Prof Harapandi: 2 Cermin

banner post atas

Tiada manusia yang sempurna, khilaf dan salah terus menjelma, lihat dan periksa diri menjadi utama, kebajikan orang tak terkira, jadikan panutan dan acuan setia hanya kepada Allah Rabbul Baraya tempat mengiya…

Seyogyanya bagi setiap orang memiliki dua cermin yang dapat digunakan dalam melihat arah kehidupannya. Pertama cermin yang selalu digunakan untuk melihat kelemahan dan kekurangan dirinya, sehingga sibuk mencari solusi kekurangannya dan akan tertutup kemungkinan sibuk dengan urusan orang lain. Kedua cermin kebaikan orang lain, melihat kebaikan orang lain terhadap diri kita merupakan cermin yang sangat positif, dengan cara ini kita akan terselamatkan dari sifat ghibah dan namimah. (Rahatul Qulub:66).

Baginda Rasul telah bersabda yang maknanya;” Setiap manusia bersalah (Khilaf) dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang tersadarkan (al-Yaqdzah) dari kekhilafannya”.

Iklan

Al-Syaikh Husain ibn Muhammad dalam kitab Ins al-Muttaqin Lillahi Rabbil ‘Alamin, halaman:40-45. Orang lalai (khilaf) akan mewarisi rusaknya kebajikan sedangkan sadar akan memberikan manfaat menambah dan meningkatkan kebajikan. Orang yang beribadah dengan kesadaran walaupun sedikit jauh lebih baik dibandingkan mereka yang beribadah tanpa sadar. Sadar bererti hadir hatinya dalam beribadah dan alfa berarti di dalam salat hatinya tidak hadir, inilah yang dikatakan oleh Rasulullah; “Tiada (sempurna) salat seorang kamu jika hatinya tiada hadir di dalamnnya”.
Perbuatan salah dan khilaf yang telah terlanjur kita lakukan, jika dibarengi dengan kesadaran lalu bertaubat jauh lebih baik daripada orang yang menyangka benar tapi hatinya lalai dalam ingat Allah. Kesalahan dapat menjadi start kebajikan dan terkadang kebajikan tidak jarang menjadikan kita lalai dari menjaga batin kebajikan, ria’, sum’ah terkadang datang dengan sembunyi-sembunyi.

Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda; “Jika seseorang telah dicintai Allah, maka dikurangkan ketergantungannya dengan dunia dan diperlihatkan Allah kelemahan dirinya”. Melihat kelemahan diri adalah anugerah Ilahiyyah yang tidak didapatkan oleh semua orang, karena itu, jika kita sudah tersadar atas kekhilafan yang kita lakukan bersyukurlah kepada Allah dengan cara bertaubat dan kembali mendekat kepadaNya.

BACA JUGA  Mahasiswa Lombok di UPSI Malaysia, Polemik Nama Bandara : Ulama Diharapkan Hadir Menjadi Cahaya Penerang

Cermin kedua yang mesti kita lestarikan dan pelihara ialah melihat kebajikan orang lain. Jika cara pandang ini dapat kita jalankan, maka kita tidak akan pernah merasa lebih baik dari orang lain dan kita akan terus menjadi manusia terbaik dengan saling menghormati dan menghargai, setiap manusia memiliki kebaikan dan juga keburukan. Kebajikan yang ada pada diri orang lain mungkin jauh lebih banyak dibandingkan yang ada pada diri kita, maka ambil yang baik (positif) dan tinggalkan yang tidak baik.

Cara berpikir yang positif ialah; di dalam diri orang lain terdapat banyak kebajikan dan pada diri kita terdapat banyak kelemahan, bukan sebaliknya; pada diri kita terdapat banyak kelebihan dan di dalam orang lain terdapat banyak kekurangan”. Cara pandang pertama akan menghasilkan tawadlu (merendahkan diri) di hadapan orang lain dan sikap ini sangatlah terpuji di hadapan Ilahi, seperti disabdakan rasul; sesiapa yang tawadlu akan diangkat derajatnya oleh Allah dan sesiapa yang takabbur, maka akan dihinakan Allah Subahanhu Wa ta’ala. Sedangkan cara pandang kedua akan melestarikan sifat sombong, sifat yang paling dibenci Allah, sifat yang diwariskan oleh Iblis la’natullah.

Semoga Allah membantu kita untuk dapat menjadikan cermin kelemahan yang kita miliki menjadi amalan harian dan menutupi kelemahan orang lain dari pandangan kita. Amin.