Pendidikan Keluarga; Sebuah Potret Keluarga di Desa Sukarara Oleh Zulkarenaen ( Mahasiswa Fakultas Pendidikan Universitas Hamzanwadi)

0
241
banner post atas

Masih terlalu ideal, butuh waktu lebih lama untuk menjadikan keluarga sebagai pendidik anak yang dominan. Jika menggunakan konsep pendidikan sebagai segala sesuatu yang memengaruhi perkembangan anak, maka orang tua di Desa Sukarara tidak pernah menjadi pendidik dominan anaknya. Kondisi anak di Desa Sukarara lebih cendrung masuk dalam thesis Ibnu Sina yang mengatakan, anak adalah produk lingkungannya bukan dari tabiat baiknya. Anak-anak di desa Sukarara banyak menghabiskan waktu bersama teman-teman mereka yang keadaannya tidak lebih sama, tidak memiliki referensi contoh yang baik dalam rumah. Orang tua di rumah tidak banyak memberikan contoh, namun lebih banyak memberi perintah untuk menjadi anak yang baik.

Bahkan sebagian orang tua menyekolahkan anaknya bukan karena tujuan pendidikan yang mulia itu, namun karena kealpaan orang tua di rumah, lalu sekolah menjadi opsi untuk tempat bermain anak-anak. Hal ini berimplikasi kepada bagaimana orang tua di Desa Sukarara memandang pendidikan hanya terjadi di sekolah saja.
Sekolah bagi kebanyakan orang tua di Sukarara dilihat sebagai instrumen melejitkan kognisi anak atau harapan di masa depan agar anak mereka menjadi pegawai negeri sipil. Pandangan ini tentu dipengaruhi oleh keadaan zaman yang mereka hadapi, dimana kebanyakan orang tua hanya berharap menyekolahkan anak mereka menjadi orang baik dan bermanfaat kepada orang lain. Sehingga pendidikan masih dianggap hanya terjadi di sekolah.

Selain itu, kealpaan orang tua dalam mendidik anaknya disebabkan oleh keadaan ekonomi. Keadaan ekonomi yang pas-pasan membuat orang tua jarang di rumah karena bekerja seharian di sawah. Bahkan banyak dari ayah-ayah mereka berada di Malaysia bekerja untuk membiayai kebutuhan hidup. Hal ini mengakibatkan agak sulit menerapkan pendidikan keluarga kepada anak. Memang ada keluarga yang tidak banyak beraktivitas di luar rumah, namun permasalahannya adalah mereka tidak paham soal pendidikan keluarga. Seperti dikatakan di atas, proses pendidikan dilihat hanya terjadi di sekolah saja. Orang tua tidak melihat pentingnya pendidikan keluarga.

Iklan

Pendidikan keluarga di Sukarara masih terlalu ideal untuk diharapkan penerapannya oleh orang tua disebabkan faktor ekonomi dan pengetahuan mereka. Kondisi ekonomi dan pengetahuan menjadi determinasi tindakan mereka. Kalaupun pendidikan keluarga ini terjadi, tidak dalam waktu dekat. Butuh waktu yang lama untuk mengidealkan mereka seperti orang tua di luar sana yang sudah melakukan pendidikan keluarga.

Karena secara konsep, pendidikan keluarga memiliki kajian kompleks. Keluarga minimalnya harus memahami apa itu pendidikan, kemudian orientasi pendidikan tersebut. Pendidikan adalah soal memahami yang dididik. Sehingga terkesan menjadi beban untuk orang tua ketika harus memahami pendidikan tersebut karena mereka sibuk mencari biaya hidup dan tidak sempat belajar soal pendidikan keluarga.
Potret di atas bukan dalam rangka melemahkan kampanye pendidikan keluarga, namun lebih pada memberikan bahan atau refrensi dalam membuat kebijakan, pendekatan, program ke bawah. Ada banyak tempat di daerah NTB yang tidak lebih sama keadaannya dengan Sukarara. Tentu butuh memahami kondisinya untuk bisa membuat program yang tepat bagi suatu tempat.

Secara sederhana, menurut penulis tidak hanya butuh kampanye pendidikan keluarga serta memikirkan pendekatannya, namun juga penting memperhatikan bagaimana membantu masyarakat meningkatkan perekonomian supaya tidak habis waktu hanya karena gaji pas-pasan, disebabkan kelemahan skill yang dimiliki. Penting memperhatikan literasi masyarakat soal apa yang membantu mereka. Beberapa hal tersebut mungkin akan memberikan pengaruh kepada akselerasi idealisasi pendidikan keluarga di masa mendatang. Selamat hari keluarga