Makan sahur merupakan perbuatan yang disunnahkan bagi orang yang hendak melakukan puasa, baik itu puasa Sunnah ataupun puasa yang wajib, dan makan sahur bukan bagian utama yang menjadi penyebab sahnya puasa. Disunnahkan makan sahur, karena hal itu bisa memberikan tenaga bagi orang yang berpuasa, menjadikannya lebih segar dan kuat dalam menjalankan puasa serta menambah kekuatan dalam melakukan berbagai rangkaian ibadah pada siang hari saat dalam keadaan berpuasa.
Kendatipun makan sahur begitu berpengaruh positif terhadap kekuatan dalam menjalankan puasa Ramadhan, namun tidak menjadi bagian penentu dalam sah atau tidaknya puasa. Yang demikian itu karena makan sahur merupakan perkara sunnah, bukan perkara rukun/fardu dalam puasa.
Dari ulasan di atas sudah dapat kita fahami, bahwa makan sahur bukan bagian rukun/fardu dari puasa, sehingga tidak bisa dikaitkan antara makan sahur dengan sah atau tidaknya puasa. Namun bagaimana jadinya jika niatnya makan sahur supaya kuat berpuasa?. Apakah yang demikian itu bisa mewakili niat puasa?.
Untuk memahami permasalahan di atas, ada baiknya terlebih dahulu kita mengklarifikasi antara niat berpuasa dengan niat makan sahur. Adapun niat dalam makan sahur adalah tujuannya supaya makanan yang dimakan menjadi kekuatan dalam menjalankan puasa. Sedangkan niat berpuasa adalah keinginan yang terbersit dalam hati untuk melakukan puasa esok harinya. Niat makan sahur tujuannya biar kuat puasa dan niat puasa tujuannya biar ibadah puasa menjadi Syah. Jadi, antara niat makan sahur supaya kuat puasa dengan Niat melakukan puasa sangat berbeda jauh, sehingga disimpulkan bahwa niat makan biar kuat berpuasa tidak mencukupi kalau ternyata tidak berniat di dalam hati untuk melaksanakan puasa. Artinya, niat makan sahur biar kuat dalam berpuasa tidak bisa mencukupi niat puasa pada esok harinya.
Untuk lebih jelasnya mari kita simak penjelasan dari kitab Fathul Mu’in dalam bab puasa disebutkan sebagai berikut :
ولا يجزئ عنها التسحر وإن قصد به التقوي على الصوم ولا الامتناع عن تناول مفطر خوف الفجر ما لم يخطر بباله الصوم بالصفات التي يجب التعرض له في النية
Makan sahur belum cukup dianggap sebagai niat puasa, sekalipun dimaksudkan guna menghimpun kekuatan berpuasa, demikian pula perbuatan menahan diri dari mengambil sesuatu yang bisa membatalkan puasa karena khawatir jangan-jangan telah datang fajar. Selama tidak tergores didalam hatinya melakukan puasa dengan sifat-sifat wajib yang harus dinyatakan dalam niat berpuasa.
Jadi, dalam pelaksanaan puasa, paling minimal harus ada niat menyengaja melakukan puasa di dalam hati, baru niat puasa dianggap sah.
Perlu difahami, bahwa diantara syarat sahnya puasa adalah adanya niat di dalam hati untuk melakukan puasa. Adapun melafazdkan niatnya dengan menggunakan lisan merupakan perbuatan yang disunnahkan untuk menguatkan niat puasa yang ada di dalam hati.
Wallahu A’lam
Fath




