Polisi atau FPI ?

banner post atas

Oleh  Zulkarnaen

Membuat orang meyakini sebuah kebohongan menjadi sebuah kebenaran adalah hal yang sudah sangat biasa. Hal semacam ini sudah dilakukan dari sejak dahulu; Nazi pernah melakukan ini pada perang dunia ke-2. Banyak filsuf sudah memberikan penjelasan soal ini.

Salah satunya dengan mengatakan “kebohongan yang terus diulangi akan menjadi kebenaran”. Kelemahan akal terletak di sini. Selama tidak ada yang mengimbangi sebuah pandangan, lambat laun kemudian akal akan mengatakan ia sebagai suatu kebenaran. Wajar kemudian, banyak cendikiawan setuju terhadap pandangan “jika kau hanya tahu satu perspektif, maka sama artinya kau tak tahu apa-apa”.

Iklan

Hal semacam ini sangat lumrah bagi mereka yang konsen pada media. Apalagi bagi mereka yang memang memiliki poksi membawa kepentingan. Contoh yang paling sederhana adalah framing. Melalui framing, orang yang punya kepentingan akan menggeret pandangan orang-orang kepada yang diinginkan. Mereka memberikan fakta, namun sebenarnya menggeret pandangan kita kepada tujuan mereka. Ini adalah salah satu pola menggeret pandangan. Karena memang sudah berkembang pola-polanya.

Jika anda sedang mengikuti berita polisi dan pengikut MRS, maka anda akan menemukan realitas pro polisi dan pro FPI–anda bisa cek di twiter. Ada jutaan orang yang ikut komentar soal ini.

Mereka memberikan hal-hal yang logis untuk membenarkan masing-masing yang didukung; polisi atau FPI. Saya mengatakan membenarkan karena komentar-komentar itu menggunakan pendekatan koherensi yang membutuhkan satu pendekatan yang lain, yaitu korespondensi. Apa yang disampaikan media adalah hal-hal yang logis dan dibenarkan oleh logika. Anda bisa cek masing-masing pandangan; rata-rata masuk logika. Yang satu dengan bukti, yang satu dengan cctv yang rusak. Bagi yang tidak tahu kejadian sebenarnya tentu membuat bingung. Mungkin anda juga begitu atau sudah berpihak?

BACA JUGA  Pendidikan Keluarga; Sebuah Potret Keluarga di Desa Sukarara Oleh Zulkarenaen ( Mahasiswa Fakultas Pendidikan Universitas Hamzanwadi)

Menurut saya tidak bijak terlalu dini untuk berpihak kepada hal yang kita sendiri tidak tahu benar kejadiannya. Konyol kita, jika menggunakan pendekatan like dan dislike. Apalagi sampai mengakibatkan cost yang lebih besar karena hal yang belum kita tahu. Bagaimanapun pronya kita kepada salah satu, itu tidak mengizinkan kita untuk menilai yang lain, karena kita tidak tahu kejadiannya! Kalaupun kita harus memilih, maka pilihlah dengan ilmu; ilmu dalam hal ini adalah sesuatu yang lebih mendekatkan akan kebenaranya atau potensi kebenarannya lebih tinggi. Tentu setelah menimbang! Tidak adil jika hanya satu perspektif saja.

Saya pikir, hal semacam ini yang penting dipertimbangkan oleh kita semua sebelum memutuskan. Meskipun memang bangsa ini selalu seperti ini dari sejak berdiri; selalu soal polarisasi. Apa yang terjadi di masa lalu, bagaimanapun perbedaannya tidak boleh menghancurkan kebinekaan. Perbedaan adalah keniscayaan, namun jangan sampai menghancurkan tempat dimana kita dipersatukan sebagai saudara senegara bangsa Indonesia. Boleh berbeda, namun jangan sampai membuat antar sesama bangsa pecah. Biarkan kita berbeda dengan indah.

Mungkin kata “pecah” terkesan terlalu khawatir, namun semata untuk menekan soal perbedaan yang memang niscaya, namun kita tetap saudara senegara. Hal ini penting kita ingat, apakah kita pro polisi atau pengikut MRS. Jangan sampai perbedaan kepentingan mengorbankan kemanusiaan satu sama lain. Cukuplah apa yang terjadi di masa lalu ketika manusia tak bernilai karena membela tuhan.

Dan untuk konteks ini, jangan sampai media memporak porandakan antar sesama kita. Era kita adalah era arus informasi. Kemampuan memilah infomasi adalah keniscayaan.

Ini pandangan saya, mungkin bisa menjadi pertimbangan bagi kita semua. Bahwa jika memang kita tidak tahu kebenarannya, maka tak bijak terlalu dini berpihak. Apalagi hanya mengandalkan sumber media. Kalaupun harus berpihak, kita tetap saudara senegara atau mungkin bahkan saudara seagama. Kita semua kewajiban untuk merawat negara ini karena merupakan warisan yang harus dijaga bagaimanapun perbedaan kita.

BACA JUGA  KEADILAN TERHADAP DIRI SENDIRI Oleh : Dwi Handoko Saputro, S.Pd