Prof H.Agustitin: KITA TINGGALKAN RAMADHAN DENGAN GEMA TAKBIR DAN KITA RAYAKAN DENGAN SHOLAT IDUL FITRI UNTUK MENATAB KEHIDUPAN 11 BLN MENDATANG

banner post atas

_Kemarin lusa telah meninggalkan bulan Ramadan dengan menggemakan takbir yang memecahkan kesunyian dan menggemparkan setan-setan yang dirajam._

PERIHAL menggemakan takbir adalah berdasarkan firman Allah. Berikut firman-Nya dalam Alquran (yang artinya).
_*“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.”*_
(QS. Al-Baqarah ayat 185).

Yang dimaksud dengan *mengagungkan Allah* adalah bertakbir. PADA puncak ibadah puasa Ramadan dan lengkapnya bilangan Ramadan, Allah memerintahkan kaum muslimin untuk mengagungkan asma-Nya. Bertakbir atas petunjuk yang diberikan-Nya serta mensyukuri atas segala nikmat dari-Nya.

Iklan

DISUNAHKANNYA bertakbir ketika Idul Fitri adalah untuk merayakan hari lulusnya kaum muslimin dari kewajiban berpuasa Ramadhan. Secara sosiologis, ibadah ini melembaga dalam bentuk takbiran. Dengan rasa suka, kaum muslimin bertakbir.

TAKBIR merupakan ruh ibadah. Dalam salat, di setiap perubahan gerak diawali dengan takbir. Ketika salat berjamaah, takbir adalah komando agar makmum segera mengikuti gerakan imam. Paling tidak, 85 kali sehari kaum muslimin bertakbir mengagungkan asma Allah.

MEMANG, Idul Fitri merupakan hari kemenangan yang patut disyukuri dan dirayakan, khususnya bagi mereka yang berhasil melakukan ibadah Ramadannya penuh dengan kesungguhan dan kekhusyukan. Idul Fitri juga dijuluki sebagai Hari Kemenangan karena kaum muslimin telah berhasil menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh.

MENGGEMAKAN takbir pada malam Hari Raya Idul Fitri termasuk bagian dari sunah Nabi Muhammad SAW. Sabda beliau, *_“Barangsiapa menghidupkan malam Idul Fitri dan malam Idul Adha dengan mengharap pahala, hatinya tidak akan mati ketika semua hati mati.”_*
(HR. Thabrani).

Takbir itu sendiri sejatinya adalah doa dengan cara memuji. PERIHAL perintah bertakbir pada hari raya Idul Fitri setelah terlihat hilal bulan Syawal, dianjurkan untuk digemakan. Maksudnya, dibaca dengan suara keras.

Allah. Berfirman- *_”Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.”_*
(QS. al-Hajj: 32.

FILOSOFI dan makna terdalam takbir adalah pengakuan bahwa hanya Allahlah Yang Mahabesar. Kemahabesaran-Nya diucapkan berkali-kali dalam sehari oleh kaum mukminin dengan bacaan *Allahu Akbar* yang menunjukkan ikrar bahwa tiada yang lebih besar daripada Allah.

BACA JUGA  Buletin Jum'at HAMZANWADI Edisi 07

SEMENTARA itu, lantunan kalimat takbir sejatinya adalah doa. Doa dengan cara memuji Allah dan agar kita dibesarkan-Nya, baik ilmu, amal, maupun hikmah.

APABILA kita telah selesai mengerjakan puasa Ramadan, ada empat hal yang harus kita lakukan kepada Allah. Yakni yang berikut ini.

Kita mengakui kebesarn-Nya dengan mengucapkan *Takbir* dengan gema yang memecahkan kesunyian dan menggemparkan setan-setan yang dirajam.

