Lalu Tjuck Sudarmadi : Kemana Ummat Moslem Berlabuh?

Lalu Tjuck Sudarmadi : Kemana Ummat Moslem Berlabuh?

Sinar5news.com – Mengambil moment hari keramat, tanggal kelahiran Kanjeng Nabi Muhammad SAW, tanggal 12 Rabiulawal tahun Hijriah hari ini, perlu diisi dengan sholawat dan doa semoga ummat moslem di negeri yang mayoritas penduduknya menganut agama Islam, bahkan ummat moslemnya yang terbesar didunia, semoga makin sadar akan keberadaannya dan mampu menjalankan tuntunan dan teladan Sang Baginda Rasul Kekasih Allah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dan dalam laku dalam hidup keseharian ditengah keberagaman ini.

Semoga juga ummat moslem negeri ini makin sadar arti keberadaannya sebagai mayoritas dalam kehidupan politiknya.
Dalam kehidupan politik itu ummat ini masih merupakan sesuatu yang crusial dan issue strategik untuk dipertimbangkan dan menjadi catatan, bukan lagi untuk direnungkan. Artinya perlu ummat ini menyadari betapa dalam kehidupan berpolitik perlu mengambil langkah dan strategi yang pada gilirannya mengantarkan ummat untuk memegang kekuasaan sehingga pembuatan kebijakan politik untuk mengatur prikehidupan masyarakat akan memberikan kemaslahatan bagi masyarakat khususnya ummat yang masih berjuang untuk mengejar ketertinggalannya dibergai aspek kehidupan.

Kemiskinan, kebodohan sangat dirasakan, demikian juga dalam penguasaan diberbagai aspek dan bidang kehidupan termasuk dalam jabatan jabatan publik strategik dinegeri ini, sangat tertinggal.

Apakah semua itu akibat dari perjuangan politik ummat yang mayoritas ini tidak efektif, tidak padu, tidak bersatu, ataukah karena ummat ini sangat mudah dimanfaatkan dan atau dipecah dan diadu satu dengan yang lain sehingga tidak punya kekuatan atau bargaining politik yang lemah, seolah seperti seperti keping mozaik yang berserakan tidak bermakna.

Sudah saatnya ummat ini harus bangkit dari keterpurukan termasuk dalam politik. Membangkitkan kesadaran bahwa ummat ini masih tertinggal dan perlunya kekuasaan politik di perjuangkan dan diraih. Untuk itu terpulang kepada ummat itu sendiri, oleh karena yang mampu merubah semuanya itu adalah ummat itu sendiri.

Menggapai dan merebut kekuasaan politik diperlukan adanya komitmen para elites dan pemimpin ummat untuk menjadikan hal itu sebagai tujuan bersama, meraih kekuasaan politik yang harus diperjuangkan bersama.

Namun faktanya memang sulit, tapi bukan berarti tidak mungkin dan tidak bisa. Menyongsong Pilpres 2024 yang sudah berproses dan makin terang bahwa ada “tiga” tokoh, kader terbaik bangsa yang akan ditampilkan sebagai pilihan bagi masyarakat pemilih. Tentunya ummat harus memilih Tokoh dengan melihat rekam jejak serta back ground terutama akidah dan pengamalan keagamaannya.

Dalam kaitan ini tentu sebagai ummat moslem yang mayoritas akan memaknai, pesta demokrasi 2024 inilah momentum yang harus diambil untuk mengantarkan tokoh pilihannya, yaitu tokoh yang paling dekat dan bisa mewakili atau sebagai representasi dari aspirasi dan keinginan bathin spritualnya, yang dijadikan symbol perubahan bagi kehidupan ummat yang masih jauh dari harapan. Tokoh pilihan itu sebagai symbol harapan baru yang mampu menangkap dan memaknai aspirasi dan keinginan ummat ini, termasuk kelompok atau golongan miskin yang terpinggirkan.

Dari ketiga tokoh yang diinginkan oleh masyarakat kemudian akan disaring dan ditetapkan oleh penyelenggara pemilu nanti. Bagi ummat moslem sebenarnya telah melakukan pemilihan dengan cara mereka, selama proses menjelang pesta demokrasi 2024 ini. Bagi ummat moslem menentukan pilihan itu lebih mengedepakan “rasa” dan lebih besar kadarnya memilih dengan bahasa hati dan kalimat kalimat spirutual agama yang menyambungkan mereka dengan tokoh pilihannya itu.

