MODEL MENGASUH DAN MENDIDIK ANAK DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0

MODEL MENGASUH DAN MENDIDIK ANAK DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0

Oleh : BQ ERMI JUNIARTI

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SOSIOLOGI, FAKULTAS ILMU SOSIAL UNIVERSITAS HAMZANWADI

Revolusi Industri 4.0 tidak hanya menyediakan peluang, tetapi juga tantangan bagi generasi Milenial. Tantangan yang terdekat berasal dari anggota keluarga khususnya orang tua. Banyak orang tua yang kurang mengetahui dan memahami bagaimana cara mendidik anak. Keadaan ini semakin kompleks dengan fakta yang menyebutkan bahwa di era ini memasuki Revolusi Industri 4.0. Dengan adanya Revolusi Industri 4.0 menandakan adanya pengaruh globalisasi saat ini diantaranya semakin mudahnya masyarakat mendapatkan informasi dari berbagai belahan dunia sebagai akibat dari perkembangan teknologi yang begitu pesat. Hal Ini membawa pengaruh positif maupun pengaruh negatif khususnya dalam ranah pendidikan keluarga.

Pengasuhan dan pendidikan anak akan selalu menjadi topik penting dalam psikologi, khususnya Psikologi Perkembangan, setidak-tidaknya dikarenakan dua sebab. Sebab yang pertama adalah bahwa anak mendapatkan acuan dalam bertingkah laku, baik untuk memenuhi keinginan dan kebutuhannya, maupun dalam memenuhi tuntutan lingkungannya, melalui orang tua sebagai agent lingkungan sosial dan budaya dimana keluarga tersebut berada. Melalui pendidikan dan pengasuhan orang tua, anak memahami nilai-nilai, norma-norma, dan aturan-aturan dalam bertingkah laku, termasuk hal-hal baik dan ideal yang harus diteladani. Kedua, pengasuhan dan pendidikan anak, yang muncul dalam bentuk relasi antara orang tua dengan anak, tidak akan terlepas dari komunitas, masyarakat, dan lingkungan sosial-budaya setempat yang dari jaman ke jaman akan mengalami perubahan. Bentuk-bentuk relasi orang tua dengan anak yang menyangkut bagaimana orang tua mengendalikan (control) perilaku anak dan seberapa besar orang tua memberikan kasih sayang dan kehangatan (warmth) kepada anak, merupakan produk dari jamannya. Pada kenyataannya, penelitian-penelitian mengenai hubungan orang tua dengan anak dan remaja merupakan salah satu fokus penting dalam psikologi perkembangan (Laursen & Collins, 2009).

Kerangka pandang mengenai pendidikan dan pengasuhan anak pada umumnya ditangkap dalam perspektif yang dikemukan oleh Baumrind mengenai parenting style. Dengan mempersilangkan dimensi warmth dan control, Baumrind mengemukakan empat kategori parenting style, ialah authoritative, authoritharian, permissive, dan neglect. Banyak penelitian dilakukan untuk mengungkap dampak positif dari pengasuhan dan pendidikan yang bersifat authoritative, yang dianggap sebagai cara pendidikan yang terbaik. Sementara itu, penelitian-penelitian mengenai akibat dari ketiga pola asuh yang lainnya jauh lebih sedikit. Lebih sedikit lagi, terutama di Indonesia, adalah penelitian-penelitian yang bertujuan mengungkap bentuk-bentuk perilaku yang merupakan ungkapan dari pola pengasuhan yang bersifat authoritative, authoritharian, permissive, maupun neglect beserta dampaknya terhadap perilaku anak.

