ia sendiri yang meninggal dunia mendahului Maulana Syaikh.

Takdir memang tidak memandang sakit ataupun sehat, kaya ataupun miskin, seorang spesialis dokter ataupun orang awam. Bila ia sudah datang waktunya maka tidak ada seorangpun yang mampu mengubahnya.

Dalam kesempatan itu juga, TGH. Yusuf mengingatkan kepada para pengurus Pemuda NW se-pulau sumbawa yang hadir agar berhati-hati dengan paham-paham yang mudah mengkafirkan dan membid’ahkan orang lain seperti paham Wahabi. Terkait hal itu, beliaupun bercerita pengalamannya menjumpai orang-orang yang membawa paham-paham seperti itu.

“Dulu pernah ada seseorang yang sering menghubungi saya via telpon namun tidak pernah mau menunjukkan identitasnya. Berulang kali di tanyak identitasnya ia enggan memberitahu hingga akhirnya pada suatu ketika terjadi percakapan antara saya dengannya. Pada saat itu ia bertanya kepada saya tentang perkara hukum menggunakkan Tasbih seperti yang pada umum kita jumpai dari kebanyakan Ulama-ulama Aswaja menggunakan Tasbih. Ia bertanya “apakah ada dalilnya dalam Hadis yang menunjukkan kebolehan untuk menggunakan Tasbih”.?. Mendengar pertanyaan tersebut saya pun menjawab “di dalam hadis manapun yang shoheh ataupun yang palsu sekalipun, tidak ada ditemukan Hadis yang menunjukkan kebolehan menggunakan Handpone seperti saat ini”. Mendengar jawaban tersebut, seketika yang bersangkutan mematikkan telpon dan sejak itu tidak pernah menghubungi saya lagi”, ungkap TGH. Yusuf mengenang peristiwa tersebut.

BACA JUGA  Prof H Agustiti: LANGKAH PENGHAPUSKAN DOSA

Mendengar cerita tersebut lantas para tamu rombongan Pemuda NW pun tertawa sambil mendengarkan penjelasan beliau tentang perkara-perkara Bid’ah yang sering di persoalkan oleh orang-orang Wahabi.

Dari beberapa ulasan yang disampaikan oleh Ketua Umum Dewan Mustasyar PBNW tersebut. Setidaknya ada beberapa poin yang bisa kita ambil:
1. Perkara terbaik dalam berjuang di Nahdlatul Wathan adalah kemandirian. Harus siap lahir dan bathin serta ikhlas mengorbankan harta, jiwa dan raga untuk perjuangan menegakkan Islam dan membangun Tanah Air melalui Nahdlatul Wathan sebagaimana yang di contohkan oleh Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid.

2. Sebagai penerus perjuangan para ulama dan guru-guru kita terdahulu. Maka generasi saat ini perlu meneladani kepribadian mereka seperti halnya Maulana Syaikh yang dalam kehidupannya senantiasa mengutamakan kepentingan ummat di atas kepentingan pribadi beliau dan menjauhi perkara-perkara duniawi.

3. Ulama-ulama Ahlussunnah Waljamaah dalam melaksanakan perkara-perkara baru yang tidak di jumpai di zaman Baginda Rasul SAW berdasarkan petunjuk Hadis. Bukan berarti mereka tidak memahami nas-nas Al-Qur’an dan Hadis namun justru sebaliknya mereka sangat memahami nas-nas Al-Quran dan Hadis baik secara tekstual maupun kontekstual. Sehingga kita tidak boleh mudah mengkafirkan, membid’ahkan dan mengatakan syirik kepada orang-orang yang menjalankan perkara-perkara baru. Selama perkara tersebut tidak melanggar syariat Islam.

Wallahua’lam Bissawab.