Oleh: Fathunnisa Kirominnufus
Bidang Pengkaderan HIMMAH NW Komisariat UIN Mataram
Sebagai seorang wanita, kita harus berani mencoba untuk dapat merasa dan memahami sebuah tantangan untuk ditaklukan. Misalnya saja untuk berbicara dikhalayak ramai. Kita benar-benar harus memberanikan diri untuk mencoba. Maka setiap fase dalam mencoba hingga benar terbiasa dapat kita rasakan. Itulah bekal akan kita bawa untuk mendidik generasi selanjutnya. Banyak sekali aspek yang harus kita coba. Bahkan bela diri pun hal yang lazim untuk diikuti oleh seorang wanita. Dan ketika pengalam itu dapat dirasa, maka wanita itu akan mampu membentuk atlet-atlet yang tangguh nantinya. Selanjutnya, mengikuti lomba-lomba akademik, Pramuka, bahkan hingga pentas-pentas, seperti drama, bermain alat musik. Apapun itu bentuknya kita maksimalkan untuk dikerjakan. Sebagai bentuk tebusan sebagai pemuda di masa kini untuk menjadi pemimpin di masa depan. Tidak lupa Juga, penting untuk mempelajar tata cara membaca Al-Qur’an dengan benar. Mempelajari bahasa asing, peka terhadap lingkungan, karena akan membantu pengembangan diri untuk peduli sosial yang akan berdampak kembali pada diri kita.
Ketika seorang wanita yang patuh terhadap orang tuanya, mengikuti ajaran agama, maka emosional dan spiritualnya tentunya terlatih. Dan pelajaran itulah yang akan ia pegang teguh dalam mengayomi rumah tangganya kelak. Baik dalam menghadapi anak-anak ketika mendidiknya, maupun mendampingi suaminya dengan memberikan perlakuan dan dapat menempatkan diri pada setiap situasi, yang akan berdampak pada kelangsungan rumah tangganya.
Dan juga wanita penting menjadi seseorang yang penasaran akan hal baru, kebermanfaatannya, sisi negatif maupun positif, agar paham akan zaman dan tidak mudah dipengaruhi, terlebih dapat memanfaatkannya dengan bijak. Hal ini sangat terlihat dampaknya. Karena kontribusi yang dituangkan hari ini akan menjadi sejarah di masa depan.
Maka dengan demikian, kita dapat melihat. Tidak akan ada waktu sebenarnya yang terbuang sia-sia jika para remaja wanita paham akan perannya yang sesungguhnya. Ia akan senatiasa melakukan yang terbaik. Dan ketika wanita sadar akan amanah yang akan ia pegang di masa depan, tidak ada waktu luang yang ia akan ia sia-siakan di masa sekarang. Tidak seperti yang kebanyakan kita saksikan saat ini. Tidak jarang para remaja, menghabiskan waktu dengan hanya menongkrong dengan teman-teman, berbincang mengenai stayle. Hanya segelintir saja yang ketika berkumpul membicarakan masa depannya.
Menilik kisah Nabi SAW dengan Siti Aisyah, yang dimana Siti Aisyah banyak meriwayatkan hadist dari kehidupan pribadi Nabi Muhammad SAW kurang lebih 242 Hadis. Yang dimana kita bisa melihat bahwa Aisyah satu-satunya istri Nabi yang dinikahi berstatus perawan dibanding istri Nabi yang lainnya. Namun, hikmah dibalik itu semua luar biasa, yaitu Aisyahlah dengan kecerdasannya yang mampu meriwayatkan hadis-hadis dari kehidupan pribadi Nabi dan dapat kita rasakan kebermanfaatannya hingga saat ini.
Untuk itu penulis menasehati diri penulis sendiri dan mengajak para perempuan pada umumnya, untuk berfokus menempa diri. Mengisi waktu dengan hal-hal yang bermanfaat. Menggali ilmu pengetahuan sesuai dengan bidang masing-masing, mempelajari hal-hal yang bermanfaat, apa saja yang memiliki nilai kebermanfaatan di dalamnya dengan tetap menjaga kehormatan sebagai muslimah.