Revolusi Industri 4.0 yang merupakan kelanjutan dari Revolusi Industri 3.0, dipandang sebagai perubahan jaman yang bersifat disruptive. Kedua revolusi ini diawali dengan berkembangnya teknologi digital yang semakin menjangkau semua orang pada semua tingkatan usia. Revolusi industri 3.0 dipicu dengan kehadiran alat elektronik, komputer teknologi, dan automatisasi yang menyentuh hampir semua bidang kehidupan. Revolusi industri 4.0 dapat dilihat sebagai kelanjutan dari perubahan- perubahan yang terjadi pada era revolusi industri 3.0. Alat elektronik, komputer teknologi, dan otomasisasi yang sebelumnya hanya dapat dilakukan melalui mesin-mesin besar, seperti mainframe dan otomatisasi pabrik yang tidak dimiliki secara personal, semakin hari semakin semakin menjadi kelengkapan personal. Dimulai di akhir dekade 80’ an, sekarang ini hampir setiap dari individu mengantongi perkakas digital dengan kapasitas yang pada dekade 70’ an hanya dapat dihasilkan oleh perkakas dengan ukuran satu atau dua ruangan.

Perkembangan teknologi digital yang sangat pesat inilah yang mendorong terjadinya perubahan yang sangat cepat yang mengarah pada mengaburnya batas-batas antara manusia dengan mesin yang membentuk kesatuan Cyber Physical System. Perkembangan pengetahuan manusia dalam kecerdasan buatan telah memungkinkan otomatisasi pada tingkat yang lebih tinggi, nirkabel, dan nyaris tanpa intervensi dari manusia, atau yang sering disebut sebagai internet of things. Selain itu, network telah berkembang menjadi tatanan utama komunikasi antar alat, antar manusia, dan antar alat dengan manusia. Perkembangan-perkembangan dalam teknologi digital ini secara logis diikuti dengan semakin meluasnya ketersediaan gadget yang mudah dijangkau, siap dipakai disetiap waktu dan tempat, baik oleh orang tua maupun anak.

Dengan jumlah penduduk sekitar 268 juta jiwa (termasuk bayi dan manula), data statistik pada bulan Januari 2019 menunjukkan bahwa penggunaan telepon pintar di Indonesia menunjukkan sampai pada angka 355,5 juta jiwa. Angka yang melebihi jumlah populasi ini menunjukkan bahwa anak-anak pun sudah terbiasa menggunakan telepon pintar dalam kehidupan keseharian mereka. Pendidikan dan pengasuhan anak yang terkait dengan penggunaan telepon pintar, atau secara lebih umum, gadget, ini sering menjadi pertanyaan bagi orang tua, yang pada masa tumbuh kembang para orang tua ini belum tersedia secara meluas sehingga pada umumnya orang tua tidak memiliki rujukan pengalaman mengenai hal ini.

Penggunaan gadget pada anak-anak dapat merupakan hal yang positif tetapi juga dapat membawa dampak yang negatif. Akses yang tidak terbatas pada semua materi, serta gaming dalam frekuensi yang tinggi mengakibatkan berkurangnya waktu anak untuk secara langsung berinteraksi secara sosial dengan anak lainnya maupun dengan orangtua. Hasil survei dikutip di banyak media masa menunjukkan bahwa di Indonesia rata-rata orang berselancar menghabiskan waktu 8 jam 36 menit per harinya disertai dengan penggunaan media sosial selama 3 jam 26 menit. Kenyataan ini menimbulkan pertanyaan bagaimanakah seharusnya orang tua bersikap dalam menghadapi perubahan jaman, khususnya dalam kerangka pengasuhan dan pendidikan anak.

Hurlock (1990) membagi masa remaja menjadi dua, yaitu masa remaja awal (11/12-16/17 tahun) dan remaja akhir (16/17-18 tahun). Berdasarkan rentang usia tersebut maka usia anak masuk pada kategori remaja awal, yang merupakan masa krisis identitas diri. Keterlibatan orangtua dalam mengasuh dan mendidik anak sangat besar, terutama terkait pengaruh teknologi dan lingkungan sosialnya. Tuntutan agar orang tua terlibat aktif dalam pengasuhan anak semakin besar, sementara beban dan kebutuhan keluarga juga membuat orangtua harus menghabiskan banyak waktu diluar rumah untuk bekerja menyebabkan orangtua menyediakan fasilitas gadget agar anak tidak bosan ketika berdiam dirumah. Bagi kebanyakan orangtua, merasa bahwa lebih baik melihat anaknya diam dirumah berteman dengan gadget daripada anak beraktivitas kurang jelas diluar rumah. Aktivitas diluar rumah sulit untuk dipantau oleh orangtua dan memiliki banyak pengaruh lingkungan sosial yang tidak terduga, yang dikhawatirkan kebanyakan orangtua adalah anak terlibat pada narkoba, kenakalan, dan seks bebas.

