Renungan Subuh : Muhasabah Jelang Tahun Baru Hijriyah

banner post atas

Hari ini kita memasuki penghujung tahun 1441 H. In syaa Allah besok bertepatan dengan tangggal 20 Agustus 2020, kita memasuki tahun baru Hijriyah, 1 Muharram 1442 H. Semoga amal ibadah kita diterima dan diilipatgandakan pahalanya oleh Allah SWT, dan dosa serta kesalahan kita diampuni..Amiin. Dan untuk tahun 1442 H ini semoga kita semua senantiasa diberkahi Allah SWT dalam segala aktivitas kehidupan kita serta tahun baru ini amaliah dan amal ibadah kita lebih baik dari yang sebelumnya. Amiin.

Berbicara tahun baru hijriyah kita tidak bisa melepaskan dari peristiwa sejarah yang melatarbelakangi kenapa dinamakan tahun hijriah dan dimulainya dari bulan Muharram. Dalam kitab *Fath al-Bari* diuraikan bahwa sahabat Abu Musa Al Asy’ari menulis surat kepada Umar bin Khattab dengan kalimat: “ Datang kepada kami surat dari mu ya Amir al-mukminin yang tanpa tanggal.” Mendapat surat tersebut Umar bin Khattab lalu mengumpulkan para sahabat untuk bermusyawarah memilih awal bulan dalam tahun Islam.

Dalam musyawarah tersebut, banyak pendapat dan masukan untuk menentukan awal tanda tahun Islam. Akhirnya yang terpilih adalah peristiwa Hijrahnya Rasulullah SAW ke Madinah, Umar bin Khattab mengatakan: “الهجرة فرقت بين الحق والباطل ” bahwa yang membedakan antara Haq dan bathil adalah peristiwa perjalanan hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah. Setelah ini disepakati, para sahabat juga menyepakati titik awal bulan hijriyah adalah bulan Muharram, karena bulan ini adalah bulan kembalinya para jamaah haji ( *Fath al-Bari bi Syarh Shohih al-Bukhori*, Juz 7, hal. 264 dan kitab *al-Qawaid al-Muntaqo Min Fath al-Bari*, Dar al-‘Ashimah, 1996, hal 276).

Iklan

Pergantian tahun, bulan sepertinya tidak terasa. Rasanya seperti baru kemarin kita melakukan ini dan itu, lalu tahu-tahu sudah mau masuk tahun dan bulan baru lagi. Benar kata pepatah, “al-Waqtu yamurru marra al-Sahab, Waktu berjalan seperti jalannya awan.” Cepat atau lambatnya waktu memang kadang terkait dengan perasaan kita, padahal masanya ya tidak berubah, tetap satu hari itu 24 jam dan seminggu itu 7 hari. Tapi bisa terasa cepat bagi seseorang, dan terasa lambat bagi orang lain. Bila sudah bicara waktu terasa cepat, jadi ingat hadits Rasulillah SAW :

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَتَقَارَبَ الزَّمَانُ فَتَكُونَ السَّنَةُ كَالشَّهْرِ، وَيَكُونَ الشَّهْرُ كَالْجُمُعَةِ، وَتَكُونَ الْجُمُعَةُ كَالْيَوْمِ، وَيَكُونَ الْيَوْمُ كَالسَّاعَةِ، وَتَكُونَ السَّاعَةُ كَاحْتِرَاقِ السَّعَفَةِ

“Tidak akan tiba hari Kiamat hingga zaman berdekatan, setahun bagaikan sebulan, sebulan bagaikan sepekan, sepekan bagaikan sehari, sehari bagaikan sejam dan sejam bagaikan terbakarnya pelepah pohon kurma.” ( *Musnad Ahmad* ) Yang dimaksud “berdekatan” salah satu pendapat mengatakan sedikitnya keberkahan dalam waktu.
Terlepas dari terasa cepat atau lambatnya waktu, yang jelas sebagai seorang mukmin kita sepatutnya pandai menggunakan nikmat waktu dan kesempatan sehingga kita tidak termasuk dalam kategori orang yang merugi karena tidak panda mensyukuri nikmat tersebut.

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
“Dua nikmat, kebanyakan manusia tertipu dengan keduanya (tidak pandai mensyukurinya), yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Al-Bukhari)

Salah satu cara mensyukuri nikmat waktu yang Allah berikan, hendaknya kita mengggunakan waktu sebagaimana tuntunan Rasululllah SAW:
كان في صحف إبراهيم عليه الصَّلاةُ والسلام : وعلى العاقل ما لم يكن مغلوباً على عقله أنْ تكونَ له ساعات : ساعةٌ يُناجي فيها ربَّه ، وساعةٌ يُحاسِبُ فيها نَفسه ، وساعةٌ يتفكَّرُ فيها في صُنع الله ، وساعةٌ يخلو فيها لحاجته من المطعم والمشرب ، وعلى العاقل أنْ لا يكون ظاعناً إلا لثلاث : تزوُّدٍ لمعاد ، أو مَرَمَّةٍ لمعاشٍ ، أو لذَّةٍ في غير محرَّم ، وعلى العاقل أنْ يكونَ بصيراً بزمانه ، مقبلاً على شأنه ، حافظاً للسانه ، ومَنْ حَسَب كلامَه من عمله قلَّ كلامُه إلا فيما يعنيه

BACA JUGA  Prof H Agustitin: MALAM NISFU SA,'BAN ADALAH MALAM PENGAMPUNAN DOSA

“Dalam shuhuf-shuhuf Ibrahim ‘alaihis-salaam tertulis : ‘Orang berakal selama akalnya tidak dikalahkan, hendaknya ia mempunyai waktu untuk bermunajat kepada Rabbnya, waktu untuk mengevaluasi (muhasabah) dirinya, waktu untuk memikirkan ciptaan Allah, dan waktu yang ia gunakan untuk memenuhi kebutuhan makan dan minumnya. Orang berakal wajib untuk tidak beranjak kecuali untuk tiga hal, yaitu mencari bekal untuk hari akhir, memperbaiki kehidupannya, atau mencari kenikmatan pada hal-hal yang tidak diharamkan. Orang berakal wajib melihat waktunya, menangani urusannya, dan menjaga lidahnya. Barangsiapa menghitung perkataannya termasuk bagian dari amal perbuatannya, niscaya ia sedikit berbicara kecuali apa-apa yang bermanfaat baginya”. (H.R Ibnu Hibban dari Abu Dzar al-Ghiffari).

Dari tuntunan Rasulullah SAW di atas dan mengingat momentum akhir tahun serta datangnya tahun baru, alangkah baiknya kita sediakan waktu untuk bermuhasabah atas aktivitas dan amaliah ibadah yang kita lakukan di tahun 1441 H agar kita bisa memperbaiki baik kualitas maupun kuantitas aktivitas dan amaliah ibadah kita sehingga usia dan umur kita menjadi penuh keberkahan. Bukankah muhasabah salah satu tuntunan dalam pembagian waktu sebagaimana hadits di atas. Dan sahabat nabi SAW, Umar ibn khattab dalam satu nasihatnya juga mengingatkan kita agar senantiasa bermuhasabah sebelum kita nanti dihisab dan diminta pertangggungjawaban atas aktivitas dan amaliah kita, “Hasibu anfusakum qobla ann tuhasabu.” (Lihat kitab *Tazkiyah al-Nufus wa Tarbiyyatuha Kama Qola ‘Ulama al-Salaf* yang dihimpin oleh Dr. Ahmad Farid, Sar al-Qolam, 1985, hal. 75).

Muhasabah yang biasa diartikan instropeksi secara Bahasa terambil dari tiga huruf ح , س dan ب. Derivasi kata ini memiliki makna antara lain menghitung/membuat perhitungan, meliihat, mempertimbangkan. Dengan demikian ketika kita melakukan muhasabah kita sedang melihat apa-apa yang telah kita lakukan, lalu kita melakukan perhitungan atas amal-amal tersebut untuk menjadi pertimbangan kita melangkah ke depan. Makanya beruntunglah mereka yang senantiasa melakukan muhasabah atas dirinya sehinggga dia terhindar dan tidak terjatuh pada lobang yang sama.

Yang perlu kita fahami, bermuhasabah itu bukanlah membuat kita tengggelam dengan masa lalu yang akhirnya kita terjebak dengan romantisme atau justru sebaliknya yaitu punya perasaan bersalah yang berlebihan yang akhirnya kita malas melakukan perbaikan tapi malah jatuh pada rasa kecewa yang mendalam dan depresi. Muhasabah itu sejatinya menggevaluasi diri sehingga kita dapat berdamai dengan diri kita sendiri untuk perbaikan di masa depan dan disamping itu juga uuntuk memperbaiki hubungan kita (ibadah) kita kepada Alllah SWT dan hubungan kita dengan makhluk Allah yang lain.

BACA JUGA  Pembangunan Pondok Pesantren Al-HalimiyyahNW Menelan Biaya 12 Milyar

Oleh sebab itulah— bila kiita perhatikan surat al-Hasyr ayat 18— sebelum melakukan muhasabah, diawali dengan perintah untuk bertakwa kepada Allah, lalu diperintahkan memperhatikan diri kita (muhasabah) atas apa yang telah kita lakukan dimasa lalu, setelah itu kita diperintahkan kembali untuk bertakwa. Dan di penghujung ayat diingatkana kembali agar kita berhati-hati dalam menjalani kehidupan karena Allah maha melihat atas apa yang kita lakukan. Bahkan diksi yang digunakan dalam ayat tersebut adalah ‘Khobiyrun’ yang menggambarkan ketelitian, artinya kita harus hati-hati karena Allah maha sangat teliti.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan. (Q.S.al-Hasyr: 18)

Bila muhasabah dilandasi dengan ketakwaan in syaa Allah akan menghasilkan hal-hal yanag baik dan produktif yang dalam istilah psikologi disebut Refleksi diri (intsropeksi diri yang positif), bukan ruminasi diri (instropeksi diri yang negative). Dan inilah sesungguhnya esensi dari muhasabah ynag kita lakukan.yang menjadikan kita kedepannya lebih baik dari waktu yang sebelumnya. Akhirnya kita berharap semoga di tahun baru ini aktivitas dan amaliyah ibadah kita lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya serta senantiasa mendapatkan cucuran rahmat dan inayah dari Allah SWT. Amiin ya Robb al-‘Alamin.
Di akhir renungan saya kutipkan doa, silahkan dibaca bila berkenan.

Doa Akhir Tahun

اللهُمَّ مَا عَمِلْتُ فِيْ هذِهِ السَّنَةِ مِمَّا نَهَيْتَنِيْ عَنْهُ فَلَمْ أَتُبْ عَنْهُ، وَلَمْ تَرْضَهُ وَلَمْ تَنْسَهُ، وَحَلِمْتَ عَلَيَّ بَعْدَ قُدْرَتِكَ عَلى عُقُوْبَتِيْ، وَدعَوْتَنِيْ إِلى التَّوْبَةِ مِنْ بَعْدِ جَرَاءَتِيْ عَلى مَعْصِيَّتِكَ، فَإِنِّيْ أَسْتَغْفِرُكَ فَاغْفِرْ لِيْ

“Ya Allah, apa yang hamba lakukan di tahun ini berupa yang Engkau larang, hamba belum bertobat darinya. Dan Engkau (tentu) tidak meridhai perbuatan itu lagi dan tidak (akan) melupakannya, Engkau begitu lembut meski Engkau mampu membalas perilaku/tindakan hamba, Engkau mengajak hamba untuk bertobat setelah hamba larut dalam perbuatan maksiat kepada-Mu. maka, sungguh hamba memohon ampunan dan maghfirah-Mu, ampunilah hamba.”

Doa Awal tahun

للَّهُمَّ اَنْتَ اْلاَ بَدِيُّ الْقَدِيْمُ اْلاَوَّلُ وَعَلَى فَضْلِكَ الْعَظِيْمِ وَكَرَمِ جُوْدِكَ الْمُعَوَّلُ وَهَذَا عَامٌ جَدِيْدٌ قَدْ اَقْبَلَ اَسْأَلُكَ الْعِصْمَةَ فِيْهِ مِنَ الشَّيْطَانِ وَأوْلِيَائِهِ وَالْعَوْنَ عَلَى هَذِهِ النَّفْسِ اْلاَمَّارَةِ بِالسُّوْءِ وَاْلاِشْتِغَالِ بِمَا يُقَرِّبُنِى اِلَيْكَ زُلْفَى يَاذَالْجَلاَلِ وَاْلاِكْرَامِ

“Ya Allah, Engkau Dzat Yang Kekal, yang tanpa Permulaan, Yang Awal (Pertama) dan atas kemurahan MU yang agung dan kedermawanan MU yang selalu berlebih, ini adalah tahun baru telah tiba, hamba mohon kepada-MU pada tahun ini agar terhindar (terjaga) dari godaan syetan dan semua temannya/pasukannya, dan (hamba mohon) pertolongan dari godaan nafsu yang selalu memerintahkan (mendorong) hamba berbuat kejahatan, Serta (hamba mohon pertolongan) agar hamba disibukkan dengan segala yang mendekatkan diri hamba kepada-MU dengan sedekat-dekatnya.”

Wallahu a’lam bi al-Showab.
Semoga Bermanfaat.
*Salam Bahagia dari Ahmad Rusdi* (Renungan Subuh ke 64, 19082020)