Pandemi Covid19, Kita Harus Bagaimana? Oleh Zulbajang

banner post atas

“Virus Corona itu bukan penyakit memalukan,  bukan sebuah aib,  jangan kucilkan penderita covid-19, mereka harus di support biar sembuh,” 

Demikian disampaikan Wakil Gubernur NTB Umi Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah dalam acara Jumpa Bang Zul dan Umi Rohmi yang di siarkan secara langsung melalui RRI dan live streaming, Kamis (16/4) pagi.

Apa yang disampaikan oleh Umi Rohmi, panggilan akrab wagub itu penting kita pahami dan menjadi perhatian kita bersama. Kenapa demikian?

Iklan

Di beberapa tempat terbangun stigma negatif terhadap para penderita covid19. Ada yang dikucilkan. Bahkan! ada juga terjadi penolakan pemakaman terhadap penderita virus corona ini. Miris. Menyedihkan. Dan tentu sangat disayangkan. 

Yang menyedihkan juga, ada terjadi pengucilan kepada tenaga medis dan tenaga kesehatan yang menjadi garda terdepan dalam menangani pasien covid19. Padahal, merekalah bagian dari orang-orang yang rela mengorbanan waktu, tenaga, pikiran, dan bahkwan bersedia berkorban nyawa. 

Dalam bahasa al Qur’an dan Rasul SAW, mereka itu termasuk kedalam orang-orang yang senantiasa mendahulukan orang lain di atas kepentingan mereka. Padahal mereka sendiri memerlukannya. 

Para tenaga medis kita itu orang-orang yang juga perlu keselamatan untuk diri mereka. Mereka juga mencintai diri mereka sebagaimana kita mencintai diri kita. Namun, mereka mendahulukan keselamatan orang lain. Demikian diterangkan TGB. Dr. Muhammad Zainul Majdi dalam video singkatnya yang telah beredar di berbagai platform media sosial. 

Tidak ada diantara kita yang menginginkan terkena dari virus corona ini. Virus ini adalah pandemi global yang bisa menyerang siapa saja. Dari anak-anak hingga orang dewasa. Dari penguasa dan pejabat negara hingga rakyat biasa. Virus ini telah berada di tengah kita. Dan mari kita hadapi bersama. 

BACA JUGA  Kemenkes : Sebanyak 1000 Tokoh Agama Jalani Vaksinasi Massal.

Orang-orang yang sudah terjangkit virus ini kita support dan kita kasih semangat. Supaya, mereka tenang menjalani perawatan. Bukan dikucilkan. 

Para tenaga medis dan tenaga kesehatan yang berjuang di garis terdepan, kita bantu memutus rantai penyebaran covid19 ini. Caranya, mengikuti semua protokol pengamanan dan pencegahan. Bekerja dari rumah, belajar dari rumah, dan beribadah dari rumah untuk sementara waktu.

Alhadulillah, tidak sedikit pula kita lihat gerakan-gerakan sosial kemanusiaan yang telah aktif bergerak membantu sesuai dengan kemampuannya. Ada yang membantu memberikan masker, ada yang membantu menyediakan Alat Pelindung Diri (APD), ada yang menyediakan sembako, dan lain sebagainya.

Lazis Melontar misalnya. Saya melihat lembaga yang digerakkan anak-anak muda NTB ini hampir setiap hari turun membantu masyarakat untuk menyemprotkan cairan disinfektan. Ke rumah-rumah warga. Ke tempat-tempat ibadah. Sekolah. Dan lain sebagainya. Tidak untuk dibayar. Tidak untuk mencari panggung. Tidak juga bermuatan politis. Mereka tergerak karena mereka peduli. Bersama dengan beberapa lembaga yang lain, mereka terus bergerak sebisa yang dilakukan.

Saatnya kita saling rangkul. Saling bantu. Saling memberikan semangat. Berbuat nyata sesuai dengan yang kita mampu. Bukan saling menyalahkan. 

Dengan kebersamaan, InsyaAllah pandemi covid19 yang sedang kita hadapi saat ini dapat lebih tercepat teratasi. Sehingga, kita bisa menjalankan aktivitas dengan tenang dan aman. Kita Bisa dan Kita Mampu InsyaAllah.

Mataram, 16 April 2020