Kita mensyukuri-Nya dengan bertahmid dan berzikir. Bersyukur karena kita telah diberi kesempatan untuk bertemu bulan Ramadan dengan pahala yang berlipat ganda. Kita memohon ampun dan beristigfar. Memohon ampun ataskesalahan
kesalahn yang telah diperbuat selama Ramadan yang dapat merusak bahkan membatalkan puasa kita. Kita memberi _sadaqatul fithri_ (zakat ftrah). Dengan sedekahah ini, kita akan suci dari perkataan keji dan perbuatan yang tidak senonoh, di samping memberikan kesempatan bergembira juga kepada penerima zakat fitrah pada hari raya. MELEWATI Ramadan di tengah virus corona masih berpandemi kali ini, marilah kita bersiap diri untuk bertakbir dengan segenap totalitas maknanya. Semoga takbir di malam Hari Raya Idul Fitri memusnahkan pandemi virus Corona dari muka bumi besok paginya. *Aamiin.*

*HARI KEMARN KITA TELAH MERAYAKAN IDUL FITRI*

_KITA semua bergembira dan bersuka ria saat menyambut Idul Fitri 1441 H seperti sekarang ini. Memang dibenarkan demikian. Bahkan, disunahkan kita bergembira, berbahagia, dan bersuka cita pada hari ini. Karena makna kata “‘ied” adalah hari raya, hari yang dirayakan. Perayaan identik dengan kegembiraan dan kebahagiaan._

IDUL FITRI memang hari istimewa. Secara syar’i pun dijelaskan bahwa Idul Fitri merupakan salah satu hari besar umat Islam selain Hari Raya Idul Adha. Karenanya, agama membolehkan umatnya mengungkapkan perasaan bahagia dan bersenang-senang pada hari ini.

SEBAGAI bagian dari ritual agama, prosesi perayaan Idul Fitri sebenarnya tak bisa lepas dari aturan syariat. Idul Fitri harus didudukkan sebagaimana keinginan syariat.

BACA JUGA  MUTIARA HIKMAH (16) EMPAT TINGKATAN ILMU YANG WAJIB DIKETAHUI Oleh : Abu Akrom

SECARA umum kita dapat menyaksikan bahwa perayaan Hari Raya Idul Fitri masih sebatas sebagai rutinitas tahunan yang memakan biaya besar dan juga melelahkan. Kebanyakan orang seperti belum menemukan esensi yang sebenarnya dari Hari Raya Idul Fitri sebagaimana yang dimaksudkan oleh syariat.

SAAT Ramadan sudah berjalan tiga pekan biasanya aroma Idul Fitri seolah mulai terasa. Menu makanan dan kue-kue, serta pakaian baru ramai diburu. Semua itu seolah sudah menjadi aktivitas “wajib” menjelang Idul Fitri, belum ada tanda-tanda menurun atau berkurang.

UNTUK mengerjakan sebuah amal ibadah, bekal ilmu syar’i mutlak diperlukan. Apabila tidak, ibadah hanya dikerjakan berdasar apa yang dilihat dari para orang tua. Maka, bentuk amalannya pun menjadi demikian jauh dari yang tuntunan syariat.

Karena bersilaturahim dengan para saudara, handai tolan, dan kerabat sebenarnya bisa dilakukan kapan saja dan bisa dilakukan dengan media sosial, saling mendoakan dengan doa terbaik, di samping mengirimkan hadiah dan ucapan selamat berlebaran serta mohon maaf.

HARI raya Idul Fitri merupakan momen ketika seluruh umat muslim bersuka cita menyambut hari kemenangan. Namun, agama juga mengajarkan tentang beberapa hal agar kita mengisi saat-saat lebaran tersebut dengan gembira, tapi juga bernilai ibadah. Di antaranya adalah yang berikut ini.

Firman Allah dalam Surah Al-Kautasar,
*_”Maka salatlah kepada Tuhanmu dan berkurbanlah,”_*
(QS. Al-Kautsar ayat 2).

Barangsiapa menghidupi malam hari , hatinya tidak mati di hari kematinya jiwanya tidak mati”_dan terbelah hidup 11 bulan mendatang denga semangat optimis,untuk.menyongsong hidup yang lebih baik.
(HR. al-Daruquthni).

*_Ya Allah, Tuhan kami. Ampunilah dosa kami nyang tidak merugikan-Mu, berilah kami anugerah terindah dan termulia dari-Mu. Sesungguhnya rahmat-Mu teramat luas, hikmah-Mu indah. Berilah kami kelapangan, ketenangan, keamanan, kesehatan, syukur, perlindungan (dari segala penyakit) dan ketakwaan._*