PEMUDA NW “Refleksi Hari Kesaktian Pancasila”

banner post atas

PR besar kita hari ini adalah bagaimana agar generasi Islam hari ini dan esok sampai seterusnya, memiliki imune atau proteksi diri yang kuat agar tidak pernah sama sekali menjadi terpengaruh oleh paham-paham komunis. Apalagi sampai membiarkan mereka menjadi aktor tumbuhnya bibit-bibit paham atheis berbahaya itu.

Bagaimana mungkin bisa kita biarkan ideologi tak bertuhan ini, padahal kita bangsa Indonesia adalah bangsa yang berketuhanan Yang Maha Esa. Yang mengamini paham kafir ini berarti memusuhi Pancasila sebagai ideologi bangsa. Kalau saja berani menunjukkan taringnya di negeri berpancasila ini, berarti ia menyatakan perang dengan negara.

Dan memang itulah yang semula ingin dilakukan oleh gembong-gembong PKI pada tahun 1965 silam. Mereka yang berpaham komunis itu mau mengganti ideologi Pancasila menjadi ideologi komunis.

Iklan

Tidak tanggung-tanggung, mereka terbukti melakukan kudeta yang terkenal dengan sebutan Gerakan 30 September (G30S/PKI). Kejinya, sampai menyiksa dan membunuh para jendral, atau beberapa perwira angkatan darat, sehingga mereka yang gugur dianugerahi penghormatan sebagai Pahlawan Revolusi.

Meskipun Partai Komunis Indonesia (PKI) yang menjadi gerbong atau pengusung paham laktanullah ini telah dilarang di Indonesia, akan tetapi kita harus mewaspadai bahaya laten yang bisa saja menyusup dan secara kasat mata tak terlihat padahal mereka ada di sekitar kita. Mereka pandai menjadi bunglon asal kesampaian meracuni anak-anak generasi bangsa dengan melemahkan keyakinan berketuhanan Yang Maha Esa tersebut.

Pahlawan Nasional sekaligus pendiri Ormas Islam terbesar di Nusa Tenggara Barat, TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Majid, memilih menentang paham tak bertuhan itu dengan mendirikan madrasah-madrasah sebagai benteng pertahanan ummat.

Bisa kita bayangkan, bagaimana jadinya bangsa ini kalau saja para tokoh-tokoh Muslim tidak melakukan aksi proteksi ummat , mendidik putra-putri kita dengan ajaran agama? Eksistensi pondok-pondok pesantren, sekolah Islam dan madrasah-madrasah memiliki andil besar pemberi imunisasi atau kekebalan bagi anak bangsa terhadap paham komunis itu.

BACA JUGA  Polres Lombok Utara Peringati Isra Mi'raj 1442 Hijriah Nabi Muhammad SAW

Maka Pemuda NW saat ini yang tengah aktif menimba ilmu dan meningkatkan pengembangan dirinya, telah diproteksi kuat dengan bekal ilmu Tauhid yang dikaji di bangku sekolah atau majlis-majlis da’wah. Dengan makin banyak kesadaran masyarakat memilih pondok pesantren dan madrasah sebagai tempat menimba ilmu, itu secara tidak langsung sudah berarti mengimunisasi anak-anak agar tidak tertular virus berbahaya bernama paham komunis.

Mari bahu-membahu, bersinergi melawan paham kurangbajar ini dengan banyak memohon perlindungan kepada Allah Swt, seraya melakukan aksi nyata, mendorong generasi muda untuk tekun mengkaji ilmu agama, sehingga akan lahir menjadi Pemuda (Pemuda NW) yang kuat dan militan menjunjung tinggi ajaran agama yangbmembawa keselamatan yaitu diinul Islam.

Jangan pernah kasi ruanguntuk paham komunis, kita ingat seruan Guru Besar kita Maulanasyaikh dalam nasyid Ya Fata Sasak; La La La La nubaali yang mengandung pesan, jangan pernah peduli, jangan pernah ambil hati, apalagi bersekongkol dengan kemungkaran, dengan musuh Tauhid. Pemuda NW tentu diharapkan menjadi terdepan dalam usaha proteksi diri, keluarga, ummat, masyarakat dan bangsa dari virus ideologi komunis. Hanya kepada Yang Maha Perkasa Allah Swt saja kita mohon pertolongan.

(@generasinw_officia)

(Rabu, 14 Shafar 1442 H/ 1 Oktober 2020 M)