MUTIARA HIKMAH (32) DIALOG EKSLUSIF DENGAN PEMBINA SINARLIMA, PROF. DR. H. AGUSTITIN SETYOBUDI, MM, “TABAH KATA KUNCI MENGGAPAI TUJUAN” Oleh : Abu Akrom

banner post atas

Hari ini Sabtu, 11 Juli 2020 pukul 11.30 WIB di kampus Acprilesma Sekolah Laboratorium Jakarta, adalah hari yang sangat istimewa bagi diri penulis karena dapat berdialog langsung dengan salah seorang Pembina media Sinar5News.com yaitu Prof. Dr. H. Agustitin Setyobudi, MM, Ph.D. Perlu diketahui bahwa disamping beliau sebagai Pembina media Sinar5News.com juga menjabat sebagai Ketua Umum Induk Koperasi Pegawai Republik Indonesia (IKPRI), Ketua Umum Lembaga Seni dan Qasidah Indonesia (LASQI) dan Pembina Pengurus Wilayah Nahdlatul Wathan (PWNW) DKI Jakarta.

Dalam dialog tersebut penulis banyak mendapatkan pencerahan yang sangat berharga untuk pembentukan pribadi manusia yang utuh dan sempurna (fi ahsani taqwiim), diantaranya senantiasa bersikap tabah dalam segala keadaan apapun. Ketahuilah bahwa istilah tabah itu jangan hanya dibatasi ketika kita menghadapi suatu musibah berat seperti kematian, kehilangan dan lain-lain. Ternyata tabah itu mesti ada dalam segala apapun yang kita lakukan, karena tabah itu maknanya adalah tahan banting, tahan uji, tahan emosi dan tahan nafsu. Bahkan dikatakan tabah itu lebih tinggi dari sabar. Kalau sabar lebih kepada menahan diri, sedangkan tabah disamping menahan diri juga mampu menghadapi segala macam keadaan yang ada, sehingga semua yang kita lakukan mencapai tujuan yang dicita-citakan.

Untuk mencapai tahapan ke tingkat tabah hendaknya setiap manusia mampu memanage (mengelola, mengatur dan merapikan) semua unsur penting yang ada dalam tubuh, mulai dari ruh, jiwa, hati, akal dan jasad secara keseluruhan. Ruh kita hendaknya selalu dimanage dengan kalimat tauhid, jiwa dimenage dengan nilai taqwa, hati dimanage dengan dzikrullah, akal dimanage dengan berpikir positif dan jasad dimanage dengan akhlakul karimah.

Iklan

Apabila ruh dimanage dengan kalimat tauhid, jiwa dimanage dengan nilai taqwa dan hati dimanage dengan dzikrullah, akan melahirkan kecerdasan spiritual (SQ), akal bila dimange dengan berpikir postitif akan melahirkan keceredasan intelektual (IQ) dan jasad bila dimanage dengan akhlakul karimah akan melahirkan kecerdasan sosial (EQ).

BACA JUGA  Cucu Pahlawan Nasional,Gede Syamsul Di Kukuhkan Jadi Ketua Majelis Adat Kerajaan Nusantara NTB.

Tentu semua ini tidak semudah yang kita bayangkan, perlu ada proses secara terus menerus (mujahadah) dan berkesinambungan (istiqamah) dibawah binaan guru-guru kita yang ahli dibidang ini, karena bagaimanapun manusia tidak bisa mencapai posisi yang tetinggi menjadi manusia yang ahsan (terbaik) dalam segala bidang, kecuali melalui guru-guru yang kita yakini kealiman dan kesolihannya.

Apabila semua unsur penting dalam diri manusia ini dapat dimanege denga benar, maka secara otomatis nilai ketabahan itu akan muncul dengan sendirinya dan menjadi karakter yang permanen untuk mencapai suatu tujuan mulia, sehingga harapan dan cita-cita dapat tercapai dengan sempurna dalam segala segi kehidupan yang kita geluti.

Demikian lebih kurang kesimpulan hasil dialog dengan guru besar yang kita cintai, Prof. Dr. H. Agustitin Setyobudi, MM, Ph.D (Guru Besar Ekonomi dan Koperasi Indonesia). Kita doakan semoga beliau selalu mendapatkan kesehatan, keberkahan dan panjang umur dari Allah SWT, sehingga terus dapat membina umat kepada kemajuan yang berkualitas dalam segala bidang kehidupan. Aamiin.

Jakarta, 20 Dzulqa’dah 1441 H/11 Juli 2020 M