Memorial Diskusi Bersama Almarhum Ust. Hamzani,SQ. ( Pimpinan Redaksi)

banner post atas

Mengingatkan aku saat kita duduk bersama setelah pembacaan Hizib, duduk diskusi di rumah ketua yayasan Mi’rajush Shibyan Nahdlatul Wathan Jakarta, membahas tentang Ulul Albab.

Suaramu yang begitu khas masih terngiang direlung telingaku. Nada-nada tinggi dalam berargumen, mimik muka yang meyakinkan kebenaran terhadap apa yang disampaikan masih tergambar dikelopak mataku.

Kepandaian berargumenmu patut ditiru. tegas, keras dan memukau. Membuat orang harus memperhatikanmu, karena keindahan dalam retorikamu. Pemilihan kata dalam setiap ucapanmu, menjadikan indah kata-katamu.

Iklan

Teringatlah aku, ketika kita mendiskusikan tentang siapa Ulul Alabab itu. Suara lantangmu kembali mencairkan suasana, disaat engkau tidak setuju bahwa Ulil albab adalah orang yang berfikir. Karena kalau hanya berfikir itu namanya ahli fikir belum Ulil Albab.

Kau bacakan kembali surat Ali Imron ayat 190-191. Meyakinkan kepada kami bahwa Ulul Albab bukan sekedar berfikir, akan tetapi lebih dari itu. Mereka mengingat allah /dzikir ketika berdiri, ketika duduk, dan ketika berbaring, serta mereka berfikir atas ciptaan allah (langit dan bumi).

Jadi belum dikatakan Ulul Albab kalau hanya tafakkur. Dan belum juga dikatakan Ulul Albab kalau hanya berzikir. Dapat dikatakan, bahwa Ulul Albab adalah orang yang berfikir dan berzikir. Gabungan antara zikir dan fikir itulah Ulul Albab. Setelah mereka berzikir dan berfikir, barulah mereka mengatakan : ya tuhan kami, tiadalah engkau menciptakan ini sia-sia.

Diskusi ini berjalan sangat lama, sehingga kami tidak sadar waktu telah menunjukkan tengah malam. Diskusi ini terhenti disaat Drs. H. M. Suhaidi, SQ, mengingatkan kami bahwa waktu sudah larut malam, dengan memberi isyarat melalui pukulan tembok.

Mendengar suara itu, kami bertiga (almarhum Ust Hamzani, Ust.Hifzon dan saya), bubar pulang ke tempat masing-masing. (fathi)

Moga Manfaat