Najwa Shihab mengatakan “Seseorang menjadi cantik karena tindakannya. Karena perbuatannya. Karena aktivitasnya. Barang siapa yang mampu berbuar baik kepada sesama, sanggup menggerakkan sekitar untuk melakukan hal-hal bijak. Bisa memperlihatkan kerja-kerja kongkrit yang mengubah dan menggubah itulah secantik-cantinya perempuan”.
Maka sekarang kita lihat faktanya, banyak sekali berita hoax yang bertebaran. Berhentilah menjadi pemandu sorak di sebuah setadion. Mari kita ambil andil untuk membagikan hal-hal yang positif, solutif turun sebagai pemain untuk memukul mundur hal-hal yang negatif. Agar yang terekam di masa kini merupakan hal-hal yang positif, dan mampu sebagai kaca perbandingan untuk generasi selanjutnya
Perubahan besar tidak mungkin ada jika tidak dimulai dengan perubahan yang kecil. Dan partikel terkecil dari perubahan itu sendiri adalah diri kita. Begitu besar peran wanita untuk sebuah pradaban Agama, Bangsa, dan Negara. Sehingga selaku wanita, haruslah kita benar-benar memanfaatkan waktu semaksimal mungkin untuk dapat menempa diri.
Menilik sejarah dari seorang filsuf terkenal di abad pertengahan yaitu Thomas Aquinas. Dimana orang tua dari Thomas Aquinas sangat mengkhawatirkan prihal masa depan Putranya. Sehingga sejak berusia 5 tahun Thomas Aquinas telah dikirim oleh orang tuanya untuk pergi menuntut ilmu.
Hal ini yang jarang kita temukan di masa sekarang, orang tua yang kurang pemahaman akan pentingnya ilmu pengetahuan cendrung membiarkan anak-anak mereka menghabiskan waktunya untuk bermain dan tidak terlalu kritis bagi pendidikan mereka. Maka di sinilah letak keterkaitan antara kita selaku pemuda di masa sekarang yang akan mengemban amanah ke depannya untuk mampu memaksimalkan peran untuk kemajuan pradaban.
Pendidikan anak di pesantren tidak bisa kita dokrin bahwa sepenuhnya anak akan menjadi insan yang berkualitas. Itu tidak akan pernah terjadi tanpa ada andil dari keluarga, terutama peran seorang Ibu selaku sekolah pertama (Al ummu madrosatul Uula) bagi anaknya. Watak dasar anak akan terbentuk di lingkungan terdekatnya yaitu keluarga. Oleh karena itu di posisi ini terlihat seberapa pentingnya penempaan diri bagi seorang wanita, yang nantinya akan mengayomi rumah tangganya. Mendidik anak-anaknya untuk menjadi insan yang unggul.
Dan bukan hanya itu, seorang wanita juga harus mampu mengelola segala urusan rumah tangga dengan baik, baik mengontrol emosional, mengatur pola pikir cara pandang, memberikan sugesti pada anak, mengelola keuangan dan lain sebagainya. karena jika terjadi permasalahan yang tidak dapat diredam maka itu akan berdampak pada psikologis anak-anak. Dan itu akan berdampak pada nasib Agama dan Bangsa ke depannya. Seandaikan rumah tangga itu tidak dapat dikendalikan dengan baik, disebabkan oleh adanya sifat egois atau kurangnya pengetahuan emosional spiritual dari orang tua, maka itu kan berakibat fatal untuk psikologi anak, dan dapat menimbulkan kerugian sosial. Contohnya saja anak muda yang mencuri, meminum minuman keras, dan lain sebagainya. Itu semua berawal dari keluarga yang tidak sehat. Bahkan tidak sedikit anak yang mendapatkan tindak kekerasan dari orang tuanya, yang diakibatkan oleh broken home dan sebagainya.
Itulah mengapa penulis katakan di awal bahwasannya wanita harus mampu memahami perannya. Dan tahu apa yang harus dilakukan. Bukan hal yang tabuh untuk membicarakan pernikahan, bukan untuk menikah di usia dini. Namun, untuk mempersiapkan diri agar mampu melaksanakan apa yang di diajarkan oleh baginda Nabi “seorang muslimah melengkapi dirinya, apa yang dengannya, mampu memberikan pengabdian yang terbaik..”
Editor: Amaq Himmawan




