Prof H.Agustitin: PEUANG BISNIS PERBANGKAN DI TAHUN 2020

banner post atas

Di tahun 2019 yang baru lalu , di cermati dari bulan September2019, kinerja sektor keuangan (termasuk perbankan) kurang menggembirakan. Dana pihak ketiga (DPK) dan kredit perbankan misalnya, masih tumbuh di bawah 10%. Per September 2019, DPK baru tumbuh 7,47% dan kredit tumbuh 7,89%. Sebagai perbandingan, selama 2018, kredit tumbuh 11,75% dan DPK tumbuh 6,45%.

Pasar modal juga kurang menggembirakan. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Juni 2019, emisi efek di pasar modal (saham dan obligasi) masih tumbuh negatif, -11,49% (year on year, yoy). Pertumbuhan negatif ini terutama disebabkan oleh penerbitan surat utang (obligasi) yang tumbuh negatif -19,09% (yoy). Adapun penerbitan saham baru (IPO dan right issue) tumbuh positif 6,57% (yoy).

Perbankan dan pasar modal yang melemah ini memperlihatkan bahwa kegiatan fund raising korporasi untuk membiayai investasinya juga menurun. Berbagai data ini sekaligus mengkonfirmasi data kinerja investasi dalam produk domestik bruto (PDB) yang sampai dengan kuartal III/2019 tumbuh melemah. Berdasarkan data BPS, sampai dengan kuartal III/2019 investasi tumbuh 4,74%, lebih rendah daripada selama 2018 (6,67%).

Iklan

Kkeikutsertaan perbankan sebagai motor pertumbuhan ekonomi dari sisi keuangan masih dominan. Karenanya, perlu ditemukan strategi untuk meningkatkan kinerjanya saat ini. Memang kinerja perekonomian melemah tetapi juga faktor lain ikut menjadi peyebab perlambatan pertumbuhan kredit.

Sebenarnya Bank-bank kita memiliki ruang untuk ekspansi kredit. Rasio kecukupan modalnya (capital adequacy ratio/CAR), masih tinggi. Per September 2019, CAR mencapai 23,28%, jauh di atas batas minimal CAR 12%. Artinya, perbankan memiliki modal kuat untuk meng-cover potensi risiko kredit. Perbankan kita juga berkemampuan menurunkan biaya operasionalnya yang relatif baik. Terlihat dari rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) yang turun. Per September 2019, rasio BOPO berada di level 85,14%, turun dibandingkan dengan 2018 (89,18%).

BACA JUGA  Prof Agustitin: KONTEMPELASI

Indikator indikator yang tersebut di atas memperlihatkan bahwa perbankan kita memiliki kekuatan yang baik untuk melakukan ekspansi kredit. Sayangnya, ruang ekspansi kurang dimanfaatkan. Saya mengidentifikasi, setidaknya terdapat empat faktor penyebabnya. Pertama, kondisi sektoral masih cukup berat, sehingga perbankan menjadi lebih selektif menyalurkan kredit.

kenyataanny sektor-sektor ekonomi yang memiliki pangsa kredit besar seperti industri pengolahan, perdagangan, dan konstruksi memiliki kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) yang relatif tinggi dan meningkat. Per September 2019, NPL industri pengolahan, perdagangan, dan konstruksi masing-masing 3,65%, 3,86% dan 3,55%.

Keseimbangan, korporasi menahan diri dari kegiatan fund raising yang berasal dari sumber eksternal, baik dari pinjaman bank maupun penerbitan obligasi. Hal ini terlihat dari indikator rasio utang terhadap modal (debt to equity ratio/DER) yang rendah dan cenderung stabil. Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), per September 2019, DER korporasi nonkeuangan yang listed di bursa efek masih di bawah 200% (2 kali) dengan pergerakan stabil.

Nampaknya korporasi nonkeuangan sedang berusaha menurunkan DER-nya guna menurunkan beban bunga pinjaman. Kalaupun pinjaman baru dilakukan, sepertinya digunakan untuk refinancing, mengganti pinjaman lama yang berbunga tinggi.

Pada gilirannya timbul.akibat tekanan likuiditas yang ketat. Pertumbuhan DPK yang rendah menyebabkan bank-bank tidak memiliki likuiditas yang cukup untuk mendorong kreditnya. Untuk memenuhi kebutuhan likuiditasnya, bank berburu dana wholesale. Sayangnya, tidak semua bank memiliki kemampuan berburu wholesale funding (WF). Hanya bank-bank besar, bank BUKU 3 dan BUKU 4, yang memiliki ‘kemewahan’ berburu WF maupun dana-dana jangka pendek (deposito tidak lebih dari 6 bulan).

Selanjutnya juga masih terdapat faktor teknis diluar kondisi ekonomi, yaitu kurang sinkronnya antara kebijakan moneter makroprudensial dan kebijakan sektoralnya. BI, misalnya, telah mengeluarkan kebijakan makroprudensial untuk mendorong pertumbuhan kredit perbankan. Salah satunya menurunkan uang muka (down payment) atau penurunan loan to value (LTV), baik untuk kredit pemilikan rumah (KPR) maupun kendaraan bermotor (KKB). Sayangnya penurunan LTV terlihat kurang efektif.

BACA JUGA  Prof H Agustitin:Puasa Romadon Dan Derajat Takwa

Di September 2019 kemarin , KPR baru tumbuh 10,34%, lebih rendah daripada Desember 2018 sebesar 13,31%. KKB bahkan baru tumbuh 0,89% per September 2019. Terlihat, hasil dari k