MENYIRAT KATA “NOL” Oleh: Dwi Handoko Saputro, S.Pd

banner post atas

Sering kita dengar kata “nol” dan ada juga yang bilang kata “kosong”, apakah ini memiliki makna yang sama atau memiliki makna yang berbeda, tentunya itu semua dilihat dari kata yang mewakilinya atau keterangannya. Jika orang bertanya, berapakah nomor handphone anda? Tentu jawabnya ada yang “nol dan kosong”, tapi jika ada yang bertanya, apakah ruang kelas itu kosong? Tentu jawabnya, “ooh, kosong”, dari kalimat ini dapat ditarik kesimpulan bahwa kata “nol” dipakai untuk angka atau nilai, sedangkan “kosong” dipakai untuk keterangan tempat atau suatu keadaan.

Mari, kita lihat dari sisi qolbu keimanan, kata “nol”, merupakan pertemuan titik awal garis yang dilingkarkan menuju awal titik garis, yang didalamnya terdapat kehampaan, tetapi kalau kita tarik lurus tanpa pertemuan, maka akan tercipta garis lurus tanpa ujung tergantung situasi dan kondisi qolbu orang untuk menuju jalan sirotholmustaqim.

Kehampaan berhubungan dengan qolbu manusia yang harus diisi dengan ilmu keimanan menuju jalan sirotholmustaqim. Ini akan memunculkan beberapa pertanyaan; “Kapan qolbu kita hampa? Mengapa qolbu kita hampa? Bagaimana cara mengisi kehampaan qolbu kita? Marilah kita bersama-sama merenung sejenak tentang kehampaan.”

Iklan

Manusia dilahirkan dari rahim seorang ibu, yang pertama tersirat adalah tangisan bayi yang dilahirkan dengan buaian asi seorang ibu, setelah itu suara adzan yang dikumandangkan seorang ayah disamping telinga bayi, kemudian umur 1 tahun sampai umur 5 tahun manusia diberikan teladan yang baik, disinilah secara tidak kita sadari qolbu manusia sudah diisi oleh orangtua kita. Tetapi seiring berjalannya waktu umur 6 tahun sampai 10 tahun merasakan qolbunya hampa secara tidak kita sadari, dimana di umur tersebut kita hanya merasakan kesenangan dengan permainan-permainan yang mengasyikkan, tetapi umur 11 tahun sampai 20 tahun orang mencari jati dirinya, ada yang berhasil dan ada yang gagal dalam mencari jati dirinya.

BACA JUGA  Soal Jamaah di Rumah Saat Wabah Corona, Awas Terjebak Jabariyah!

Pada umur 21 tahun sampai 35 tahun, manusia akan merasakan bahwa qolbu keimanannya masih hampa atau kosong dan pada umur tersebut manusia akan mencari ilmu keimanan dengan tingkatan yang berbeda-beda. Perbedaan tingkatan iman ini bergantung pada ketetapan kenyakinan qolbunya. Pada umur 35 tahun sampai umur 45 tahun, manusia mulai merasakan kehampaan yang luar biasa karena masa-masa umur tersebut tingkat egoismenya meningkat dan bergantung pada tingkat keimanannya kepada sang pencipta. Disinilah mulai tertantang untuk mengalahkan segala godaan duniawi maupun yang berasal dari qolbunya. Kemudian di umur 46 tahun sampai 60 tahun manusia akan berusaha lebih mendekatkan diri kepada sang pencipta dan berusaha untuk mengalahkan egoismenya dalam menuju jalan sirotholmustaqim.

Kata “nol” harus kita isi dengan ilmu keimanan agar memiliki beban amalan yang banyak, sehingga “nol” ini bisa menjadi garis lurus menuju surga-Nya sang pencipta. Beberapa cara dapat dilakukan untuk mengisi qolbu keimanan kepada sang pencipta;

1. Fokuskan qolbu kita pada saat berdoa (sholat) mengingat segala dosa-dosa yang pernah dilakukan oleh alat panca indera kita, rasakan bahwa kita ini hina dihadapan sang pencipta;

2. Berpuasa senin-kamis dengan dibarengi berdzikir yang terpaut dengan pikiran-hati-jiwa kita dihadapan sang pencipta, jika tidak kuat berpuasa isilah hari senin-kamis dengan membaca kitab suci sehabis berdoa (sholat) sempatkan waktu kita (10 ayat atau lebih), karena kematian bisa datang kapan saja tanpa pemberitahuan;

3. Pautkan qolbu kita kepada sang pencipta bahwa sang pencipta selalu melihat dan mengawasi dimana kita berada, dengan merasakan udara disekililing qolbu kita.

4. Ikutilah kalimat bisikan qolbu kita yang baik karena sifat qolbu ada dua sifat yaitu sifat baik yang membawa kebaikan dan sifat buruk yang dapat membawa kita kejalan yang salah.

BACA JUGA  PEMBELAJARAN MULTIKULTURAL MELALUI PEMBIASAAN PADA KELUARGA SEJAK USIA DINI

5. Rasakan udara kebaikan disekitar kita pada saat berdoa kepada sang pencipta dengan penuh kenyakinan bahwa sang pencipta pasti mengabulkan segala doa kita, karena manusia tidak tahu kapan doanya dikabulkan, mungkin bisa langsung, mungkin bisa 1 tahun atau lebih doa kita dikabulkan.

Pada dasarnya manusia di alam semesta ini belajar untuk menemukan keimanan di dalam dirinya, agar selalu dekat dengan sang pencipta. Marilah kita sebagai manusia berusaha untuk berjalan dijalan sirotholmustaqim, walaupun kanan-kiri penuh dengan godaan duniawi. Luruskan pandangan kita, bahwa semua itu penuh kebaikan dan anggaplah kesalahan sebagai jalan menuju kebaikan, dimana tidak ada manusia yang selalu benar tapi manusia berusaha belajar menuju mencari kebenaran yang diikuti oleh kesalahan karena kesempurnaan hanya ada pada sang pencipta.