Sebuah Citra Beragama di Desa Sukarara

Sebuah Citra Beragama di Desa Sukarara

Belajar agama dalam mindset masyarakat bermakna hanya mengurus soal akhirat. Setiap yang belajar agama bagi masyarakat tidak akan cakap dalam menjalani kehidupan. Mereka dilihat hanya bisa mengajar ngaji, ceramah dan tentunya pekerjaan tersebut tak mampu sama sekali menjanjikan kehidupan yang baik. Dalam realitasnya kemudian, masyarakat lebih memilih menyekolahkan anak-anak mereka di tempat yang kiranya menjanjikan kehidupan mereka di masa depan.

Mindset tersebut semakin diperparah karena ketidak adanya duta Islam yang bergerak menghilangkan stereotype tersebut. Pola gerakan alumni-alumni sekolah agama sejauh ini tak memberi sebuah citra baru akan Islam. Mereka kembali ke desa lalu menjadi sama dengan kebanyakan, sibuk mengurus perekonomian masing-masing. Semangat agama soal terintegrasinya dunia dan akhirat hanya sampai pada level pengetahuan saja.

Kebangkitan Islam yang dimulai sejak abad 18 lalu terkesan belum masuk ke dalam desa. Islam hanya masih dilihat sebagai urusan ritual saja. Padahal jika dilihat dari segi geografis, desa Sukarara tidak terlalu jauh dengan tempat lahir Nadlatul Wathan yang merupakan sumber gerakan soal terintegrasinya dunia dan akhirat. Hal ini bisa kita lihat dalam pemikiran pendirinya. Pendiri organisasi ini dalam karyanya, Renungan Masa menyebut bahwa agama bukan sekedar ibadah-puasa sembahyang di atas sejadah-tetapi mencakup hukumah dst.

Agama kemudian masih menjadi sekedar rutinitas yang kurang bermakna bagi kehidupan, bahkan menjadi beban. Agama terkesan hanya bermakna bagi mereka-mereka yang tua-tua saja. Agama dilihat hanya berkutat pada soal masjid dan sholat 5 waktu. Selain daripada hal yang sudah disebutkan dilihat sebagai bukan urusan agama. Masyarakat kemudian secara tidak langsung terbentuk tak mampu berpikir kritis karena mereka biasa taklid dalam beragama. Pengaruh ditutup pintu ijtihad sepertinya memiliki pengaruh besar dalam membentuk pikiran masyarakat desa karena penyampai Islam di desa sendiripun semakin menegaskan soal itu.

Bahkan mungkin mental miskin masyarakat terbentuk dari pesan-pesan agama yang akhirat an sich yang kemudian hidup di masyarakat. Hal ini disebabkan oleh konten-konten dakwah yang menyeru kepada mengurus akhirat yang sejauh ini masih banyak di produksi oleh para da’i di desa. Kemunduran Islam menurut banyak literatur memang disebabkan oleh kuatnya narasi mengurus akhirat terutama pasca kalah dari tentara Mongol.
Agama menjadi sesuatu yang dilihat sebagai sesuatu yang berdiri sendiri, terpisah dengan sosial, politik, ekonomi. Agama dilihat tidak masuk dalam aspek-aspek tersebut. Sehingga perilaku beragama masyarakat pada tradisi zikiran-makan, yang pada keyakinannya makanan yang disediakan diperuntukkan orang mati. Agama kemudian terkesan hanya menjadi milik orang-orang miskin bodoh terbelakang, sedang mereka yang bagus ekonominya adalah mereka yang biasa-biasa dalam perilaku beragamanya.
Kondisi ini tentunya harus dipertimbangkan dalam rangka mengangkat citra mulia Islam. Bahwa untuk menggeser citra yang kurang baik tersebut butuh refleksi-belajar dari setiap yang menyampaikan soal Islam. Dibutuhkan kesadaran diri apakah sendiri adalah bagian dari yang menutup kemuliaan Islam sebagaimana kritik yang dilontarkan salah seorang ulama’ kepada ummat Islam soal mahjubnya Islam disebabkan ummat Islam sendiri.

Secara tidak langsung setiap yang menyampaikan soal Islam memiliki misi kolektif untuk izzil Islam, memuliakan Islam yang sebenarnya bukan barang baru di Lombok, NTB. Sudah sangat lama sekali pendiri Nahdlatul Wathan menyebut soal visi-misi Izzil Islam. Bahkan visi-misi organisasi yang ia dirikan bervisikan hal tersebut, li’i’la’i kalimatillah, izzil islam wal muslimin.

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA