Majelis Adat Sasak Tegaskan, Maling Bukan Tradisi Perkawinan Adat Sasak

Majelis Adat Sasak Tegaskan, Maling Bukan Tradisi Perkawinan Adat Sasak

Sinar5news.com – Mataram – Maling atau mencuri gadis untuk dinikahi sudah menjadi adat yang melekat dalam kehidupan masyarakat Sasak Lombok Nusa Tenggara Barat (NTB).

Tradisi perkawinan dengan mencuri ini merupakan peristiwa di mana calon mempelai wanita dibawa kabur atau lari dari rumah orang tuanya oleh pihak mempelai laki-laki dan itu biasanya di bantu juga oleh teman-teman si laki-laki tanpa ada pemberitahuan atau permintaan terlebih dahulu dari orang tua si gadis atau calon mempelai wanita tersebut.

Maraknya terjadi perkawinan dalam bentuk mencuri di tengah masyarakat sasak, kini mendapatkan perhatian khusus dari Majelis Adat Sasak. Bahkan Majelis Adat Sasak menegaskan bahwa Maling bukan merupakan tradisi perkawinan adat sasak. Hal ini disampaikan dalam acara Workshop Tradisi Merariq Suku Sasak di Aula SDN 2 Cakranegara, Rabu (24/11/2021).

“Dalam adat sasak ada dikenal juga dengan istilah Taaruf. Taaruf bermakna Perkenalan,
Taaruf merupakan salah satu cara yg di lakoni oleh masyarakat sasak apabila akan melaksanakan perkawinan (pernikahan)”, ucap salah satu Narasumber dari Majelis Adat Sasak, Drs. Lalu Nurudin Marzuki.

Taaruf kata beliau, dilaksanakan sebelum terjadinya pernikahan. Kedua keluarga bertemu saling memperkenalkan antara calon laki-laki dan perempuan. Setelah terjadi taaruf maka keluarga si perempuan akan melaksanakan musyawarah internal apakah diterima atau di tolak atas taaruf dari pihak laki-laki tersebut. Jika diterima maka barulah terjadi lamaran oleh pihak laki-laki kepada pihak perempuan”, jelasnya.

“Jangan sampai ada masyarakat sasak menganggap maling atau memaling atau selarian adalah bentuk pernikahan suku sasak. Maling dalam bahasa sasak memalingkan muka. Maling bukanlah yang utama dalam adat sasak, namun ia bisa terjadi jika ada hal-hal yang menjadi sebab itu terjadi”, tegas Lalu Nurudin.

BACA JUGA  Polsek Tanjung Prioritaskan Kegiatan Rawan Pagi Untuk Antisifasi Laka Lantas
BACA JUGA  Polsek Tanjung Prioritaskan Kegiatan Rawan Pagi Untuk Antisifasi Laka Lantas

Disamping itu, ia juga menerangkan bahwa ada empat pesan leluhur sasak terhadap anaknya ketika akan berangkat menikah ataupun menuntut ilmu. Keempat pesan itu diantaranya:
“Pertama: Lampak wah anakku, dendek lupakan Nenek. Kedua: Jaga Angen (jaga niatmu, berniatlah yang bagus). Ketiga: Jaga Unin (jaga kata-katamu, berkata-katalah yang baik) dan Keempat: Jaga Care (jaga tingkah lakumu, bertingkah lakulah yang baik)”, ujarnya.

Keempat pesan ini lanjut beliau, melambangkan makna sholat yakni Qolbi, Qouli, fi’li. Qolbi terletak pada niat dalam sholat, Qouli terletak pada perkataan/ucapan/lafaz sholat dan Fi’li merupakan perbuatan dalam sholat dari takbiratul ihram hingga salam.

Terakhir ia menegaskan bahwa tidak boleh ada pertentangan antara adat sasak dengan agama.
“tidak boleh adat bertentangan dengan agama. Maka dalam bab pernikahan, masyarakat sasak harus membedakan mana ranah adat dan mana ranah agama”, ucapnya. (Man)

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA