Sifat tergesa-gesa (jum’at yang ketujuh Masjid Jami’ Hamzanwadi)

Sifat tergesa-gesa (jum’at yang ketujuh Masjid Jami’ Hamzanwadi)

Adapun diantara beberapa sifat manusia adalah lemah, pelupa, pelit, berlebihan, selalu bersedih dan lain sebagainya adalah sifat yang melekat dalam dirinya, sehingga menjadi sebuah tabiat. Tergesa – gesa adalah salah satu dari beberapa sifat manusia yang bisa membuatnya tergelincir dan bersekongkol dengan syaitan.

Sifat tergesa – gesa ini disebutkan dalam beberapa ayat al qur’an yaitu diantaranya surat al-Anbiaya’

خُلِقَ الْإِنْسَانُ مِنْ عَجَلٍ ۚ

Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa – gesa. [al-Anbiyâ’/21:37]

Disebutkan juga dalam al-Qur’an surat al-Isra’

وَكَانَ الْإِنْسَانُ عَجُولًا

Dan manusia bersifat tergesa – gesa. [al-Isrâ’/17:11]

Dalam sebuah haditsnya, Nabi juga menyinggung tentang sifat tergesa – gesa dengan menyebutkan asal datangnya sifat tersebuat adalah dari syaitan

التَّأَنِّي مِنَ اللهِ، وَالْعَجَلَةُ مِنَ الشَّيْطَان

ِTidak tergesa – gesa/ketenangan datangnya dari Allâh, sedangkan tergesa-gesa datangnya dari syaitan.

Tergesa – gesa lawannya adalah pelan – pelan. Sifat pelan-pelan atau hati- hati adalah merupakan sifat allah dan tergesa – gesa adalah sifat syaitan.

Ketika menyebutkan tergesa – gesa berasal dari syaitan, maka segala sifat yang dilakukan dengan tergesa – gesa akan menimbulkan perilaku, tindakan dan ucapan yang salah, misalnya tergesa – gesa dalam masalah shalat sehingga menimbulkan kesalahan dalam pembacaan al-fatihah atau mengakibatkan tertinggalnya rukun fi’liyah, hal ini akan bisa membawa kepada batalnya shalat.

Begitu juga dalam membaca al-Qur’an, berjalan, makan dan seluruh aktifitas kehidupan manusia bila didasari dengan tergesa – gesa dalam pelaksanaannya, akan dapat mendatangkan hal yang tidak bermanfaat.

Kendatipun sifat tergesa – gesa dilarang dalam agama, namun dalam beberapa keadaan sifat tersebut sangat dianjurkan dan terhitung dalam sifat terpuji. Hal ini sesuai dengan apa yang disebut dalam kitab Hilyatul Auliya’ karya Abu Nu’aim Al Ashbahani disebutkan didalamnya perkataan Hatim Al Ashom sebagai berikut :

كان يقال العجلة من الشيطان إلا في خمس إطعام الطعام إذا حضر الضيف وتجهيز الميت إذا مات وتزويج البكر إذا أدركت وقضاء الدين إذا وجب والتوبة من الذنب إذا أذنب

“Tergesa – gesa adalah dari syaitan kecuali dalam lima hal:

1- menyajikan makanan ketika ada tamu

tergesa – gesa menyajikan makanan kepada tamu adalah perbuatan yang sangat dianjurkan, lebih lagi ketika tamu itu berasal dari tempat yang sangat jauh dan dalam keadaan yang sangat capek.

2- mengurus mayit ketika telah mati

Tindakan ini sudah sering diterapkan di tanah betawi jakarta, ketika ada yang meninggal dunia, kemudian keluarganya sudah pada hadir, dan semuanya sudah diselesaikan, maka mayyit segera di shalatkan di masjid dan dimakamkan.

3- menikahkan seorang gadis jika sudah bertemu jodohnya

Ini harus menjadi perhatian utama bagi orangtua yang memiliki anak gadis, supaya segera menikahkan anaknya kalau sudah bertemu jodohnya. Apalagi di zaman modern seperti saat ini dan pergaulan bebas yang sudah sulit dihindari akan bisa menjadi fitnah besar bagi orangtua. Salah satu upaya untuk mengatasi fitnah tersebut adalah dengan segera menikahkan putrinya apabila jodohnya sudah ada.

4- melunasi utang ketika sudah jatuh tempo

Memberikan hutang adalah sesuatu yang mulia dalam agama, karena menolong saudara yang sedang membutuhkan. Oleh karena itu orang yang meminjam harus segera membayar hutangnya apabila telah sampai kepada tempo waktu yang telah ditentukan dengan tidak menunda – nunda pembayarannya. Hal ini karena hutang tersebut akan membawa dampak negatif bagi manusia, serta keadaan ajal yang datangnya secara tiba – tiba menghampiri manusia.

Tentang bahayanya hutang, Nabi menjelaskan dalam haditsnya dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda:

نَفْسُ الْـمُؤْمِنِ مُعَلَّقَةٌ بِدَيْنِهِ حَتَّىٰ يُقْضَى عَنْهُ

“Jiwa seorang mukmin itu terkatung-katung dengan sebab hutangnya sampai hutangnya dilunasi.” (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi)

Begitu pentingnya hutang untuk diperhatikan. Dalam al-Qur’an allah menyebut tentang hutang (dain) dengan ayat yang sangat panjang di surat al-Baqarah. Di ayat tersebut allah memerintahkan supaya hutang itu ditulis (faktubuuhu) dengan rapi dan bagus, karena hutang itu memiliki hubungan persoalan antara manusia yang akan dipertanggung jawabkan di hadapan allah.

5- segera bertaubat jika berbuat dosa

Diantara perbuatan yang tercela adalah menunda-nunda taubat dengan mengatakan “nanti taubatnya setelah bulan ramadhan, atau taubatnya ntar saja setelah tua”.

Tulisan ini diambil dari intisari khutbah jum’at di Masjid Jami’ Hamzanwadi Ponpes NW Jakarta yang disampaikan oleh H.Muslihan Habib, M.Ag pada tanggal 4 september 2020 (jum’at yang ketujuh).

Fath

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA