Renungan Seorang Musafir : Hartamu yang Sebenarnya

Renungan
Renungan
banner post atas

Oleh Harapandi Dahri

Ucapan baikmu merupakan sedekah
Senyum manismupun adalah sedekah
Bahkan doa yang engkau panjatkan itu sedekah
Tiada berniat mengkhianati dan menzolimi sedekah

Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan penegasan hikmah dan manfaat sedekah sepertimana dalam arti ayat berikut: “Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipat gandakan (ganjarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak.” (Qs. Al Hadid: 18)
Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda yang bermakna:“Tidak diperbolehkan iri dan dengki, kecuali pada dua perkara. Pertama, seseorang yang diberi Allah harta kekayaan lalu ia menghabiskan harta kekayaan itu pada jalan yang benar. Kedua, seseorang yang diberi ilmu lalu ia mengamalkanya dan mengajarkannya pada orang lain” (HR. Muslim).

Iklan

Dalam sabda lain baginda Rasul menjelaskan yang bermaksud;” “Harta tidak akan berkurang dengan sedekah. Dan seorang hamba yang pemaaf pasti akan Allah tambahkan kewibawaan baginya.” (HR. Muslim). Dan satu makna hadits yang sangat popular dalam keutamaan bersedekah;” “Sedekah dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api.” (HR. Tirmidzi).

Jika kita hayati firman Allah dan beberapa sabda baginda Rasul tersebut, maka kita akan menjumpai betapa fadlilat sedekah sangat banyak, antara keutamaannya ialah (dianggap) kita sedang memberikan pinjaman kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan tiada pinjaman yang lebih utama dan senantiasa memberikan keuntungan melainkan memberi pinjaman kepada Allah Azza Wa Jalla.

Baginda Rasulullah menyebutkan bahwa tiada diperbolehkan kita iri kepada apapun kecuali terhadap dua perkara yakni kepada seseorang yang diberi rizki lalu ia habiskan untuk sedekah di jalan Allah dan kepada seseorang yang diberi ilmu pengetahuan lalu ia mengamalkan dan mengajarkannya untuk orang lain. Sedekah lanjut baginda tiada mengurangkan harta benda seseorang melainkan menjadi perekat bagi tuannya dan akan menarik rezeki-rezeki yang belum diperolehi dan sedekah pula dapat menghapuskan segala khilaf dan dosa.

BACA JUGA  Doa hari ini Kamis 19 Robiul Awal 1442

Habib Ahmad al-Attash seperti dikutip oleh Habib Zain bin Ibrahim bin Smith dalam kitab al-Fawaid al-Mukhtarah li salik thariq al-Akhirah menjelaskan;” Sesungguhnya satu suap yang kita berikan kepada mereka yang kelaparan lebih utama dibandingkan membangun tujuh puluh masjid jami’ (al-Fawaid:160).

Pada sebagian riwayat dijelaskan bahwa setelah Nabi Ibrahim selesai membangun Ka’bah al-Musyarrafah, lalu beliau salat disetiap rukun (keempat rukun hajar Aswad, Yamani, Syami dan rukun Iraqi) sebanyak seribu rakaat. Lalu Allah mewahyukan kepada Nabi Ibrahim;”Wahai kekasihku Ibrahim, alangkah terpujinya apa yang engkau lakukan itu, akan tetapi (ketahuilah) bahwa satu suap yang engkau berikan kepada orang yang sedang lapar jauh lebih utama dibandingkan salat yang engkau lakukan itu”. (al-Fawaid;161).

Diriwayatkan pula bahwa Malaikat Maut (Izrail) telah memberitahukan kepada Nabi Sulaiman Alaihissalam tentang umur seorang pemuda, ia akan mati setelah lima hari, lalu Nabi Sulaiman terus saja memperhatikan pemuda tersebut, setelah sampai lima bulan ternyata sang pemuda masih tetap sehat, lalu beliau bertanya kepada Malaikat Maut perihal pemuda yang masih tetap sehat.

Malaikat Maut pun menjawab, setelah ia keluar dari tempatmu, pemuda itu berjumpa dengan seorang peminta-minta lalu ia memberikan kepadanya sesuatu, pengemis itupun bermohon kepada Allah agar memanjangkan umurnya, sebab itulah Allah memerintahkanku untuk menunda pencabutan ruhnya. Dalam satu riwayat pemuda itu bersedekah lima dirham, lalu Allah jadikan setiap dirham ditambahkan umurnya satu tahun”. (al-Fawaid;162).

Habib Alawi ibn Shihab menceritakan kisah Habib Syaikh ibn Muhammad ibn Shihab, saat beliau mengalami sakit, lalu ia menceritakan perihal sakitnya kepada Habib Hasan ibn ‘Abdullah al-Haddad, lalu Habib Hasan memberikan isyarat agar bersedekah dengan niat kesembuhan dan berkata;”Obatilah penyakitmu dengan bersedekah”, lalu Habib Syaikh menyembelih enam puluh kambing dan membagi-bagikannya di Masjid Jami’ pada hari Jumat. (al-Fawaid:163).

BACA JUGA  Lembaga Persahabatan Ormas Islam Bicara Dengar Pendapat Bersama Mentri Polhukam

Janganlah engkau menolak untuk memberi apapun yang mampu engkau berikan kepada peminta-minta pertama yang datang kerumahmu atau yang engkau jumpai, karena boleh jadi dia adalah seorang Malaikat yang Allah kirimkan kepadamu untuk menguji dirimu apakah engkau termasuk orang yang bersyukur ataukah kufur dari nikmat Allah (al-Fawaid:164).

Dan hati-hatilah, jangan engkau menolak pemberian kepada seorang pengemis di depan pintu rumahmu, karena ada kemungkinan dia didatangkan Allah seorang Malaikat yang menyerupakan diri dengan manusia untuk menguji ketaatanmu.
Abu Hurairah telah meriwayatkan bahwa aku telah mendengar Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda; “Pada Bani Israil terdapat tiga orang yang sedang mengalami sakit yakni orang sakit kulit, orang yang sakit kepala dan orang buta. Ketiga-tiga orang ini didatangi seorang Malaikat Allah, lalu masing-masing mereka diuji dengan kesembuhan dan kekayaan, lalu setelah bertahun-tahun dan kekayaan mereka semakin bertambah banyak.

Allah mengutus kembali Malaikatnya dalam bentuk orang yang sangat menderita, lalu didatangi orang yang (semula) sakit kulit dan meminta bantuan kepadanya, tapi sayang, orang ini menolak dan menghardik (Malaikat yang menyamar) sebagai pengemis miskin, demikian juga halnya pada orang kedua yakni yang (semula) kepalanya sakit (tiada berambut).

Lalu orang ketiga yakni orang buta didatangi Malaikat dengan wajah dan penampilan miskin papa, orang buta ini menyambut dengan hangat dan baik, lalu Malaikat itu berkata;”Aku telah diutus Allah untuk menguji ketaatan kalian bertiga, ternyata dua saudaramu telah ingkar nikmat, maka Allah kembalikan keadaan semula sebelum dia menjadi kaya, sedangkan engkau Allah akan menambahkan rezekimu karena syukurmu terhadap nikmatNya”. (al-Fawaid:164).