Memperoleh pertolongan Allah dengan tawakkal

banner post atas

Salah satu sifat bawaan manusia yang tidak bisa dibuang adalah sifat serba kekurangan. Dengan sifat ini, membuatnya tidak bisa terlepas dari bantuan dan pertolongan orang lain, apalagi untuk hidup sendiri tanpa bantuan orang lain, merupakan hal yang tidak mungkin. Sebanyak apapun harta yang dimiliki tidak akan bisa menjadi jaminan manusia untuk hidup tanpa orang lain. Masalahnya, kepada siapakah harta akan dibelanjakan kalau hidup sendiri ?. Karena itulah Allah memerintahkan kepada manusia untuk saling tolong menolong.

وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. (QS. Al Maidah : 2)

Iklan

Tolong menolong dalam kebaikan terhadap sesama muslim merupakan ikhtiar untuk maju bersama. Dalam sebuah pepatah dikatakan ” berat sama dipikul, ringan sama dijinjing”, yang ditolong akan merasa senang dan menaruh rasa simpati kepada yang menolong, sedangkan yang menolong akan timbul rasa kepuasan dan kesenangan karena dapat berbagi dengan sesama.

Tolong – menolong dalam kehidupan manusia merupakan langkah yang sangat baik untuk memperoleh kebahagiaan, namaun itu belum bisa dijadikan jaminan mutlak untuk memperoleh kebahagiaan hakiki di dunia dan akhirat, karena ada pertolongan lain yang lebih dahsyat dan lebih utama yang harus didapat supaya memperoleh dua kebahagiaan di atas, yaitu pertolongan Allah SWT. Kebahagiaan dunia dan akhirat dapat diperoleh dengan memohon, mendekatkan dan menyerahkan diri kepadanya (tawakkal). Dengan ini diharapkan kita termasuk salah satu bagian dari hambanya yang akan mendapatkan pertolongannya.

Dalam Al-Qur’an surat Al – Haj ayat 34 Allah menyebutkan tentang orang yang akan memperoleh pertolongan, dengan diberikan kabar gembira kepadanya karena kepasrahan dan kepatuhannya kepada Allah SWT.

BACA JUGA  Tingkatkan Pola Hidup Sehat, Satgas Pamtas RI-RDTL Yonif 132/BS, Ajarkan Senam Gembira Kepada Anak-Anak Perbatasan.

فَاِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌ فَلَهٗٓ اَسْلِمُوْاۗ وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِيْنَ ۙ

“Maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserahdirilah kamu kepada-Nya. Dan sampaikanlah (Muhammad) kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah)”

Pasrah (tawakkal) disini adalah menyerahkan seluruh urusannya kepada Allah dengan sepenuh hati, patuh dan tunduk terhadap perintahnya, serta diiringi dengan ikhtiar yang maksimal. Dengan pasrah yang bulat disertai dengan ikhtiar yang maksimal dan ketaatan terhadap perintahnya, insyaallah akan didapatkan limpahan karunia dari Allah SWT, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits,

لَوْ أَنَّكُمْ تَوَكَّلْتُمْ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ، تَغْدُوا خِمَاصاً وَتَرُوْحُ بِطَاناً

“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya kalian akan diberi rizki sebagaimana rizkinya burung-burung. Mereka berangkat pagi hari dalam keadaan lapar, dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang”
(HR Imam Ahmad, At-Tirmidzi, Al-Hakim, Ibnu Hibban, dan Al-Mubarak dari Umar bin Khathab).

Hadits di atas menjelaskan tentang keutamaan menyerahkan segala urusan (tawakkal) kepada Allah, yaitu akan dimudahkan rizkinya seperti dia memudahkan rizki burung yang pada pagi harinya merasakan lapar dan sorenya menjadi kenyang. Dalam hadits di atas, digambarkan dengan hewan yang tidak memiliki akal seperti burung saja dengan mudah mendapatkan rizkinya, lalu bagaimana halnya dengan manusia yang memiliki akal yang sehat dan sempurna, sepantasnya harus lebih mudah dalam mendapatkan rizkinya dibanding dengan burung.

Kebahagiaan dunia dan akhirat adalah tujuan utama dalam kehidupan, maka hendaklah kita berusaha memperolehnya dengan mohon pertolongan kepada Allah melalui ikhtiar usaha yang maksimal disertai dengan tawakkal sebenar – benar tawakkal menyerahkan seluruh urusannya kepada Allah yang maha memberi rizki.

BACA JUGA  SYAIR INSPIRATIF (16) CINTA BAPAK MAULANA Oleh : Abu Akrom

Artikel ini diambil dari intisari khutbah jum’at yang disampaikan oleh Ust. Sarbini Khair, S.Ag, jum’at yang ke 33 pada tanggal 5 maret 2021 di Masjid Hamzanwadi Ponpes Nahdlatul Wathan Jakarta.

Path