Sinar5news.com – Demokrasi di Indonesia memasuki phase phenomenal. Kalau sebelumnya masyarakat mengkritik keras adanya praktik politik dinasti, makan dalam beberapa hari ini politik dinasti itu makin memantapkan cengkeramannya dalam demokrasi di negeri ini.
Pada era sejarah, sebelum merdeka, negeri ini menganut politik trah/ dinasti. Memang demikian adanya, karena system ketatanegaraan waktu itu menganut system kerajaan atau kesultanan, jadi yang meneruskan kepemimpinan dan yang menduduki jabatan politis strategik sudah pasti dari trah raja atau sultan. Dan itu dikenal dengan golongan “darah biru”
Perkembangan demokrasi yang disampaikan diatas sebagai phase phenomenal yaitu politik dinasti atau “darah biru” itu kini digantikan oleh politik “darah uang”, politik “darah penguasa”, politik ” darah elit partai”. Bila seseorang ini masuk diantara darah darah tersebut, ada priviledge dan karpet merah untuk mereka, gak perlu melalui berbagai tahapan kaderisasi politik.
Pendidikan politik dan kaderisasi politik masih perlu tetapi hanya untuk golongan “proletar politik” atau golongan “sudra politik”. Itulah kenyataannya. Memang tidak salah bila kita mengacu pada suatu pakem atau kata bijak di dunia politik bahwa ” if you don’t access to money, you are nothing”, bisanya hanya sebagai accesories politik saja.
Namun itu bukan segala-galanya, Sang Maha Pencipta dan Pengatur tentu tidak akan senang bila ada orang orang atau rezim yang melakukan perusakan dan kesewenang-wenangan, pemimpin yang mempraktekkan ownership bukan leadership.
Ingat tiap manusia diciptakanNYA dengan destiny dan taqdirnya masing masing.