Harapan agar ummat moslem mampu meraih kekuasaan politik akan ditentukan oleh hal tersebut diatas. Tentu tidak semua ummat moslem serta merta memilih tokoh yang sama. Tapi satu diantara “ketiga” tokoh pilihan itu akan dipilih oleh mayoritas ummat moslem, terutama yang dalam kesehariannya telah mengenal arti “air pembasuh muka” dan setiap waktu menikmati bila mendengar kalimat kalimat Ilahi, mereka yang selalu bangun malam, bertafakur kepada Sang Maha Pencipta.

Adapun kelompok dan golongan lainnya adalah mereka yang terdampak oleh kebijakan yang membuat mereka makin terhimpit dalam kehidupan keseharian.

Kelompok atau golongan seperti tersebut diatas jumlahnya sangat besar, yang mengukur keberhasilan pembangunan bukan oleh angka dan data stastistik tetapi dengan ukuran sederhana yaitu “apa yang dilihat” artinya mereka langsung melihat betapa dahsyatnya korupsi, menyaksikan perlakuan kasar dan pengusiran terhadap hak dan tanah. Mereka melihat segelintir orang yang pamer kehidupan hedonis, mereka melihat ketimpangan antara mereka dengan orang yang sangat kaya raya.

Selain itu ukuran mereka adalah “apa yang dirasakan” yaitu mereka merasakan harga harga kebutuhan pokok meroket, merasakan sulit mencari pekerjaan dan mendapatkan penghasilan untuk sekedar makan untuk hari ini. Merasakan tarif listrik, air, pendidikan dan kesehatan, tranportasi serta kebutuhan dasar yang makin menghimpit.

Dan ukuran terakhir bagi mereka untuk untuk menilai keberhasilan pembangunan adalah “apa yang dialami” artinya sebagai ckntoh, mereka mengalami diberhentikan dari pekerjaan, di PHK, di gusur paksa, diperlakukan tidak adil bila berhadapan dengan masalah hukum dan yang kebih ironi mereka mengalami mendengar tangis anak mereka karena lapar dan tidak bisa membayar sesuatu untuk mencukupi kebutuhan rumah tangganya, dan sebagainya.

Golongan atau kelompok ini sangat besar jumlahnya dan pastinya akan mencari symbol yang akan mampu dan mau melakukan perubahan untuk meningkatkan kesejahteraan serta mendatangkan rasa keadilan dalam kehidupan mereka.

Sekarang semuanya terpulang kepada para elites dan tokoh tokoh ummat. Apakah akan mengambil kesempatan dan momentum itu untuk melakukan perubahan, atau puas dengan kemapanan dan atau tetap berada dalam arus permainan saat ini karena sudah berada dalam comfort zone, walau tahu bahwa hal itu banyak dikecam dan dihujat, karena system dan kebijakan hanya menghasilkan kesenjangan dan kemiskinan serta ketertinggalan bagi masyarakat terutama ummat moslem.

Now or never. Tapi bila momentum itu tidak dimanfaatkan oleh para elites dan pemimpin ummat, maka tidak mustahil gerakan akar rumput , masyarakat bawah bersama dengan kelas menengah yang sadar dan terpanggil, akan menjalankan skenarionya sendiri, diiringi dan dimotivasi oleh kalimat kalimat Ilahi, pasti pada hari H pemungutan suara akan datang membanjiri tempat pemungutan suara untuk memilih symbol perubahan dan harapan baru pilihan mereka. Bilamana terjadi kecurangan yang masif, akan tampil kekuatan rakyat yang dahsyat, makin membara melawan siapa saja yang menghalangi symbol perubahan dan harapan baru yang mereka mereka idamkan tersebut.

Tuhan Sang Maha Agung, Sang Maha Pencipta, sesungguhnya tidak suka kepada kelompok atau pemimpin yang melakukan perusakan, bukan dalam makna phisik saja tetapi kerusakan dalam tatanan sosial, kepantasan dan kepatutan serta norma yang ada.

Setiap masa ada orangnya dan setiap orang ada masanya. Apakah kamu mampu menghalangi taqdir seseorang dengan kekuasaanmu? Sekalipun kamu rencanakan betapapun rapi dan hebatnya. Tuhanlah Sang Maha Penentu. Yang kamu tidak suka dan tidak inginkan, itulah kadang yang Tuhan taqdirkan untukmu dan untuk kebaikan semua.

Ya Allah, ampunilah hambamu yang kotor dan keji ini. Aamiin YRA.

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA