Prof H Agustitin: REDESAIN PEREKONOMIAN INDONESIA , MERUPAKAN SOLUSI YANG SELAYAKNYA DI TEMPUH

Prof H Agustitin: REDESAIN PEREKONOMIAN INDONESIA , MERUPAKAN SOLUSI YANG SELAYAKNYA DI TEMPUH

Mudik lebaran , Natal dan tahun baru.memang menjadi faktor pendorong pertumbuhan perekonomian utamanya pemerataan sampai ke daerah.

Melarang atau meredam mudik, atau juga membatasi mudik pasti ada konsekuensinya baik bagi pemerataan ekonomi dari kota sampai dengan desa, maupun bagi BUMN NEGARA seperti angkutan udara, serta dan laut luar biasa besar.

Aktivitas mudik Lebaran merupakan salah satu faktor pendorong peningakatan konsumsi rumah tangga selama periode Ramadhan hingga Idul Fitri.

Hal ini ketika situasi.dan kondisi normal sebelum pandemi, Ramadhan, Idul Fitri Natal dan tahun baru merupakan faktor musiman yang berdampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional setiap tahun.

Jika dilihat pola musiman pertumbuhan ekonomi setiap tahun, konsumsi rumah tangga cenderung meningkat pada kuartal II bertepatan dengan bulan Ramadhan dan kuartal IV bertepatan dengan libur Natal dan Tahun Baru.

Namun pada periode tahun ini di Indonesia, bersaman adanya wabah dunia yakni ; Covid-19 dilakukan dengan membatasi interaksi sisi permintaan dan produksi perekonomian melalui pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang dirancang mempunyai fleksilibilitas dalam penyaluran logistik.

Kondisi darurat kesehatan sangat berpengaruh pada keyakinan konsumen. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada April melemah dengan tajam ke 84,8 dari 113,8 pada bulan sebelumnya. Ekspektasi negatif ini konsisten dengan penurunan konsumsi barang-barang tahan lama, seperti elektronik, furnitur, dan perkakas rumah tangga. Akibatnya, pertumbuhan konsumsi masyarakat pada triwulan I-2020 hanya 2,84 persen secara tahunan, turun dari 5,02 perse.    

Pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) triwulan I-2020 sebesar 2,97 persen juga menunjukkan dampak dari Covid-19 sudah mulai dirasakan pada Februari di sektor transportasi dan pariwisata. Hal ini bisa dilihat dari penurunan jumlah wisatawan dari luar negeri yang merambat ke sektor perdagangan, restoran dan hotel,.

Tampaknya rakyat memerlukan suasana baru, yang merupakan dilema tersendiri bagi daerah.

Transportasi dan pergudangan menurun dari 5,45 persen ke 1,27 persen Sektor perdagangan melemah ke 1,97 persen dari 5,21 persen pada triwulan sebelumnya. Hotel dan restoran terpangkas dari 5,87 persen ke 1,95 persen. Berdasarkan pengalaman dari beberapa krisis sebelumnya di dalam negeri dan luar negeri, justru sektor-sektor ini yang akan pulih lebih dahulu. Potensinya sebagai jangkar pemulihan sangat besar, dengan syarat prosedur ketat pencegahan Covid-19 diterapkan dengan disiplin yang tinggi. Kuncinya, mencari keseimbangan yang tepat.

Daya beli masyarakat sebenarnya masih cukup besar setelah terkungkung di rumah sekian lama. Namun, tanpa penanganan kedaruratan kesehatan yang baik, risiko penularan akan tinggi. Hal ini terlihat dari kerumunan orang di pasar tradisional dan pasar malam kagetan yang semakin banyak, untuk berbelanja keperluan lebaran di tengah PSBB. Masyarakat tampaknya memerlukan suasana baru, yang merupakan dilema tersendiri bagi berbagai pemerintah daera

Fase ini sampai kapan akan berjalan , dengan pertumbuhan yang sangat rendah, bahkan negatif, antara -1,1 persen dan dengan -0.3 persen pada triwulan II. Disusul pertumbuhan rata (flat) pada triwulan III, yakni antara -0,1 dan 0,5 persen. Pola pemulihan akan berbentuk huruf U dengan pola bergerigi di pinggirnya seperti penampakan virus korona.
Hal ini menunjukkan,  sektor perdagangan, hotel dan restoran berpotensi mengikuti pola pemulihan cepat ala V, sektor manufaktur dengan porsi dalam produk domestik bruto (PDB) yang sekitar 22 persen, masih akan menjadi hambatan. Penyebabnya, masyarakat masih akan mengutamakan kebutuhan sandang-pangan, hiburan, dan rekreasi, tetapi masih menunda konsumsi barang tahan lama paling tidak sampai triwulan IV-2020.

BACA JUGA  Prof H Agustitin: Respons Dua Kelas Sosial Yakni Menengah Keatas dan Menengah Kebawah yang Berbeda Cara Pandang Terhadap Virus Covid-19

Apabila  terjadi percepatan pertumbuhan, manufaktur akan dimotori sub-industri makanan dan minuman. Pada fase ini, untuk mencegah kontraksi perekonomian yang lebih dalam, pemerintah melakukan beberapa kebijakan, di antaranya perluasan perlindungan sosial, meminimalkan resesi pada bidang yang terdampak, perlindungan usaha mikro, kecil, dan menengah, serta relaksasi perbankan dan relaksasi fiskal

BACA JUGA  Dr.Hj.Sitti Rohmi Djalillah,M.pd. Membuka Rakor Tim Pembina Samsat Tingkat Provinsi NTB.

Budaya hidup sehat seperti pemakaian masker, penyanitasi tangan,  menjaga jarak, dan penggunaan transaksi dalam jaringan akan menjadi prosedur operasi standar dalam kehidupan sehari-hari. Pengaturan antrean, pesanan ambil, dan pesanan tanpa singgah menjadi kebiasaan baru untuk restoran cepat saji. Meja-meja dibatasi dengan plastik tembus pandang untuk mencegah semburan droplet. Akan tetapi ebutuhan normal baru akan menjadi peluang bagi pertumbuhan industri logistik dan transportasi, pendidikan berbasis daring, kesehatan, dan lain-lain. Hal ini merupakan kesempatan untuk memperkuat kemandirian ekonomi, khususnya mengembangkan rantai pasokan dalam negeri dalam pertanian, industri. perdagangan, pariwisata, dan jasa-jasa umum. Jika skenario ini dapat tercapai, diperkirakan mulai terjadi percepatan di fase akhir pada triwulan IV-2020, dengan pertumbuhan 4-4,4 persen.

Kebijakan menyelamatkan nyawa manusia akibat wabah Covid-19 akan seiring sejalan dengan upaya pemulihan ekonomi. Seperti yang terlihat dalam suasana keramaian sekitar Lebaran yang baru lalu, meyakinkan masyarakat untuk kembali beraktivitas dengan memperhatikan protokol pencegahan Covid-19 yang ketat adalah yang paling sulit. Faktor pendekatan budaya akan sangat melekat dalam merancang kebijakan publik pada era normal baru pasca-Covid-19 ini.

Wabah dunia yang berdampak besar (Pandemi corona) membuat peta dan struktur perekonomian mengalami penurunan yang signifikan. Hampir semua bidang dan kategori dunia usaha terdampak. Usaha Kecil dan Menengah (UKM) termasuk yang Mikro dan Ultra Mikro, Swasta Nasional, BUMN, BUMD, perusahaan multinasional dan juga para startup company terkena akibat.

Sedikit sekali yang masih tetap bisa hidup normal. Sebagian besar usaha bisnis hidup dengan tidak normal, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di seluruh dunia, yang kalau dibiarkan berlarut-larut akan banyak sekali yang terpuruk bahkan bangkrut. Intervensi pemerintah sangat dibutuhkan.

Tejadinya pemutusan hubungan kerja (PHK) di Indonesia tidak lagi menjadi kekuatiran masa depan, karena sudah menjadi kenyataan masa kini yang bisa menjadi PHK permanen bila banyak usaha bisnis yang bangkrut.
Kebangkrutan banyak usaha bisnis sepertinya tidak terhindarkan sehingga perlu juga dicari langkah ekstra untuk mencetak usaha bisnis baru. Tidak perlu disesali bila ada banyak usaha bisnis yang gulung tikar .namun harus ada tumbuh bisnis-bisnis baru yang bisa diharapkan memberi warna baru yang positif bagi perekonomian Indonesia pasca pandemi ini.

BACA JUGA  Prof H Agustitin: Virus Corona, Berdampak.Pada Kerugian Ekonomi Indonesia Mencapai 127 Triliun

Melemahnya ekonomi sebagai dampak pandemi corona yang ditandai oleh anjloknya omset penjualan dengan waktu lama.
Omzet penjualan turun,
Hal ini merupakan perkiraan yang cukup valid terhadap pemulihan perekonomian nasional baru akan kembali normal yang diprediksi (back to normal) setelah enam bulan krisis atau setelah bulan September 2020.

Di prediksi ekonomi baru mulai normal kembali pada tahun 2021. Dengan krisis perekonomian yang sangat berat dan perlu waktu lama untuk pemulihan tentulah tidak mudah bagi pelaku usaha untuk bisa bertahan. Tidak heran bila diprediksi akan terjadi banyak usaha bisnis yang gulung tikar.

Yang musti di pahami pasti ada hikmah di balik masalah. Pandemi corona sudah dinyatakan sebagai bencana nasional non alam. Banyak jatuh korban jiwa, sosial termasuk perekonomian. Sangat besar biaya pemulihan di bidang kesehatan dan perekonomian.
Hendak upaya cerdas dan menyentuh semua keperluan harus dapat dicapai atau dituju. Supaya perekonomian Indonesia cepat kembali normal, dibutuhkan redesain perekonomian dan bisnis.

Oleh karenab pandemi corona harus menggunakan dana / biaya pemulihan sangat mahal semestinya menghasilkan desain baru perekonomian Indonesia yang lebih kokoh dan bisa tumbuh berkelanjutan untuk menjadikan Indonesia sebagai negara yang lebih unggul di masa mendatang.
Sudah saatnya melakukan penataan ulang bangun perekonomian Indonesia.
Kesempatan emas dan momentum yang terjadi ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya.
Dan kini sudah saatnya Indonesia memanfaatkan momentum terbaik sepanjang sejarah Indonesia melakukan redesain perekonomian.

BACA JUGA  Prof H Agustitin: Antara Perbedaan dan Kesamaan Sharing Economy dan Cooperation Economy .

Sebagai upaya melakukan redesain perekonomian nasional, disarankan dengan:

1.) Re-focusing sektor prioritas

2) Pendayagunaan teknologi.

Bidang yang menjadi prioritas perekonomian nasional di masa depan disarankan di sektor:

1.) Pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan dan kehutanan (66.7%);

2.) Industri pertanian/pangan (44.4%); serta

3.) Perdagangan ritel dan perdagangan lainnya (42.6%)

Untuk mendorong menjadi eksportir, dibutuhkan program terpadu berupa pelatihan, pendampingan dan pengembangan fasilitas termasuk pendanaan untuk mengakselerasi lahirnya eksportir baru dari kalangan mahasiswa dan alumni perguruan tinggi. Sudah waktunya dilahirkan eksportir muda lebih banyak dengan cara lebih cepat serta mendayagunakan teknologi digital termasuk e-commerce. Bimbingan eksportir yang sudah berhasil dan dukungan dari pemerintah pusat dan daerah serta asosiasi eksportir akan mempercepat pertambahan eksportir baru.

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA