Prof H Agustitin: MENCIPTAKAN KEINDAHAN DUNIA LAHIR DAN DUNIA BATIN (SPIRITUAL BUDAYA )

banner post atas

FIosofi atau nilai luhur tentang kehidupan dari kebudayaan memperindah keindahan dinikahi dan dunia batin. Orang arif,bijaksans memandang konsep ini tidak hanya sebagai falsafah hidup namun juga sebagai pekerti yang harus dimiliki setiap orang.

Filosofi ini juga kental terasa dalam ajaran “budi pekerti” / akhlakul karimah.
Hal memiliki relevansi dengan wawasan kosmologi atau kosmologi kejiwaan. Kejiwaan memiliki wawasan kosmos yang tidak lain sebagai perwujudan konsep menciptakan lingkungan yang nyan., rentan dan damai.Yang demikian adalah ihwal space culture atau ruang budaya dan sekaligus spiritual culture atau spiritualitas budaya.

Dipandang dari sisi space culture, ungkapan ini memuat serentetan ruang atau bawana. Bawana adalah dunia dengan isinya. Bawana adalah kawasan kosmologi Sebagai wilayah kosmos, bawana justru dipandang sebagai jagad rame. Jagad rame adalah tempat manusia hidup dalam realitas. Bawana merupakan tanaman, ladang dan sekaligus taman hidup setelah mati. Orang yang hidupnya di jagad rame menanamkan kebaikan kelak akan menuai hasilnya.

Iklan

Spiritualitas budaya adalah ekspresi budaya yang harus dilakukan oleh orang di tengah-tengah jagad ramai (space culture).

Pada tataran ini, setiap orang menghayati tentang perilaku kebatinan(penalaran) yang senantiasa menghiasi kesejahteraan dunia. Realitas hidup di jagad rame perlu mengendapkan nafsu agar lebih terkendali dan dunia semakin terarah. Realitas hidup tentu ada tawar-menawar, bias dan untung rugi. Hanya orang yang luhur budinya yang dapat memetik keuntungan dalam realitas hidup.

Dalam proses semacam itu, setiap orang sering mencermati/ melakukan ngelmu titen dan petung demi tercepainya kedamaian dunia.[

Keadaan inilah yang dimaksudkan sebagai selamat tanpa ada gangguan apapu. Suasana demikian oleh orang arif disandikan ke dalam ungkapan mewujudkan kedamaian lahir batin.
Upaya melindungi keselamatan dunia baik lahir maupun batin, bisa terwujud , apabila tiap orang merasa berkewajiban untuk memperindah keindahan dunia, inilah yang memberi arti dari hidup.

Di satu fisik secara harafiah, manusia harus memelihara dan memperbaiki lingkungan fisiknya.Sedangkan di pihak lain secara abstrak, manusia juga harus memelihara dan memperbaiki lingkungan spritualnya.

BACA JUGA  Hikmah Pagi : GANTI ISTRIMU.

Pandangan tersebut memberikan dorongan bahwa hidup manusia tidak mungkin lepas dari lingkungan.
Orang menyebutkan bahwa manusia hendaknya arif terhadap lingkungan, tidak merusak dan berbuat semena-mena.

Setiap Orang memiliki pandangan adiluhung dalam falsafah memayu hayuning bawana. Itu merupakan sebuah falsafah kuno yang mengajarkan budi luhur bagi masyarakat Jawa. Dalam kepercayaannya, sebagai bentuk harapan akan harmoni kehidupan yang dapat memberikan kedamaian kepada seluruh alam.
Wujud memayu hayuning bawana adalah manusia harus sudah mengerti akan kebaikan yang terdapat pada dirinya, dan juga kebaikan jagat raya. Inilah telos masyarakat Jawa yang menciptakan makna bersosial, dan memberikan keselarasan bagi seluruh kehidupan.

Masyarakat Jawa sering mengunakannya untuk nasihat sosial: “memayu hayuning bawana, ambrasta dur hangkara”. Artinya, kebajikan manusia atas bantuan-Nya untuk menumpas segala malapetaka dan keburukan. Biasanya falsafah tersebut terus ditularkan dari generasi ke generasi berikutnya.

Falsafah inilah yang diwariskan orang tua kepada anak-anaknya, supaya mereka bisa menghargai sesama mahluk hidup. Budaya pitutur memang masih kental dilakukan oleh masyarakat Jawa. Kepercayaan bahwa dengan memahami falsafah kehidupan akan membawa hidupan yang lebih indah. Tak usang oleh zaman kalimat Memayu Hayuning Bawana berarti tiga hal.

Pertama, memayu berasal dari kata ‘mayu’ (cantik, indah, atau selamat) mendapat imbuhan ‘ma’ menjadi mamayu (mempercantik, memperindah, atau meningkatkan keselamatan) karena tradisi getok tular masyarakat Jawa kata mamayu menjadi memayu. Di sini mencerminkan perilaku positif dari manusia sosial dengan semangat kerekatan emosional sehingga melahirkan keharmonisan.

Kedua hayuning berasal dari kata ‘hayu atau ha’ dengan mendapatkan kata imbuhan ‘ning atau Ing’ (Allah atau Gusti Pangeran Maha Agung). Dalam falsafah tersebut memiliki arti cantik-Nya, indah-Nya atau keselamatan-Nya. Sehingga masyarakat Jawa dalam memaknai kata hayuning adalah mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan tertuju kepada Sang Maha Kuasa.

BACA JUGA  Prof H Agustitin: WISATA BATINIAH KEUTAMAAN ARIF BIJAKSANA DAN SELALU BERBAIK SANGKA

Ketiga bawana memiliki dua ruang lingkup arti pada wujudnya. Pertama ruang bawah atau dunia dalam yang melingkupi batin, jiwa atau rohani. Sedangkan wujud kedua untuk ruang ragawi atau jasmaniahnya, karena mengunakan kata ‘buwono’ yang berati dunia fisik.

Buwono dalam aksioma masyarakat Jawa memiliki tiga makna. Pertama buwono alit (kecil) yang bermakna pribadi dan keluarga, kedua buwono agung (besar) yang berati masyarakat, bangsa, negara dan internasional (global), dan ketiga buwono langgeng (abadi) adalah alam akhirat atau Illah.

Dengan demikian falsafah tersebut memiliki hubungan kerekatan antara sosial budaya dan Tuhan. Bersama-sama masyarakat Jawa mayakini manusia mampu mengilhamkan keselarasan kepada seluruh alam semesta beserta isinya.

Karakter masyarakat Jawa bisa terlihat jelas, mereka mengunakan sistem pikiran sebagai fungsi ideologi. Seperti teorinya Baudrillard, suatu ideologi dipahami sebagai representasi pikiran. Orang bisa memiliki keyakinan sosial yang kuat berkat agama, mitos, prinsip moral, atau kebiasaan (Baudrillard, 1970: 135).

Menurut penulis teori ini menjadi titik awal sebuah reproduksi tatanan sosial, “setiap sistem disposisi individu adalah variabel struktural sistem disposisi yang lain, di mana terungkap kekhasan posisinya di dalam kelas dan arah yang dituju. Gaya pribadi, praktik-praktik kehidupan atau hasil karya, tidak lain kecuali suatu jarak terhadap gaya khas suatu zaman atau suatu kelas, sehingga gaya itu mengacu pada gaya umum, tidak hanya melalui keseragaman, tetapi juga melalui perbedaan yang menghasilkan pembawaan tertentu” (Bourdieu, 1980: 101).

Meskipun sudah diterima secara luas manusia memiliki kemampuan dan kesempatan unik dalam merawat alam, mereka juga dipandang sebagai mahluk yang bodoh dan bisa merusak. Manusia adalah mahluk mortal, dan serta perasaan mereka berubah-ubah sebagaimana angin. Sehingga, setiap makna yang bergantung pada opini manusia dengan sendirinya rapuh dan sesaat.