MODEL-MODEL MENGASUH DAN MENDIDIK ANAK DI ERA REVOLUSI 4.0

1. Authoritarian Parenting (adult- centered).
Authoritarian parenting (adult-centered) adalah model mengasuh dan mendidik anak, dimana orang tua menekankan pada penerapan self-control secara kaku, mengevaluasi perilaku dan sikap anak dengan orangtua yang absolute, menghargai kepatuhan, menghormati orang dewasa dan tradisi. Meskipun model pengasuhan ini terkesan otoriter dan kaku, namun model seperti ini diperlukan bergantung pada perilaku dan lingkungan sosial anak, khususnya di era revolusi industri 4.0 terkait penggunaan gadget. Bentuk pengasuhan otoriter yang diterapkan orangtua lebih pada menentukan dengan ketat waktu yang diperbolehkan atau dilarang bagi anak untuk menggunakan gadget, lamanya waktu yang digunakan untuk bermain gadget, pembatasan kuota internet untuk anak dan konten yang dapat diakses oleh anak. Pengasuhan model otoriter ini, secara positif justru membentuk disiplin dan kontrol diri pada anak. Adapun dampak negatif yang ditemukan dari penerapan model pengasuhan authoritarian dalam penelitian ini adalah anak lebih cenderung bertindak tidak sesuai dengan yang diinginkan orang tuanya, sering kurang bahagia, menarik diri (lebih suka menyendiri), takut dan cenderung sembunyi-sembunyi dalam menggunakan gadget, dan kurang terbuka. Namun dampak positifnya adalah anak menjadi lebih disiplin dan patuh pada aturan.

2. Authoritative (demokratis).
Model berikutnya adalah Authoritative parenting (model pengasuhan demokratis). Model mengasuh dan mendidik anak secara demokratis, dimana orang tua mendorong anak untuk mandiri, namun tetap membuat batasan dan control terhadap perilaku anaknya. Dalam penggunaan gadget, pada tipe pengasuhan ini orang tua memberikan kontrol tetapi tetap memberikan fleksibelitas pada anak, membuat tuntutan yang rasional pada anak, perlakuan secara hangat, mendengarkan pembicaraan anak, menghargai kedisiplinan, membangun kepercayaan terhadap diri sendiri dan orang lain, memahami karakteristik anak, serta menunjukkan rasa senang dan dukungan atas perilaku anak yang positif.
Orangtua yang menerapkan pola asuh demokratis berkaitan dengan penggunaan gadget ini meminta anak secara mandiri membuat jadwal kegiatan sehari-hari termasuk waktu bermain gadget. Orangtua memberikan kebebasan kepada anak untuk menggunakan gadget ketika anak telah mengerjakan tugas sekolah (PR) dan menyelesaikan les. Orangtua merasa jika anak dilarang, maka anak justru akan sembunyi-sembunyi dalam menggunakan gadget. Apalagi jika anak dilarang sama sekali menggunakan gadget, anak akan menjadi tidak update teknologi, dan tentunya ketinggalan pengetahuan dari teman- temannya. Pola mengasuh dan mendidik anak model ini akan memunculkan perilaku anak yang terlihat bahagia dan gembira, memiliki kepercayaan diri dan kontrol diri yang berjiwa eksploratif, berperilaku achievement-oriented tetapi bertindak sesuai kemampuan, anak juga dapat membangun hubungan yang bersahabat dengan orangtua, kooperatif dengan lingkungan sosialnya, dan dapat mengatasi stres dengan baik.

 

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA